Yang Mengingkari Kebenaran

Surah al-Kafirun [109] ini diwahyukan tidak lama setelah surah al-Ma’un [107].

قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ, Katakanlah: “Wahai, kalian yang mengingkari kebenaran! (al-Kafirun [109]: 1)

لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ --- وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ, “Aku tidak menyembah apa yang kalian sembah, --- dan kalian tidak pula menyembah apa yang aku sembah. (al-Kafirun [109]: 2-3)

Dalam terjemahan di atas, partikel ma (apa) pada satu sisi mengacu kepada sema konsep positif dan nilai etis—seperti, beriman kepada Allah dan berserah diri kepada-Nya—dan, pada sisi lainnya, juga mengacu kepada objek-objek sembahan batil dan nilai-nilai yang salah, seperti kepercayaan manusia yang menyangka bahwa dia “serbacukup” (seperti dalam surah al-‘Alaq [96]: 6-7) atau mengacu kepada “keserakahan untuk selalu memperoleh lebih banyak lagi” (surah al-Takatsur [102]) yang begitu menguasai—dan nyaris mengobsesi—jiwa manusia.

وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٞ مَّا عَبَدتُّمۡ --- وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ, “Dan aku tidak akan menyembah apa yang [senantiasa] kalian sembah, --- dan kalian tidak pula akan [pernah] menyembah apa yang aku sembah. (al-Kafirun [109]: 4-5)

Yakni, “sepanjang kalian tidak bersedia meninggalkan nilai-nilai batil yang menyebabkan kalian mengingkari kebenaran”.

لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ, “Untuk kalian, hukum moral kalian, dan untukku, hukum moralku!” (al-Kafirun [109]: 6)

Maka, pokok din adalah adalah “kepatuham”; khususnya kepatuhan pada hukum atau pada apa yang dipahami sebagai sebuah sistem norma yang mapan—dan, karenanya, mengikat—yakni, sesatu yang disokong dengan otoritas moral: jadi, “agama”, “kepercayaan”, atau “hukum keagamaan” dalam pengertiannya yang terluas, atau cukup “hukum moral” saja, sebagaimana disebutkan di atas dan juga pada surah al-Syura [42]: 21, al-Tin [95]: 7, al-Bayyinah [98]: 5, atau al-Ma’un [107]: 1.

أَمۡ لَهُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُۚ وَلَوۡلَا كَلِمَةُ ٱلۡفَصۡلِ لَقُضِيَ بَيۡنَهُمۡۗ وَإِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ, Apakah karena mereka [yang hanya peduli terhadap dunia ini] percaya kepada kekuatan-kekuatan yang diduga berserikat dalam ketuhanan Allah, yang menetapkan bagi mereka, sebagai hukum moral, sesuatu yang tidak pernah Allah perkenankan? Adapun seandainya bukan karena ketetapan [Allah] mengenai penilaian akhir, semuanya pasti telah diputuskan di antara mereka [di dunia ini]: namun, sungguh, penderitaan yang pedih [dalam kehidupan akhirat] menanti orang-orang zalim. (al-Syura [42]: 21).

فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعۡدُ بِٱلدِّينِ, lalu, [wahai manusia] apakah yang dapat menyebabkan engkau mendustakan hukum moral ini? (al-Tin [95]: 7).

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ, padahal, mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah, tulus dalam keyakinan mereka kepada-Nya semata, berpaling dari segala sesuatu yang batil; dan agar hendaknya mereka berteguh mendirikan shalat; dan agar hendaknya mereka mengeluarkan derma: sebab, inilah hukum moral yang lurus dan jelas selama-lamanya. (al-Bayyinah [98]: 5).

أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ, pernahkah engkau perhatikan [jenis orang] yang mendustakan seluruh hukum moral? (al-Ma’un [107]: 1).

Demikian penjelasan dari Muhammad Asad sebagaimana termaktub dalam The Message of the Quran. []

Baca juga: Bantuan

Posting Komentar

0 Komentar