Tiga ayat surah al-Kautsar [108] berikut ditujukan pertama-tama kepada Baginda Nabi, dan melalui beliau, kepada setiap orang beriman, laki-laki maupun perempuan.
Ya, surah Makkah mula-mula yang sangat singkat ini terangkum
dalam satu kata bertuah “kautsar” (berlimpah), ajaran tentang kekayaan ruhani
dengan jalan ibadah dan pengorbanan. Sebaliknya, yang gemar membenci orang
berarti memutuskan segala harapan, di dunia ini dan di akhirat kelak.
إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ --- فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ,
Perhatikanlah, Kami telah menganugerahkan kepadamu kebaikan yang berlimpah:
--- maka, berdoalah kepada Pemeliharamu [saja], dan berkorbanlah
[hanya kepada-Nya]. (al-Kautsar [108]: 1-2)
Istilah kautsar merupakan bentuk intensif dari nomina
katsrah, yang berarti “keberlimpahan”, “keadaan banyak”, atau “keberlebihan”;
kata ini pun tergolong sebagai kata sifat dengan konotasi yang sama.
Dalam konteks di atas, al-kautsar—yang hanya muncul
sekali dalam al-Qur’an, yakni pada surah ini—jelas berkaitan dengan melimpahnya
anugerah yang diterima Baginda Nabi berupa segala hal yang baik dalam pengertian
abstrak dan spiritual, seperti wahyu, pengetahuan, hikmah, perbuatan-perbuatan
baik (amal saleh), dan martabat di dunia dan di akhirat.
Dalam kaitannya dengan orang beriman secara umum, kata itu
dengan jelas menunjukkan kemampuan untuk meraih pengetahuan, berbuat baik,
bersikap baik terhadap semua makhluk hidup dan, dengan demikian, untuk mencapai
martabat dan ketenangan batin.
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ, Sungguh, dia yang
membencimu benar-benar telah terputus [dari segala yang baik]!
(al-Kautsar [108]: 3)
Kebencian dan kedengkian bukanlah sumbangan yang berguna
untuk proses kelangsungan di dunia ini, melainkan sebaliknya.
Abu Jahl dan sekutu-sekutu musyriknya hendak melepaskan dendam
dan kedengkian pribadinya kepada Rasulullah dengan jalan mengejek atas kematian
kedua putra Baginda Rasul dari pernikahannya dengan Khadijah.
Namun, tak berapa tahun kemudian, ke manakah tukang-tukang
fitnah yang memikul dendam itu, tatkala cahaya bersinar lebih terang lagi dari
sebelumnya? Inilah yang telah terputus dari segala harapan masa depan, di dunia
ini dan di akhirat.
Demikian, terjemahan Muhammad Asad beserta penjelasannya,
dan ditambah penjelasan dari Abdullah Yusuf Ali. []
Baca juga: Kuda-kuda Perang (2)

0 Komentar