Seusai dari Isra’ Mi’raj


(28)

SETELAH dari Sidratul Muntaha, Baginda Nabi melepas tali Buraq yang parkir di Baitul Maqdis. Di atas Buraq menuju Makkah, dengan kecepatan supercepat, beliau berasa capek akibat perjalanan ajaib sebelumnya dan segenap peristiwa yang menyertainya. 

Di tengah perjalanan, bertemu kafilah dagang Quraisy yang habis kehilangan unta. Mereka tengah beristirahat setelah berhasil menemukan unta, dan beliau numpang istirahat sejenak serta meminta minum pada mereka.

Kemudian Baginda melanjutkan perjalanan dan tiba di Makkah, sebelum waktu Subuh. Beliau sangat lelah, dan saking lelahnya tertidur sejenak. Beliau bangun jelang subuh. Beliau galau dan bingung bagaimana menceritakan peristiwa yang dialami itu kepada khalayak.  

Beliau duduk seorang diri. Beliau mesti menyampaikan peristiwa yang baru dialaminya kepada khalayak ramai. Karena itu sebuah kebenaran dan harus disampaikan.

Sebagaimana biasa, pada pagi hari, sekeliling Ka’bah menjadi tempat para pengajar kaum Quraisy berkumpul. Abu Jahal pun tidak ketinggalan sudah ada di situ dengan congkak dan sombongnya. Begitu melihat Nabi Saw. ia menghampiri, “Hai Muhammad! Kenapa tampak bingung? Adakah suatu perkara yang baru lagi?”

“Ya, aku baru mendapat suatu perkara yang baru!” jawab beliau.

“Perkara apa Muhammad, coba ceritakan!” tanya Abu Jahal.

“Semalam aku pergi jauh.”

“Pergi ke mana?”

“Ke Baitul Maqdis.”

“Kamu pergi ke Baitul Maqdis dan pagi ini sudah ada di sini?” 

“Ya, semalam aku ke Baitul Maqdis.”

Abu Jahal heran dan menggeleng-gelengkan kepala, “Muhammad, apakah perkataanmu benar? Padahal kamu semalam di Hathim bukan? Mengapa kamu berani mengatakan pergi ke Baitul Maqdis?”

Memang, pada malamnya, Baginda Nabi berada di Hathim, di dekat Ka’bah. Abu Jahal mengetahui bahwa beliau pada malam itu ada di Hathim. 

Tebersit dalam benak Abu Jahal untuk mempermalukan Nabi di hadapan banyak orang. Maka, ia berkata, “Apakah kamu berani menyatakan demikian di depan banyak orang? Jika kamu berani, aku akan memanggil mereka. Apabila mereka telah datang kemari, katakanlah kepada mereka seperti yang kamu katakan kepadaku.” 

Abu Jahal pergi memanggil para pemuka Quraisy, baik yang ada di sekitar Ka’bah maupun yang masih ada di rumah masing-masing. Dalam waktu singkat, mereka datang berduyun-duyun di hadapan sang Baginda. Kemudian Abu Jahal meminta beliau mengatakan apa-apa yang persis dikatakan kepadanya. 

“Aku semalam pergi ke luar negeri, yaitu ke Baitul Maqdis.” Jujur sang Baginda.

“Semalam kamu ke Baitul Maqdis, padahal pagi ini kamu di sini?” heran mereka.

Sontak gemparlah suasana pagi itu. Sebagian di antara mereka ada yang mengejek, sebagian lagi ada yang bertepuk tangan, sebagian yang lain tertawa terbahak-bahak. Apalagi Abu Jahal yang berasa punya amunisi untuk mengejek beliau, dengan lantang berkata, “Wah, Muhammad itu memang ada-ada saja yang dikatakannya!”

Selanjutnya Abu Jahal dan kawan-kawannya pergi ke rumah Abu Bakar. Sesampai di sana, Abu Jahal berkata, “Abu Bakar, bagaimanakah pendapatmu tentang perkataan Muhammad yang paling kamu cintai itu bahwa ia semalam ke Baitul Maqdis, dan pagi ini sudah di Makkah.”

Abu Bakar bertanya balik, “Apakah ia berkata demikian?”

“Ya,” jawab Abu Jahal, “sungguh ia berkata begitu di muka orang banyak di depan Ka’bah. Kami minta engkau datang ke sana untuk mendengarkan sendiri perkataannya.”

“Jika betul ia berkata demikian,” kata Abu Bakar, “ia sungguh benar dan tidak akan berdusta.”

“Apakah kamu membenarkan perkataannya,” tukas Abu Jahal, “bahwa ia semalam telah pergi ke Baitul Maqdis dan sebelum pagi ia telah kembali ke Masjidil Haram?”

“Ya, aku membenarkan perkataannya dan aku akan membenarkan dia meskipun lebih jauh dari itu. Aku akan membenarkan berita dari langit, baik di waktu pagi maupun sore, yang datang darinya.” Tegas Abu Bakar.

Ungkapan Sayidina Abu Bakar itu menuntun kita hari-hari ini. Ada kaidah dari beliau untuk memahami riwayat metafisik adalah tawaqquf (stop) dengan makna teks, tidak usah dianalisa makna-maknanya, tanpa ta’wil kecuali ada support dalil penjelas.

Kemudian Abu Bakar bersama mereka datang ke Ka’bah. Detik selanjutnya mereka turut mendengar Muth’im bin Adi yang membantah perkataan Baginda Nabi. 

Kebetulan Nabi sedang dibantah Muth’im bin Adi. “Urusanmu sebelum hari ini adalah urusan yang mudah, kecuali perkataanmu hari ini.” Kata Muth’im. “Kami biasa berjalan pergi ke Baitul Maqdis dengan berkendaraan unta yang sangat cepat. Berangkatnya sebulan dan kembalinya sebulan pula. Sekarang, engkau mengatakan bahwa engkau telah pergi ke sana dalam tempo satu malam. Demi Latta dan Uzza, sungguh aku tidak membenarkanmu dan tidak pula akan membenarkan apa-apa yang akan kamu katakan sedikit pun.”

Mendengar itu, Abu Bakar segera menyahut, “Hai Muth’im! Amat jeleklah apa yang kaukatakan kepada anak saudaramu laki-laki itu. Kamu menghadapkan mukamu kepadanya dengan kebencian dan kamu mendustakannya. Aku bersaksi bahwa dia benar.”

“Percayakah engkau,” tukas Muth’im, “bahwa ia berangkat ke Baitul Maqdis semalam dan telah kembali sebelum fajar?”

“Ya!” sahut Abu Bakar, “bahkan aku juga percaya akan apa saja yang lebih jauh daripada itu. Aku percaya kepadanya tentang langit, perginya dan kembalinya. Mengapa aku tidak percaya akan rahmat yang dikaruniakan Allah kepadanya, yang hanya dengan dipindahkan-Nya ke tempat sebulan perjalanan?”

Kaum Quraisy biasa berniaga ke Baitul Maqdis atau ke Syams, sehingga mereka mengetahui keadaan Baitul Maqdis. Dan karena mereka tahu pula, bahwa Baginda Nabi belum pernah melihat Baitul Maqdis. Maka, sebagian dari mereka menguji beliau tentang keadaan Baitul Maqdis, dan satu per satu dijawab oleh Nabi dengan tenang karena Allah seketika itu menyuruh malaikat Jibril untuk memperlihatkan keadaan Baitul Maqdis kepada beliau. 

Demikian. []    

Posting Komentar

0 Komentar