Pengungkapan (6)

Berikut terjemahan dan penjelas Muhammad Asad atas surah al-Najm [53]: 33-55, sebagaimana termaktub dalam The Message of the Quran.

أَفَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي تَوَلَّىٰ --- وَأَعۡطَىٰ قَلِيلٗا وَأَكۡدَىٰٓ

Maka, sudahkah engkau perhatikan orang yang berpaling [dari mengingat Kami, dan yang hanya menginginkan kehidupan dunia ini saja], --- dan yang sedikit sekali memberi [apa yang ada padanya demi kebaikan jiwanya], dan dengan sikap enggan? (al-Najm [53]: 33-34)

Penerjemahan kedua ayat di atas (serta dua sisipan di antara kurung siku) didasarkan pada penafsiran meyakinkan yang dikemukakan al-Razi bahwa pasase ini kembali lagi membicarakan tema yang telah disinggung pada ayat 29-30.

أَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلۡغَيۡبِ فَهُوَ يَرَىٰٓ

Apakah dia [mengaku] memiliki pengetahuan tentang hal yang berada di luar jangkauan persepsi manusia, sehingga dia dapat melihatnya [dengan jelas]? (al-Najm [53]: 35)

Yakni, “bagaimana dia dapat begitu yakin bahwa tidak ada kehidupan akhirat dan tidak ada pembalasan?”

أَمۡ لَمۡ يُنَبَّأۡ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ --- وَإِبۡرَٰهِيمَ ٱلَّذِي وَفَّىٰٓ

Atau, apakah dia belum diberitakan tentang apa [yang disebutkan] dalam wahyu-wahyu Musa, --- dan wahyu-wahyu Ibrahim, yang selalu memenuhi amanatnya: (al-Najm [53]: 36-37)

Jelaslah bahwa nama Nabi Ibrahim dan Musa a.s. disebutkan di sini hanya sebagai contoh, untuk menarik perhatian kita pada kenyataan bahwa dalam sepanjang sejarah manusia, Allah telah memberi amanat kepada orang-orang yang Dia pilih untuk menyampaikan kepada manusia sejumlah kebenaran etis tertentu yang tidak berubah.

أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ, yaitu bahwa tiada seorang pun penanggung beban akan dijadikan menanggung beban orang lain; (al-Najm [53]: 38)

Hukum etis yang mendasar ini muncul dalam al-Qur’an sebanyak lima kali (yakni, dalam surah al-An’am [6]: 164, al-Isra’ [17]: 15, Fathir [35]: 18, al-Zumar [39]: 7, serta dalam ayat di atas, yang merupakan ayat paling awal dari segi kronologisnya).

Implikasi prinsip ini ada tiga: pertama, ia merupakan penolakan yang tegas terhadap doktrin Kristen tentang “dosa warisan” yang dianggap telah membebani setiap manusia sejak kelahirannya; kedua, ia menolak gagasan bahwa dosa seseorang dapat “ditebus” oleh pengorbanan orang suci atau rasul (seperti ditunjukkan, misalnya, dalam doktrin Kristen mengenai penebusan dosa-dosa manusia oleh Yesus, atau dalam doktrin agama Persia yang lebih tua lagi mengenai penyelamatan manusia oleh Mithra); dan ketiga, secara tersirat ia menolak kemungkinan adanya bentuk “perantaraan” apa pun antara orang yang berdosa dan Tuhan.

وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ, dan bahwa tidaklah diperhitungkan terhadap manusia kecuali apa yang dia usahakan; (al-Najm [53]: 39)

Sabda Nabi Saw, “Perbuatan [dinilai] sesuai dengan niat sadar [yang mendasarinya], dan yang akan dihitung atas setiap manusia hanyalah apa yang secara sadar dia niatkan,” yakn ketika melakukan perbuatan itu.

