Melapangkan Hati

Sebagaimana yang dijabarkan Muhammad Asad dalam The Message of the Quran, surah al-Syarh [94] diwahyukan nyaris segera sesudah surah al-Dhuha [93]. Surah ini tampak merupakan kelanjutan langsung dari surah al-Dhuha.

Surah ini, seperti halnya surah ke-93, dialamatkan pertama-tama kepada Nabi dan, melalui beliau, kepada semua pengikut sejati al-Qur’an.

أَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَكَ صَدۡرَكَ --- وَوَضَعۡنَا عَنكَ وِزۡرَكَ --- ٱلَّذِيٓ أَنقَضَ ظَهۡرَكَ, Bukankah Kami telah melapangkan hatimu, --- dan mengangkat darimu beban --- yang telah memberatkan punggungmu? (al-Syarh [94]: 1-3)

“Melapangkan hatimu” umum diterjemahkan literal “melapangkan dadamu”, dan hati dalam arti simbolik merupakan pusat ilmu dan rasa cinta serta kasih yang sangat dalam. Sebuah khazanah tempat menyimpan watak manusia yang sangat berharga, mendekati kesucian samawi.

Kemudian “memberatkan punggungmu” dimaksudkan “beban dosa-dosa pada masa lalu, yang sekarang telah dimaafkan”.

Dalam hal Baginda Nabi ini agaknya berkaitan dengan kesalahan-kesalahan yang dilakukan sebelum beliau diangkat menjadi seorang rasul, dan jelas merupakan pengulangan dari surah al-Dhuha [93]: 7—“Dan, [bukankah] Dia mendapatimu dalam keadaan tersesat di jalanmu, lalu Dia memberimu panduan?”

وَرَفَعۡنَا لَكَ ذِكۡرَكَ, Dan, [bukankah Kami telah] meninggikan martabatmu? (al-Syarh [94]: 4)

Atau “meninggikan kemasyhuranmu”. Makna dasar istilah dzikr adalah “pengingat” atau “ingatan”, dan makna lainnya “hal yang dengannya sesuatu (atau seseorang) diingat”, yakni, dengan pujian. Maka, istilah dzikr juga berarti “kemasyhuran” atau “ketenaran”, dan secara kiasan—seperti dalam konteks ayat ini—berarti “keutamaan” atau “martabat”.

فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا --- إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗا, Dan, perhatikanlah, bersama setiap kesulitan, datang kemudahan: --- sungguh, bersama setiap kesulitan, datang kemudahan! (al-Syarh [94]: 5-6)

Ayat ini diulang untuk lebih ditekankan. Apa pun kesulitan atau gangguan yang dihadapi manusia, Allah akan selalu memberikan jalan kelauarnya. Membukakan jalan yang akan membawa kepada kemudahan dan kegembiraan, kalau saja kita mengikuti jalan-Nya dan menunjukkan keimanan dengan sabar, tabah, dan perbuatan yang baik.

Jalan keluar atau keringanan itu bukan saja datang “sesudah” ada kesulitan, tetapi diberikan bersama-sama dengan itu. Maka kata sandang al-‘usr diterjemahkan “setiap kesulitan”.

فَإِذَا فَرَغۡتَ فَٱنصَبۡ --- وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرۡغَب, Maka, apabila engkau telah terbebas [dari kesusahan], tetaplah teguh, --- dan kepada Pemeliharamulah hendaknya engkau berpaling dengan cinta. (al-Syarh [94]: 7-8)

Bahwa segera dari tugas mengingatkan manusia supaya menjauhi segala perbuatan dosa dan mendorong melakukan amal perbuatan yang baik. Bahwa hubungannya dengan dunia ruhani harus tetap berkesinambungan.

Dan puncaknya, kerajaan Tuhan adalah segalanya. Yang lain-lain hanya sambilan, dan memang, tidak penting. Keberhasilan atau kebenaran duniawi itu mungkin hanya satu cara menuju yang akhir, tetapi barangkali juga suatu kendala untuk mencapai keagungan ruhani yang sejati.

Oleh karenanya, sekali lagi, Allah merupakan tujuan yang menjadi pusat perhatian dan kedambaan orang-orang yang saleh.

Demikian! []

Baca juga: Saat-saat Pagi yang Cerah

Posting Komentar

0 Komentar