Matahari (2)

Menyinggung kisah tentang kaum Tsamud, betapa Nabi Saleh menghadapi orang-orang yang sombong, menindas orang-orang miskin dan tidak mengakui hak-hak mereka untuk mendapatkan air dan padang rumput untuk ternak.

Mereka bersekongkol hendak membunuh unta dengan mengirim orang yang paling jahat di antara mereka untuk menantang dan melakukan perbuatan durhaka. Unta betina dibunuh ketika sedang minum di tempat air.

كَذَّبَتۡ ثَمُودُ بِطَغۡوَىٰهَآ --- إِذِ ٱنۢبَعَثَ أَشۡقَىٰهَا --- فَقَالَ لَهُمۡ رَسُولُ ٱللَّهِ نَاقَةَ ٱللَّهِ وَسُقۡيَٰهَا

Kebenaran [ini] telah [kaum] Tsamud dustakan lantaran sikap sombong mereka yang keterlaluan, --- ketika orang yang paling celaka di antara mereka bergegas maju [untuk melakukan perbuatan jahatnya], --- meskipun rasul Allah telah berkata kepada mereka, “Ini adalah unta betina milik Allah, maka biarkanlah ia minum [dan jangan sakiti ia]! (al-Syams [91]: 11-13)

Kisah kaum Tsamud itu merupakan gambaran potensi manusia melakukan kejahatan, bisa dilihat surah al-A’raf [7]: 73-79. Termasuk mengenai “unta betina milik Allah” yang merupakan ungkapan bahwa binatang tersebut tidak dimiliki oleh siapa pun dan, karena itu, seharusnya ia dipelihara oleh seluruh suku.

Dan mengenai rujukan khusus pada perintah “Biarkan ia minum”, lihat surah al-Syu’ara [26]: 155, bahwa pada hari-hari yang sudah ditentukan untuk memberi minum unta-unta—sebagaimana tradisi kesukuan Arab kuno—mengimplikasikan unta betina yang tak bertuan harus menerima pembagian air yang sempurna bersama-sama dengan kumpulan dan kawanan hewan lainnya yang dimiliki oleh suku itu.

Sehingga, rumusan ayat dalam surah al-Syams ini menunjukkan bahwa riwayat unta betina telah dikenal dengan baik oleh bangsa Arab pada masa pra-Islam.

فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمۡدَمَ عَلَيۡهِمۡ رَبُّهُم بِذَنۢبِهِمۡ فَسَوَّىٰهَا --- وَلَا يَخَافُ عُقۡبَٰهَا

Namun, mereka mendustakan rasul itu dan menyembelih unta betina itu dengan kejam—kemudian Pemelihara mereka menimpakan mereka dengan kehancuran yang sehancur-hancurnya disebabkan dosa mereka, membinasakan mereka seluruhnya: --- sebab, tidak seorang pun [dari mereka] merasa takut terhadap apa yang mungkin menimpa mereka. (al-Syams [91]: 14-15)

Ini menyiratkan: tiadanya rasa belas kasihan sama sekali terhadap ciptaan Allah menunjukkan bahwa mereka tidak takut terhadap balasan hukuman-Nya dan, karena itu, memperlihatkan betapa mereka tidak benar-benar memercayai-Nya.

Demikian. []

Baca juga: Matahari (1)

Posting Komentar

0 Komentar