Pengungkapan (4)

Sudah jadi rumus, keinginan yang tidak bersih dari hati sering mengundang masalah, karena yang demikian diatur oleh setan. Padahal sumber petunjuk dan cahaya sebenarnya adalah Allah. Dia-lah tujuan kembalinya segenap manusia dan segala yang ada dalam wujud.

أَمۡ لِلۡإِنسَٰنِ مَا تَمَنَّىٰ --- فَلِلَّهِ ٱلۡأٓخِرَةُ وَٱلۡأُولَىٰ

Apakah manusia membayangkan bahwa sudah merupakan haknya untuk memiliki semua yang dia inginkan, --- walau pada kenyataannya, [baik] kehidupan akhirat maupun kehidupan [yang] sekarang ini adalah milik Allah [saja]? (al-Najm [53]: 24-25)

Lit., “Pantaskah bagi manusia untuk memiliki …”, dst.

Karena, walau pada kenyataannya (yang merupakan arti dari partikel fa dalam konteks ini), Allah Mahakuasa dan Maha Mengetahui dan, karenanya, tidak membutuhkan “perantara apa pun” antara diri-Nya dan ciptaan-Nya.

۞وَكَم مِّن مَّلَكٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ لَا تُغۡنِي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡ‍ًٔا إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ أَن يَأۡذَنَ ٱللَّهُ لِمَن يَشَآءُ وَيَرۡضَىٰٓ

Sebab, betapapun banyaknya jumlah malaikat yang berada di lelangit, syafaat mereka tidaklah bermanfaat sedikit pun [bagi siapa saja]—kecuali setelah Allah mengizinkan [pemberian syafaat] bagi siapa pun yang Dia kehendaki dan ridhai. (al-Najm [53]: 26)

Tersebut pula, dalam ayat 3 surah Yunus [10], “…tiada perantara apa pun, kecuali setelah izin-Nya [diberikan]”, adalah ungkapan jelas dari al-Qur’an tentang syafaat. Al-Qur’an menolak keyakinan popular tentang ini yang diberikan kepada para wali, para nabi, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.

Allah akan memberi izin kepada nabi-nabi-Nya pada hari kiamat untuk “memberikan syafaat”, secara simbolis bagi pendosa-pendosa yang kelak telah meraih ridha (penerimaan)-Nya lantaran tobat atau kebaikan-kebaikan dasariah mereka.

Dengan kata lain, hak “memberikan syafaat” yang diberikan kepada para nabi itu hanyalah merupakan ekspresi persetujuan Allah terhadap para nabi itu.

إِنَّ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ لَيُسَمُّونَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ تَسۡمِيَةَ ٱلۡأُنثَىٰ --- وَمَا لَهُم بِهِۦ مِنۡ عِلۡمٍۖ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّۖ وَإِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغۡنِي مِنَ ٱلۡحَقِّ شَيۡ‍ٔٗا

Perhatikanlah, [hanyalah] orang-orang yang tidak [benar-benar] beriman kepada kehidupan akhiratlah yang menganggap malaikat sebagai perempuan, --- dan [karena] mereka tidak memiliki pengetahuan apa pun tentangnya, mereka tidak lain hanyalah mengikuti dugaan belaka: namun perhatikanlah, dugaan tidak akan pernah dapat menggantikan kebenaran.(al-Najm [53]: 27-28)

Lit., “yang menamakan para malaikat dengan nama perempuan”—yakni, menganggap mereka memiliki jenis kelamin dan/atau sebagai “anak-anak perempuan Allah”.

Seperti yang telah dijelaskan oleh al-Qur’an pada banyak tempat, orang-orang yang dibicarakan dalam konteks ini memang mengimani adanya kehidupan setelah mati, karena mereka mengungkapkan harapan agar para malaikat dan sesembahan khayal yang mereka sembah itu akan “menjadi perantara” antara mereka dan Allah, serta akan “memberi syafaat” kepada mereka.

Namun, kepercayaan mereka sedemikian kaburnya sehingga tidak membuat mereka sadar bahwa kualitas hidup manusia di akhirat tidaklah bergantung pada faktor eksternal seperti itu, tetapi terkait secara kausal dan langsung dengan tingkah laku hidupnya di dunia ini.

Begitulah al-Qur’an menyatakan bahwa sikap mereka, pada kenyataannya tidak jauh berbeda dengan sikap orang-orang yang menolak gagasan adanya kehidupan akhirat sama sekali.

Dan [karena] mereka tidak memiliki pengetahuan apa pun tentangnya” yaitu, mengenai hakikat dan fungsi sebenarnya dari jenis makhluk yang dalam al-Qur’an disebut sebagai malaikat, lantaran mereka termasuk dalam ranah al-ghaib, “yang berada di luar jangkauan persepsi manusia”.

Alternatifnya, kata ganti pada bihi mungkin merujuk pada Allah, sehingga frasa itu dapat diterjemahkan menjadi “mereka tidak memiliki pengetahuan apa pun tentang Dia”—ini menunjukkan bahwa baik penisbahan “anak” kepada Tuhan maupun kepercayaan bahwa keputusan-Nya bergantung pada, atau dapat dipengaruhi oleh “perantaraan” atau “syafaat”, merupakan akibat dari konsep antropomorfis tentang Tuhan dan karenanya, amat jauh dari kebenaran.

Demikian! []

Baca juga: Pengungkapan (3)

Posting Komentar

0 Komentar