Berikut terjemahan surah al-Buruj [85]: 4-11 oleh Muhammad Asad, sebagaimana termaktub dalam The Message of the Quran.
قُتِلَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأُخۡدُودِ --- ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلۡوَقُودِ
Mereka [hanyalah] membinasakan diri mereka
sendiri, mereka yang hendak menyiapkan lubang --- [lubang] api yang
berkobar-kobar dengan dahsyat [bagi semua orang yang telah meraih iman]!
(al-Buruj [85]: 4-5)
Ungkapan qutila secara harfiah berarti “dia telah
dibunuh” atau, sebagai kalimat kutukan, “semoga dia dibunuh”. Karena penerjemahan
ungkapan ini secara harfiah—baik dipahami sebagai suatu pernyataan factual maupun
sebagai kutukan—dalam hal ini tidak akan bermakna apa pun, banyak mufasir (di
antaranya al-Thabari) memahaminya dalam pengertian “dia tertolak dari rahmat Allah”,
yakni, “dibunuh” secara spiritual oleh tindakan atau sikapnya sendiri,
karenanya, Muhammad Asad menerjemahkannya menjadi, “dia membinasakan dirinya sendiri”.
Lit., “mereka yang bertanggung jawab (ashhab) atas
lubang api yang bahan bakarnya melimpah”. Dalam rangka menjelaskan pasase yang
bersifat perumpamaan ini, para mufasir menafsirkan ayat ini dalam bentuk waktu
lampau—hal yang sebenarnya tidak perlu—dan mengemukakan riwayat-riwayat yang
paling kontradiktif, yang dimaksudkan untuk “mengidentifikasi” orang-orang
zalim itu dalam kerangka historis.
Dan hasilnya adalah rentetan kisah yang merentang dari pengalaman
Nabi Ibrahim a.s. dengan kaumnya yan merupakan penyembah berhala (bisa dibaca
surah al-Anbiya’ [21]: 68-70) hingga riwayat Bibel tentang upaya Nebukadnezar
untuk membakar tiga orang Israil yang saleh
dalam tungku perapian; atau penyiksaan terhadap orang-orang Kristen
Najran oleh Raja Yaman, Dzu Nawas (yang beragama Yahudi), pada abad ke-6
Masehi; atau kisah yang seluruhnya bersifat apokrif {yaitu, sesuatu yang
dipercayai secara luas, tetapi kebenarannya masih diragukan} tentang seorang
raja Zoroaster yang membakar hingga mati rakyatnya yang menolak untuk menerima
ajarannya, yang menyatakan bahwa perkawinan antara saudara laki-laki dan
perempuan “diperbolehkan oleh Tuhan”; dan seterusnya.
Tentu saja, tidak satu pun riwayat-riwayat tersebut perlu
dipertimbangkan secara serius dalam
konteks ini. Pada kenyataannya, fakta bahwa tidak disebutkan secara khusus
orang-orang zalim yang dirujuk dalam ayat al-Qur’an di atas menunjukkan bahwa
di sini kita disuguhi dengan sebuah kisah perumpamaan, dan bukan sebuah rujukan
terhadap peristiwa-peristiwa “historis” ataupun bahkan peristiwa-peristiwa yang
berupa legenda.
Para pelaku penyiksaan itu adalah orang-orang yang tidak
memiliki iman dan benci melihat keimanan bersemayam dalam hati orang lain (baca
ayat 8); “lubang api” adalah perumpamaan tentang penyiksaan terhadap pihak
kedua oleh pihak pertama: suatu fenomena yang tidak terbatas pada zaman atau
masyarakat tertentu, tetapi terus berlangsung dalam berbagai bentuk dan dengan
tingkat yang bervariasi di sepanjang catatan sejarah.
إِذۡ هُمۡ عَلَيۡهَا قُعُودٞ --- وَهُمۡ عَلَىٰ مَا يَفۡعَلُونَ
بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ شُهُودٞ --- وَمَا نَقَمُواْ مِنۡهُمۡ إِلَّآ أَن يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ
ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ --- ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ وَٱللَّهُ
عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ
Lihatlah! [Dengan riang gembira] mereka
menatap [api] itu, --- sepenuhnya sadar denga napa yang
tengah mereka lakukan terhadap orang-orang beriman, --- yang mereka benci
tanpa alasan lain kecuali karena mereka beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa,
yang kepada-Nya segala pujian patut dihaturkan, --- [dan] Yang
Memiliki Kekuasaan atas lelangit dan bumi. Namun, Allah adalah Maha Penyaksi
atas segala sesuatu! (al-Buruj [85]: 6-9)
إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُواْ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ثُمَّ
لَمۡ يَتُوبُواْ فَلَهُمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمۡ عَذَابُ ٱلۡحَرِيقِ
Sungguh, adapun orang-orang yang menganiaya laki-laki
beriman dan perempuan beriman, kemudian tidak bertobat, penderitaan mereka
menanti mereka: ya, penderitaan karena api menanti mereka! (al-Buruj [85]:
10)
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ
تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ
[Namun] sungguh, orang-orang yang meraih iman dan
mengerjakan perbuatan-perbuatan saleh
akan memperoleh [dalam kehidupan akhirat] taman-taman yang dialui aliran
sungai-sungai—itulah kemenangan yang paling besar! (al-Buruj [85]: 11)
Hampir pasti bahwa ini merupakan penyebutan al-Qur’an yang
paling awal tentang “taman-taman yang dilalui aliran sungai-sungai” sebagai
suatu alegori tentang kebahagiaan yang menanti orang-orang saleh di dalam
kehidupan akhirat.
Demikian! []

0 Komentar