Inilah lanjutan dari lima ayat sebelumnya, [Kuda-kuda Perang (1)], yang tidak diragukan lagi berisikan kecaman.
إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لِرَبِّهِۦ لَكَنُودٞ --- وَإِنَّهُۥ
عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٞ --- وَإِنَّهُۥ لِحُبِّ ٱلۡخَيۡرِ لَشَدِيدٌ, Sungguh,
kepada Pemeliharanya, manusia itu sangat tidak berterimakasih—dan terhadap hal
ini, perhatikanlah, dia [sendiri] benar-benar menjadi saksi: ---
sebab, sungguh, demi kecintaan terhadap hartalah dia abdikan dirinya dengan
penuh semangat. (al-‘Adiyat [100]: 6-8)
Ya, “manusia itu sangat tidak berterimakasih” yakni,
setiap kali dia tunduk pada nafsunya—yang disimbolkan dengan kuda perang yang
berjalan liar—dia melupakan Allah dan melupakan tanggung jawabnya kepada-Nya.
Sudah mati ruhaninya, kira-kira seperti itu. Orang yang mati
ruhani, tidak mau tahu adanya Pencipta yang telah menciptakan dan
menghidupkannya. Yang setiap saat memberinya berkah. Ia melupakan atau
mengingkari Tuhan, bahkan menyalahgunakan pemberian-Nya dengan menyakiti sesama
makhluk.
Maka, alangkah buruknya. Manusia, “sebab, sungguh, demi
kecintaan terhadap hartalah dia abdikan dirinya dengan penuh semangat”, ya,
ia melakukan pengkhianatan terhadap Tuhan dengan mengejar-ngejar kekayaan dan
keuntungan dunia yang sebetulmnya fana dan tak seberapa harganya ini.
۞أَفَلَا يَعۡلَمُ إِذَا بُعۡثِرَ مَا فِي ٱلۡقُبُورِ --- وَحُصِّلَ
مَا فِي ٱلصُّدُورِ --- إِنَّ رَبَّهُم بِهِمۡ يَوۡمَئِذٖ لَّخَبِيرُۢ, Namun,
tidakkah dia tahu bahwa [pada Hari Akhir] tatkala dibangkitkan
dan dikeluarkan semua yang ada di dalam kubur, --- dan diungkapkan segala yang
[tersembunyi] di dalam hati manusia—bahwa pada Hari itu, Pemelihara
mereka [akan memperlihatkan bahwa Dia] selalu mengetahui
sepenuhnya keadaan mereka? (al-‘Adiyat [100]: 9-11)
Benar adanya, Allah mengetahui dan waspada sepenuhnya
sepanjang waktu. Dan segala rahasia, yang oleh manusia sudah lama dilupakan,
akan dibuka di hadapan mereka di akhirat.
Demikian!

0 Komentar