Gajah

Surah yang namanya diambil dari ungkapan “Pasukan Bergajah” (ashhab al-fil) yang disebut dalam ayat pertama ini berbicara secara tidak langsung tentang gerakan pasukan Abyssinia ketika menyerang Makkah pada 570 M.

Abrahah, Gubernur Kristen dari Yaman (yang pada masa itu diperintah oleh kaum Abyssinia), membangun sebuah gereja katedral besar di San’a dengan harapan dapat mengalihkan ziarah tahunan bangsa Arab dari tempat suci di Makkah, Ka’bah, ke gereja baru itu.

Ketika harapan ini tak terpenuhi, Abrahah memutuskan untuk menghancurkan Ka’bah. Maka, kemudian dia menyerbu Makkah dengan memimpin pasukan dalam jumlah besar, termasuk sejumlah gajah perang, yang sampai saat itu merupakan sesuatu yang belum dikenal dan sangat mengherankan orang-orang Arab.

Karena itu, tahun tersebut dinamakan sebagai “Tahun Gajah”, baik oleh orang-orang pada masa itu maupun oleh para sejarahwan dari generasi kemudian.

Pasukan Abrahah hancur total dalam perjalanan menuju Makkah—kemungkinan karena berjangkitnya wabah penyakit cacar ganas atau penyakit tifus—dan Abrahah sendiri tewas dalam perjalanan Kembali ke San’a.

أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصۡحَٰبِ ٱلۡفِيلِ, Tidakkah engkau perhatikan, bagaimana Pemeliharamu memperlakukan Pasukan Bergajah? (al-Fil [105]: 1)

أَلَمۡ يَجۡعَلۡ كَيۡدَهُمۡ فِي تَضۡلِيلٖ, Bukankah Dia telah menggagalkan sama sekali rencana licik mereka? (al-Fil [105]: 2)

وَأَرۡسَلَ عَلَيۡهِمۡ طَيۡرًا أَبَابِيلَ --- تَرۡمِيهِم بِحِجَارَةٖ مِّن سِجِّيلٖ --- فَجَعَلَهُمۡ كَعَصۡفٖ مَّأۡكُولِۢ, Demikianlah, Dia mengirimkan sekawanan besar makhluk terbang di atas mereka --- yang menghantam mereka dengan serangan-serangan hukuman sekeras batu yang telah ditakdirkan sebelumnya, --- dan menyebabkan mereka menjadi seperti ladang padi yang habis dimakan, hingga hanya menyisakan jerami. (al-Fil [105]: 3-5)

Lit., “dengan batu-batu sijjil”, sebagaimana juga dalam surah Hud [11]: 82, kata sijjil sama artinya dengan sijil, yang berarti “suatu tulisan” dan, secara kiasan, berarti “sesuatu yang telah ditetapkan [oleh Allah]”.

Oleh sebab itu, frasa hijarah min sijjil adalah metafora untuk “serangan-serangan hukuman sekeras batu yang telah ditakdirkan sebelumnya”, yakni, di dalam ketetapan Allah. Nah, hukuman tertentu yang dibicarakan secara tidak langsung di dalam ayat di atas agaknya berupa penyakit epidemik yang sangat ganas, yang muncul secara tiba-tiba.

Ibnu Ishaq menuliskan, “inilah pertama kalinya penyakit demam yang menimbulkan bercak di kulit dan cacar muncul di wilayah bangsa Arab”.

Berkenaan dengan nomina tha’ir, yang berarti “makhluk terbang” [dan jika hipotesis tentang wabah penyakit itu benar], “makhluk terbang” itu—entah berupa burung ataupun serangga—mungkin berperan sebagai pembawa infeksi yang menyebabkan penularan.

Namun, satu hal cukup jelas, bagaimanapun hakikat dari bencana yang menimpa pasukan Abrahah yang tengah melancarkan serangan itu, ini jelas merupakan keajaiban dalam pengertian yang sesungguhnya—yakni, kejadian itu merupakan pertolongan tba-tiba yang sama sekali di luar dugaan, sehingga menyelamatkan penduduk Makkah yang saat itu tengah berada dalam situasi gawat.

Demikian. []

Baca juga: Yang Mengingkari Kebenaran

Posting Komentar

0 Komentar