Berlalunya Waktu

Surah al-‘ashr [103] ini diwahyukan tidak lama sesudah surah al-Syarh [94].

وَٱلۡعَصۡرِ, Perhatikanlah berlalunya waktu! (al-‘Ashr [103]: 1)

Istilah ‘ashr berarti “waktu” yang dapat diukur, yang terdiri atas pengertian rentang waktu (yang berbeda dengan dahr, yang berarti “waktu tak terbatas”, tanpa awal dan akhir: yakni, “waktu mutlak”).

Karena itu, ‘ashr mengandung arti berjalan atau berlalunya waktu—waktu yang tidak pernah dapat diraih Kembali.

إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ --- إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ, Sungguh, manusia itu pasti merugikan dirinya sendiri, --- kecuali dia termasuk orang-orang yang meraih iman dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik, dan saling menyuruh untuk tetap mengikuti kebenaran, dan saling menyuruh untuk tetap bersabar dalam menghadapi kesusahan. (al-‘Ashr [103]: 2-3)

Muhammad Asad menerjemahkannya, “Sungguh, manusia itu pasti merugikan dirinya sendiri” atas literal “Manusia sungguh berada dalam [keadaan] rugi”.

Pun dengan ungkapan “saling menyuruh” (tawashaw), yang oleh umum diterjemahkan “[dia] menasihati atau menganjurkan”.

Demikian terjemahan dan penjelas surah al-‘Ashr oleh Muhammad Asad yang termaktub dalam The Message of the Quran.

Baca juga: Melapangkan Hati

Posting Komentar

0 Komentar