Menimbun Kekayaan

Surah al-Takatsur [102] ini termasuk salah satu bagian atau pasal profetik yang paling kuat dalam al-Qur’an, yang menyoroti sifat serakah tanpa batas yang ada dalam manusia pada umumnya dan, lebih khusus lagi, kecenderungan-kecenderungan yang pada akhirnya telah mendominasi seluruh masyarakat manusia dalam zaman teknologi kita ini.

أَلۡهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ ---  حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ, Kalian dirasuki dengan keserakahan untuk selalu memperoleh lebih banyak lagi --- hingga kalian masuk ke liang kuburmu. (al-Takatsur [102]: 1-2)

Istilah al-takatsur mengandung makna “secara serakah berupaya keras untuk memperoleh tambahan”, yakni, keuntungan-keuntungan, baik yang kasatmata atau tidak, yang nyata ataupun khayali.

Dalam konteks di atas, istlah itu berarti obsesi manusia untuk memperoleh lebih dan lebih banyak lagi kenyamanan, harta, dan kekuasaan yang lebih besar atas sesama manusia atau atas alam, serta kemajuan teknologi yang tiada henti.

Upaya meraih hal-hal tersebut dengan hasrat menggebu-gebu, dengan mengesampingkan segala sesuatu yang lain, menghalangi manusia dari segenap pemahaman ruhani dan membuatnya enggan menerima pembatasan-pembatasan dan larangan-larangan yang didasarkan pada nilai-nilai yang murni bersifat moral—akibatnya, tidakhanya individu, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan, secara bertahap akan kehilangan seluruh stabilitas yang terdapat di dalam dirinya dan, dengan demikian, kehilangan semua peluangnya untuk meraih kebahagiaan.

كَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ, Tidak, suatu saat kalian akhirnya akan memahami! (al-Takatsur [102]: 3)

ثُمَّ كَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُونَ, Dan, sekali lagi: Tidak, suatu saat kalian pada akhirnya akan memahami! (al-Takatsur [102]: 4)

كَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُونَ عِلۡمَ ٱلۡيَقِينِ --- لَتَرَوُنَّ ٱلۡجَحِيمَ, Tidak, andaikan saja kalian dapat memahami [hal itu] dengan pemahaman [yang lahir dari] kepastian, --- kalian benar-benar, teramat pasti, akan menyaksikan api [neraka] yang berkobar-kobar! (al-Takatsur [102]: 5-6)

Yakni, “yang dalam keadaan itulah kalian sekarang sedang berada”—yaitu “neraka di bumi” yang tercipta oleh karena gaya hidup yang secara mendasar keliru.

Ini merupakan sebuah gambaran tidak langsung mengenai kerusakan lingkungan hidup manusia yang berlangsung secara bertahap, serta mengenai keputusasaan, ketidakbahagiaan, dan kebingungan yang pasti akan—dan bahkan pada zaman kita memang telah—menimpa umat manusia yang sedang kehilangan sisa-sisa seluruh orientasi ruhani dan keagamaannya, akibat upaya obsesif dalam mengejar “pertumbuhan ekonomi” tanpa kendali.

ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيۡنَ ٱلۡيَقِينِ --- ثُمَّ لَتُسۡ‍َٔلُنَّ يَوۡمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ, Pada akhirnya kalian benar-benar, teramat pasti, akan melihatnya dengan mata kepastian: --- dan, pada Hari itu, kalian pasti akan diminta untuk mempertanggungjawabkan [apa yang telah kalian lakukan dengan] nikmat kehidupan! (al-Takatsur [102]: 7-8)

Yakni, di akhirat, dengan menyaksikan secara langsung dan sangat jelas hakikat sesungguhnya dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan seseorang pada masa lampau.

Dan menyaksikan betapa tidak dapat dielakkannya penderitaan yang disebabkan oleh kesalahan manusia sendiri, yakni karena menyalahgunakan dan menyia-nyiakan nikmat kehidupan (al-na’im).

Demikian, terjemahan dan penjelas dari Muhammad Asad yang termaktub dalam The Message of the Quran. []

Baca juga: Kebaikan yang Berlimpah

Posting Komentar

0 Komentar