Dalam kaitan ini, perlu dicatat bahwa dalam etika al-Qur’an, istilah “perbuatan” (amal) juga mencakup sengaja tidak melakukan suatu perbuatan, baik itu perbuatan baik maupun buruk, serta menyuarakan kepercayaan dengan sengaja, baik yang benar maupun yang batil. Singkatnya, apa pun yang seseorang tuju dan ungkapkan secara sadar, baik dalam kata-kata maupun perbuatan.

وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ, dan bahwa pada saatnya, [hakikat dari] segala yang dia usahakan akan diperlihatkan [kepadanya dengan sebenarnya], (al-Najm [53]: 40)

Lit., “segala usahanya akan dilihat”, yakni pada Hari Pengadilan, ketika—sebagaimana dinyatakan di banyak tempat dalam al-Qur’an—Allah “akan menjadikan kalian [benar-benar] memahami semua yang kalian lakukan [dalam hidupmu]”.

 ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ, kemudian dia akan diberi balasan atas perbuatannya itu dengan balasan yang paling sempurna; (al-Najm [53]: 41)

وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ, dan bahwa bersama Pemeliharamu-lah awal dan akhir [segala sesuatu]; (al-Najm [53]: 42)

Lit., “batasan” atau “tujuan terjauh”, menunjuk pada awal dan akhir alam semesta, baik dalam ruang maupun waktu, serta pada sumber dari mana segala sesuatu bermula serta ke mana segala sesuatu pasti kembali.

وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ, dan bahwa Dia sajalah yang menyebabkan [kalian] tertawa dan menangis; (al-Najm [53]: 43)

 وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا, dan bahwa Dia sajalah yang menimpakan kematian dan menganugerahkan kehidupan; (al-Najm [53]: 44)

وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ --- مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ --- وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ, dan bahwa Dia-lah yang menciptakan dua jenis itu—laki-laki dan perempuan—dari [sekadar] setetes mani ketika ia dipancarkan, --- dan bahwa [karena itu] Dia berkuasa menciptakan kehidupan kedua; (al-Najm [53]: 45-47)

Lit., “bahwa pada Dia-lah kehidupan (nasy’ah) lainnya [atau ‘yang kedua’]”, yakni kebangkitan.

وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ, dan bahwa Dia sajalah yang membebaskan (makhluk-Nya) dari keinginan dan yang menyebabkan (makhluk-Nya) memiliki; (al-Najm [53]: 48)

وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ, dan bahwa Dia sajalah yang memelihara bintang yang paling terang; (al-Najm [53]: 49)

Lit., “Dia-lah Pemelihara Sirius (al-syi’ra)”, sebuah bintang yang sangat terang, yang termasuk dalam rasi Canis Major.

Karena Sirius adalah bintang yang paling terang di langit, ia banyak disembah oleh bangsa Arab pra-Islam. Secara idiomatik, frasa rabb al-syi’ra digunakan sebagai metonimia bagi Pencipta dan Pemelihara alam semesta.

وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ --- وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ أَبۡقَىٰ --- وَقَوۡمَ نُوحٖ مِّن قَبۡلُۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ --- وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ أَهۡوَىٰ --- فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ

(50) dan bahwa Dia-lah yang telah membinasakan [kaum] ‘Ad kuno (51) dan Tsamud, tanpa meninggalkan jejak [mereka], (52) serta kaum Nuh sebelum mereka—[sebab] sungguh, mereka semua adalah yang paling keras kepala dalam kezaliman mereka dan paling melampaui batas—(53) sebagaimana Dia menghancurkan kota-kota yang digulingkan (54) dan kemudian menutupi mereka dari pandangan selamanya.

 فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ

Maka, kuasa Pemeliharamu yang manakah yang [masih] engkau ragukan? (al-Najm [53]: 55)

Pertanyaan retoris tersebut tampaknya ditujukan kepada manusia-manusia yang dibicarakan dalam ayat 33-35.

Demikian. []

Baca juga: Pengungkapan (5)

Posting Komentar

0 Komentar