Menyinggung kisah tentang kaum Tsamud, betapa Nabi Saleh menghadapi orang-orang yang sombong, menindas orang-orang miskin dan tidak mengakui hak-hak mereka untuk mendapatkan air dan padang rumput untuk ternak.
Mereka bersekongkol hendak membunuh unta dengan mengirim
orang yang paling jahat di antara mereka untuk menantang dan melakukan
perbuatan durhaka. Unta betina dibunuh ketika sedang minum di tempat air.
كَذَّبَتۡ ثَمُودُ بِطَغۡوَىٰهَآ --- إِذِ ٱنۢبَعَثَ أَشۡقَىٰهَا
--- فَقَالَ لَهُمۡ رَسُولُ ٱللَّهِ نَاقَةَ ٱللَّهِ وَسُقۡيَٰهَا
Kebenaran [ini] telah [kaum] Tsamud
dustakan lantaran sikap sombong mereka yang keterlaluan, --- ketika
orang yang paling celaka di antara mereka bergegas maju [untuk melakukan
perbuatan jahatnya], --- meskipun rasul Allah telah berkata
kepada mereka, “Ini adalah unta betina milik Allah, maka
biarkanlah ia minum [dan jangan sakiti ia]! (al-Syams [91]: 11-13)
Kisah kaum Tsamud itu merupakan gambaran potensi manusia
melakukan kejahatan, bisa dilihat surah al-A’raf [7]: 73-79. Termasuk mengenai “unta
betina milik Allah” yang merupakan ungkapan bahwa binatang tersebut tidak
dimiliki oleh siapa pun dan, karena itu, seharusnya ia dipelihara oleh seluruh
suku.
Dan mengenai rujukan khusus pada perintah “Biarkan ia
minum”, lihat surah al-Syu’ara [26]: 155, bahwa pada hari-hari yang sudah
ditentukan untuk memberi minum unta-unta—sebagaimana tradisi kesukuan Arab
kuno—mengimplikasikan unta betina yang tak bertuan harus menerima pembagian air
yang sempurna bersama-sama dengan kumpulan dan kawanan hewan lainnya yang
dimiliki oleh suku itu.
Sehingga, rumusan ayat dalam surah al-Syams ini menunjukkan
bahwa riwayat unta betina telah dikenal dengan baik oleh bangsa Arab pada masa
pra-Islam.
فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمۡدَمَ عَلَيۡهِمۡ رَبُّهُم بِذَنۢبِهِمۡ
فَسَوَّىٰهَا --- وَلَا يَخَافُ عُقۡبَٰهَا
Namun, mereka mendustakan rasul itu dan menyembelih unta
betina itu dengan kejam—kemudian Pemelihara mereka menimpakan mereka dengan
kehancuran yang sehancur-hancurnya disebabkan dosa mereka, membinasakan mereka
seluruhnya: --- sebab, tidak seorang pun [dari mereka] merasa
takut terhadap apa yang mungkin menimpa mereka. (al-Syams [91]: 14-15)
Ini menyiratkan: tiadanya rasa belas kasihan sama sekali
terhadap ciptaan Allah menunjukkan bahwa mereka tidak takut terhadap balasan
hukuman-Nya dan, karena itu, memperlihatkan betapa mereka tidak benar-benar
memercayai-Nya.
Demikian. []

0 Komentar