Surah al-‘Adiyat [100] ini diwhyukan setelah surah al-‘Ashr [103].
وَٱلۡعَٰدِيَٰتِ ضَبۡحٗا, Oh, kuda-kuda perang yang
terengah-engah berlari, (al-‘Adiyat [100]: 1)
Karena anak kalimat berikutnya mengacu pada situasi
parabolic dan imajiner, partikel wa yang mengekspresikan sumpah itu dalam
konteks ini lebih sesuai sirejemahkan menjadi “Oh” daripada “Perhatikanlah”
sebagaimana yang biasa Muhammad Asad lakukan, ataupun kata sumpah “Demi”
sebagaimana yang tercantum di dalam kebanyakan terjemahan lainnya.
فَٱلۡمُورِيَٰتِ قَدۡحٗا, memercikkan bunga-bunga api,
(al-‘Adiyat [100]: 2)
فَٱلۡمُغِيرَٰتِ صُبۡحٗا, bergegas menyerang di kala pagi,
(al-‘Adiyat [100]: 3)
فَأَثَرۡنَ بِهِۦ نَقۡعٗا, sehingga menimbulkan kepulan
debu, (al-‘Adiyat [100]: 4)
فَوَسَطۡنَ بِهِۦ جَمۡعًا, sehingga pasukan mana saja,
[secara membabi buta] mereka serbu! (al-‘Adiyat [100]: 5)
Yakni, dibutakan oleh kepulan debu, sehingga tidak
mengetahui apakah serangan mereka mengarah kepada pihak lawan atau kawan.
Nah, gambaran metafora yang dikembangkan di dalam lima ayat
tersebut terkait erat dengan rangkaian ayat-ayat berikutnya, sekalipun kaitan
ini belum pernah diperlihatkan oleh para mufasir klasik.
Tidak diragukan lagi bahwa kata “al-‘adiyat” mengacu pada
kuda perang yang digunakan oleh orang-orang Arab sejak dahulu hingga Abad
Pertengahan (bentuk feminin dari kata tersebut disebabkan oleh kenyataan bahwa
orang-orang Arab biasa lebih memilih kuda betina daripada kuda jantan).
Namun, sementara penjelasan yang konvensional didasari atas
asumsi bahwa “kuda-kuda perang” itu dalam konteks ini merupakan simbol
perjuangan orang-orang beriman di jalan Allah (jihad) dan, karena itu,
merepresentasikan sesuatu yang sangat dianjurkan, penjelasan semacam itu tidak
memperhatikan perbedaan antara penggambaran yang positif semacam itu dan
kecaman yang diungkapkan di dalam ayat 6 dan seterusnya [Kuda-kuda Perang (2)]
untuk tidak mengatakan fakta bahwa penafsiran konvensional semacam itu tidak
memberikan kaitan logis antara kedua bagian surah ini.
Tetapi, lantaran kaitan logis semacam itu mesti ada, dan
karena ayat 6 hingga ayat 11 tidak diragukan lagi berisikan kecaman, kita harus
menyimpulkan bahwa kelima ayat pertama juga memiliki karakter yang sama atau,
sekurang-kurangnya, serupa. Karakter ini serta-merta menjadi jelas jika kita
melepaskan diri kita dari gagasan yang telah dipraanggapkan sebelumnya bahwa
perumpamaan “kuda-kuda perang” digunakan di sini dalam pengertian yang bersifat
pujian.
Pada kenyataannya, yang terjadi adalah sebaliknya. Tidak
diragukan lagi, “kuda-kuda perang” itu menjadi simbol untuk jiwa atau diri
manusia yang berdosa—jiwa yang hampa dari segala petunjuk ruhani, yang
terobsesi dan dikendalikan oleh segenap sikap dan Hasrat yang keliru dan
mementingkan diri sendiri, yang menerobos ke depan dengan membabi buta, yang
tidak diuji oleh hati nurani atau nalar, yang dibutakan oleh kepulan debu nafsu
yang kebingungan dan membingungkan, menerobos ke dalam situasi-situasi yang
tidak terpecahkan dan, dengan demikian, akhirnya menuju kehancuran ruhaninya
sendiri.
Demikian terjemahan dan penjelas oleh Muhammad Asad. []
Baca juga: Berlalunya Waktu

0 Komentar