Matahari (1)

Kata kunci yang digunakan untuk mengidentifikasi surah al-Syams [91] ini terdapat dalam ayat pertama. Dan kemudian, surah ini diwahyukan tidak lama sesudah surah al-Qadr [97].

Serta perlu dicatat bahwa ayat 1-10 surah ini menekankan polaritas—baik yang bersifat jasmani maupun ruhani—yang ada dalam seluruh ciptaan dan membedakannya dengan keesaan dan keunikan Sang Pencipta. 

وَٱلشَّمۡسِ وَضُحَىٰهَا --- وَٱلۡقَمَرِ إِذَا تَلَىٰهَا

Perhatikanlah mentari dan terangnya yang menyinari, --- dan bulan tatkala ia memantulkan (sinar) mentari! (al-Syams [91]: 1-2)

Lit.dalam ayat 2, “tatkala ia mengikutinya (talaha)”, yakni matahari. Menurut filolog terkemuka Al-Farra’ yang hidup pada abad ke-2 hijrah, “makna ungkapan itu ialah bulan memperoleh cahayanya dari matahari”.

وَٱلنَّهَارِ إِذَا جَلَّىٰهَا --- وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰهَا

Perhatikanlah siang tatkala ia menampakkan dunia, --- dan malam tatkala ia menyelimutinya dengan gelap! (al-Syams [91]: 3-4)

Lit. dalam ayat 3, “menampakkannya” (jallaha)—kata ganti “nya” (ha) di sini jelas mengacu pada “dunia” atau “bumi”.

وَٱلسَّمَآءِ وَمَا بَنَىٰهَا --- وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا طَحَىٰهَا

Perhatikanlah langit dan penciptaannya yang menakjubkan, --- dan bumi serta seluruh hamparannya! (al-Syams [91]: 5-6)

Lit. dalam ayat 5, “dan apa yang telah membangunnya”—yakni, kualitas-kualitas menakjubkan yang bertanggung jawab atas terciptanya keserasian dan kesepadanan kosmos yang tampak (yang jelas merupakan arti dari istilah sama’ dalam konteks ini).

Demikian pula dengan penyebutan kata bumi pada bagian berikutnya, yang secara harfiah berbunyi, “apa yang menghamparkannya”, dengan jelas merupakan alusi tentang kualitas-kualitas yang bertanggung jawab atas terciptanya keindahan dan keanekaragaman hamparannya.

وَنَفۡسٖ وَمَا سَوَّىٰهَا --- فَأَلۡهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقۡوَىٰهَا

Perhatikanlah diri manusia dan bagaimana dia dibentuk sesuai dengan apa yang telah ditentukan baginya, --- dan bagaimana diri itu diilhami dengan kelemahan-kelemahan akhlak serta dengan kesadaran akan Allah! (al-Syams [91]: 7-8)

Sebagaimana terdapat dalam begitu banyak contoh lainnya, istilah nafs, yang memiliki cakupan arti sangat luas, di sini berarti diri atau pribadi manusia sebagai suatu keseluruhan: yakni, suatu wujud yang terdiri atas tubuh jasmani dan sari-kehidupan (life-essence) yang sulit untuk dijelaskan, yang secara longgar digambarkan sebagai “jiwa” (soul).

Lit. dalam ayat 7, “dan apa yang telah membuat [atau ‘membentuk’]-nya (sawwaha) sesuai dengan …”, dan seterusnya. Bahwa penyebutan tentang manusia dan apa yang membentuk “pribadi manusia”, serta pembicaraan tersirat tentang suatu entitas hidup yang merupakan fenomena yang sangat kompleks itu (yang di dalamnya kebutuhan dan hasrat jasmani, aktivitas emosi dan intelektual saling terjalin sedemikian erat sehingga tidak dapat dipisahkan) dilakukan setelah disampaikannya seruan untuk memperhatikan kebesaran alam semesta yang sulit dijelaskan itu—sejauh ia berada dalam jangkauan persepsi dan pemahaman manusia—sebagai bukti yang sangat menakjubkan tentang kekuasaan Allah dalam mencipta.

Kemudian secara harfiah pada ayat 8, “dan [perhatikanlah] apa yang mengilhaminya dengan perbuatan-perbuatan tak bermoral (fujuraha) dan kesadaranya akan Allah (taqwaha)”—yakni, kenyataan bahwa manusia mungkin saja naik hingga mencapai tingkatan ruhani yang tinggi ataupun terjatuh ke dalam tingkatan yang sangat tidak bermoral merupakan suatu karakteristik dasar dari watak manusia.

Dalam pengertian terdalamnya, kemampuan manusia untuk berlaku salah adalah sejalan dengan kemampuannya untuk berlaku benar: dengan kata lain, polaritas kecenderungan (polarity of tendencies) yang inheren dalam diri manusia itulah yang membuat setiap pilihan yang “benar” itu menjadi bernilai dan, dengan demikian, menganugerahi menusia dengan kehendak bebas moral (moral free will).

Terkait kehendak bebas moral ini bisa kita tengok kisah “kejatuhan” Adam dan Hawa (yang merupakan alegori dari takdir manusia). Betapa dalam keadaan tanpa dosanya yang terdahulu, manusia tidak sadar akan adanya kejahatan dan, oleh karenanya, tidak menyadari keharusan untuk senantiasa membuat pilihan di antara berbagai kemungkinan tindakan dan tingkah laku: dengan kata lain, dia hidup hanya dengan menggunakan instingnya seperti binatang lainnya.

Bagaimanapun, karena keadaan tidak berdosa ini hanya merupakan suatu kondisi dari keberadaannya, dan bukan merupakan sebuah kebajikan, hal itu menjadikan kehidupannya bersifat statis sehingga menghindarkannya dari perkembangan moral dan intelektual.

Pertumbuhan kesadaran ini—yang disimbolkan dengan pembangkangan yang disengaja terhadap perintah Tuhan—telah mengubah semua itu. Kesadaran ini mengubahnya dari makhluk yang hanya mengandalkan insting menjadi entitas manusia yang utuh serbagaimana yang kita kenal—manusia yang mampu membedakan antara yang benar dan yang salah, dan kemudian memilih jalan hidupnya.

Dalam pengertian yang lebih dalam, alegori tentang “kejatuhan” bukanlah menggambarkan sebuah kejadian pada masa lalu, melainkan lebih merupakan penjelasan tentang tingkatan baru dari perkembangan manusia: yakni, terbukanya gerbang menuju pertimbangan moral.

Dengan melarang manusia “mendekati pohon ini”, Allah memungkinkan manusia untuk melakukan perbuatan salah—dan, karena itu, juga untuk melakukan perbuatan benar: dengan demikian, manusia dianugerahi kebebasan untuk memilih secara moral, hal yang membedakannya dari seluruh makhluk lainnya. 

قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا --- وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا

Kebahagiaanlah yang pasti akan diraih oleh orang yang menyebabkan [diri] itu tumbuh dalam kesucian, --- dan benar-benar merugilah orang yang menguburnya [dalam kegelapan]. (al-Syams [91]: 9-10)

Demikian, terjemahan dan ulasan dari Muhammad Asad. []

Baca juga: Takdir

Posting Komentar

0 Komentar