Surah Al-Qiyamah [75] ini diwahyukan pada sepertiga pertama periode Makkah, dan hampir seluruhnya (kecuali pasase sisipan pada ayat 16-19) membicarakan konsep kebangkitan, yang mendasari “nama” tradisional surah ini.
Tidak! Aku bersaksi demi Hari Kebangkitan! Akan
tetapi, tidak! Aku bersaksi dengan suara hati nurani manusia sendiri
yang menyalahkan! (Al-Qiyamah [75]: 1-2)
Dengan “menyeru untuk menyaksikannya”—yakni, dengan
berbicara tentang Hari Kebangkitan seolah-olah ia telah terjadi—frasa di atas
dimaksudkan untuk menyampaikan kepastian datangnya kebangkitan itu.
Lit., “jiwa yang mencela [dirinya sendiri]”, yakni,
pengetahuan bawah-sadar manusia akan kelemahan dan kekurangannya sendiri.
Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak dapat (membangkitkannya
dan) mengumpulkan kembali tulang belulangnya? Ya, sungguh, Kami
benar-benar mampu menjadikan ujung jari-jemarinya utuh kembali! (Al-Qiyamah
[75]: 3-4)
Meskipun demikian, manusia memilih untuk menolak apa yang
ada di hadapannya, seraya bertanya [dengan nada mengejek], “Kapan
Hari Kebangkitan itu terjadi?” (Al-Qiyamah [75]: 5-6)
Namun [pada Hari itu], ketika pandangan
mata terbelalak karena takut, dan bulan menjadi gelap, dan matahari serta bulan
dikumpulkan—pada Hari itu, manusia akan berseru, “Ke mana harus
berlari?” (Al-Qiyamah [75]: 7-10)
“Matahari dan bulan dikumpulkan” yakni, sama-sama kehilangan
cahaya, atau bulan bertabrakan dengan matahari.
Namun, tidak: [bagimu, wahai manusia] tidak ada tempat
berlindung! Kepada Pemeliharamulah, pada Hari itu, perjalanan akan berujung!
(Al-Qiyamah [75]: 11-12)
Manusia akan diberi tahu, pada Hari itu, tentang apa yang
telah dia kerjakan serta apa yang tidak dia kerjakan: tidak, tetapi terhadap
dirinya sendirilah manusia akan menjadi saksi, meskipun boleh jadi dia menutupi
dirinya dengan berbagai dalih. (Al-Qiyamah [75]: 13-15)
Lit., “apa yang telah dia dahulukan dan tinggalkan”, yakni,
perbuatan baik dan buruk apa pun yang telah dilakukan atau tidak dilakukan oleh
manusia (Al-Zamakhsyari).
Kemudian pada ayat 15, bisa kita bandingakn dengan surah
Yasin [36]: 65, “Pada Hari itu, akan Kami bungkam mulut mereka—tapi
tangan-tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi
kesaksian terhadap apa pun yang dahulu mereka peroleh [dalam kehidupan].
Juga dalam surah Al-Nur [24]: 24, “pada hari ketika
lidah, tangan, dan kaki mereka akan memberi kesaksian melawan mereka dengan
[mengingatkan] apa yang mereka telah perbuat.
Atau dalam surah Fushshilat [41]: 20-22, “Hingga, ketika
mereka mendekatinya, pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka [sendiri]
akan memberi kesaksian melawan mereka, dengan menceritakan apa yang telah
mereka kerjakan [di muka bumi]. Dan, mereka akan bertanya kepada
kulit mereka, “Mengapa kalian memberi kesaksian melawan kami?”—[dan
kulit] ini akan menjawab, “Allah, yang membuat segala sesuatu berbicara,
telah membuat kami berbicara [pula]: sebab, Dia [itulah
yang] telah menciptakan kalian pada kali pertama—dan kepada-Nya [sekarang]
kalian dikembalikan. Dan, kalian tidak mencoba menyembunyikan [dosa-dosa
kalian] untuk mencegah pendengaran, penglihatan, dan kulit kalian
memberi kesaksian melawan kalian: tidak, tetapi kalian menduga bahwa Allah
tidak banyak mengetahui tentang apa yang kalian perbuat.”
Demikian, penjelasan dari Muhammad Asad. []
Baca juga: Malapetaka yang Tiba-tiba

0 Komentar