Ketiga berhala utama orang-orang Arab jahiliah: Dewi Lat, Uzza dan Manat. Semua melambangkan tuhan dalam bentuk perempuan.
Tak pelak, orang-orang kuno itu memperlihatkan Tuhan dalam
bentuk manusia, atau membayangkan putra-putra dan putri-putri Tuhan, seolah
Tuhan itu manusia.
Sungguh, penghinaan terhadap keagungan Tuhan, kendati direka dengan begitu indah dan agung seperti
halnya Pantheon [kuil tempat bersemayam para dewa] di Yunani lama.
أَفَرَءَيۡتُمُ ٱللَّٰتَ وَٱلۡعُزَّىٰ --- وَمَنَوٰةَ ٱلثَّالِثَةَ
ٱلۡأُخۡرَىٰٓ, Maka, apakah telah kalian perhatikan [apa yang kalian
sembah pada] al-Lat dan al-‘Uzza, --- serta [pada] Manat,
yang ketiga dan terakhir [dari tri-sembahan ini]? (al-Najm [53]:
19-20)
Setelah menyatakan bahwa Nabi diberi pengetahuan sejati
mengenai sebagian dari kebenaran-kebenaran terbesar, al-Qur’an mengajak kita
memperhatikan “perlambang-perlambang batil” yang oleh manusia sering dinisbahi
dengan kualitas dan kekuatan ketuhanan: dalam ayat ini, perhatian kita
diarahkan—dengan menggunakan contoh—kepada berhala-berhala yang disembah kaum
musyrik semasa hidup Nabi, yang dilambangkan dengan trio al-Lat, Manat, dan
al-‘Uzza.
Ketiga dewi itu—yang oleh kaum musyrik Arab dainggap sebagai
“anak-anak perempuan Allah” berdampingan dengan para malaikat (yang juga
dianggap sebagai perempuan)—disembah oleh kebanyakan bangsa Arab sebelum Islam,
dan memiliki beberapa tempat pemujaan di Hijaz dan Najd.
Penyembahan al-Lat khususnya merupakan tradisi kuno dan
hampir pasti berasal dari Arab Selatan; dewi ini mungkin merupakan prototipe
dari semi-dewi bagsa Yunani, Leto, yang merupakan salah satu istri Zeus dan ibu
Apollo dan Artemis.
أَلَكُمُ ٱلذَّكَرُ وَلَهُ ٱلۡأُنثَىٰ --- تِلۡكَ إِذٗا قِسۡمَةٞ
ضِيزَىٰٓ, Mengapa—bagi kalian sendiri [kalian hanya memilih] anak-anak
lelaki, sedangkan kepada-Nya [kalian menisbahkan] anak-anak
perempuan: --- lihat dan perhatikanlah, yang demikian itu adalah
pembagian yang tidak adil! (al-Najm [53]: 21-22)
Mengingat bangsa musyrik Arab memandang anak-anak perempuan
dengan rasa jijik dan benci, tindakan mereka menisbahkan “anak-anak perempuan”
bagi Allah sungguh absurd dan kontradiktif. Sebab, memercayai bahwa Allah
memiliki “anak” saja, apa pun jenisnya, dengan sendirinya sudah merupakan
penghujatan, apalagi menisbahkan-Nya dengan sesuatu yang dibenci oleh mereka
sendiri.
Hal itu justru membuktikan bahwa sikap “pengagungan” mereka
kepada Allah—yang oleh mereka pun dianggap sebagai Wujud Tertinggi—merupakan
dusta belaka. Hal yang sungguh ironi.
إِنۡ هِيَ إِلَّآ أَسۡمَآءٞ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم
مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٍۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَمَا
تَهۡوَى ٱلۡأَنفُسُۖ وَلَقَدۡ جَآءَهُم مِّن رَّبِّهِمُ ٱلۡهُدَىٰٓ, Yang
[dianggap sebagai wujud-wujud Ilahi] ini tidak lain hanyalah
nama-nama hampa yang kalian buat-buat—kalian dan nenek moyang kalian—[dan]
yang Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentangnya. Mereka
[yang menyembah berhala-berhala itu] tidak mengikuti apa pun selain
dugaan serta angan-angan kosong mereja saja—walaupun petunjuk yang
benar dari Pemelihara mereka kini sungguh telah datang kepada mereka.
(al-Najm [53]: 23)
Ini mengacu kepada gagasan syirik bahwa dewi-dewi tersebut,
sebagaimana para malaikat, akan berperan sebagai “perantara” antara para
penyembah mereka dan Allah: suatu gagasan khayal yang tetap bertahan bahkan di
antara para penganut agama-agama yang lebih tinggi dalam bentuk pemujaan
terhadap para wali dan orang-orang yang dipertuhankan.
Demikian terjemahan dan penjelasan oleh Muhammad Asad. []
Baca juga: Pengungkapan (2)

0 Komentar