Surah al-Qadr [97] ini termasuk ke dalam kelompok surah yang diwahyukan pada periode Makkah paling awal.
إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ
Perhatikanlah, telah Kami turunkan [kitab Ilahi]
ini pada Malam Takdir. (al-Qadr [97]: 1)
Atau: “Malam Kemahakuasaan” atau “Kemuliaan”—dengan
demikian, menggambarkan malam ketika Nabi Muhammad menerima wahyu pertamanya.
Berdasarkan sejumlah hadis, dapat diperkirakan bahwa malam itu merupakan salah
satu dari sepuluh malam terakhir—mungkin malam kedua puluh tujuh—bulan
Ramadhan, 13 tahun sebelum hijrah Nabi ke Madinah.
وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ
Dan, apa yang dapat membuat engkau bisa membayangkan
apakah Malam Takdir itu? (al-Qadr [97]: 2)
لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٞ مِّنۡ --- أَلۡفِ
شَهۡرٖ تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بِإِذۡنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمۡرٖ --- سَلَٰمٌ
هِيَ حَتَّىٰ مَطۡلَعِ ٱلۡفَجۡرِ
Malam Takdir adalah lebih baik daripada seribu bulan: ---
pada malam itu, turunlah dengan berbondong-bondong para malaikat membawa ilham
Ilahi dengan seizin Pemelihara mereka; dari segala [kejahatan] yang
mungkin terjadi, --- malam itu aman higga terbitnya fajar. (al-Qadr [97]:
3-5)
Secara tersirat, “yang tidak ada malam yang serupa
dengannya”.
Bentuk gramatikal kata tanazzalu menyiratkan
pengulangan, keseringan, atau jumlah yang banyak, karena itu—sebagimana dikemukakan
oleh Ibnu Katsir—kata itu diterjemahkan menjadi “turun dengan
berbondong-bondong”.
Lit., “dan ilham [Ilahi]”, untuk terjemahan kata ruh,
pada ayat ini merupakan paling awal oleh al-Qur’an dalam pengertian “ilham
Ilahi”.
Lit., “{adalah} keselamatan” (salam), yakni, membuat
orang beriman aman dari segala keburukan ruhani. Sehingga, dengan jelas
menyiratkan bahwa kesadaran sepenuhnya terhadap kesucian malam itu menjadi
perisai melawan pikiran-pikiran dan kecenderungan-kecenderungan yang tidak
pantas.
Demikian terjemahan dan ulasan dari Muhammad Asad.

0 Komentar