Yang Berselubung (5)

Ada tiga fenomena yang bisa jadi bahan renungan, pertama, kehadiran bulan, sesudah matahari, ialah sinar yang paling menonjol dalam pandangan kita.

Kedua, bila malam mendapat penerangan bulan sedikit banyak memang jadi terang, tetapi sebenarnya tetap gelap dan harus memberi tempat kepada—ketiga, fajar bila sudah datang, sebagai tanda matahari akan terbit.

كَلَّا وَٱلۡقَمَرِ --- وَٱلَّيۡلِ إِذۡ أَدۡبَرَ --- وَٱلصُّبۡحِ إِذَآ أَسۡفَرَ, Tidak, tetapi perhatikanlah bulan! Perhatikanlah malam ketika ia pergi berlalu, dan fajar ketika ia menyingsing! (al-Muddatstsir [74]: 32-34)

Inilah ayat Qur’an paling awal yang menyebutkan partikel sumpah “wa” yang digunakan dalam pengertian pernyataan sungguh-sungguh, yang menyerupai sumpah—yakni, seruan untuk bersaksi—yang dimaksudkan untuk memberi penekanan pada kebenaran atau bukti kebenaran yang akan dinyatakan selanjutnya.

Karena itu, di sini Muhammad Asad menerjemahkannya menjadi “perhatikanlah” (dalam terjemahan yang lazim, “demi ….”).

Dan dalam kasus ayat ini, kebenaran yang ditekankan adalah pernyataan tersirat bahwa persis sebagaimana halnya fase bulan yang berubah-ubah dan pergantian malam dan siang merupakan akibat dari hukum alam yang ditetapkan Allah.

Demikian pula, penderitaan yang dirasakan oleh seorang pendosa di akhirat tidak lain hanyalah merupakan akibat wajar dari kezalimannya yang dilakukan dengan sengaja di dunia ini. Sebagaimana dalam surah al-Baqarah berikut:

خَتَمَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ وَعَلَىٰ سَمۡعِهِمۡۖ وَعَلَىٰٓ أَبۡصَٰرِهِمۡ غِشَٰوَةٞۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ

Allah telah menutup hati dan pendengaran mereka, dan di mata mereka terdapat suatu tabir, dan derita yang dahsyat menanti mereka. (al-Baqarah [2]: 7)

Ya, suatu hukum alam yang ditetapkan Allah, yang di dalamnya seseorang yang terus-menerus mengikuti keyakinan batil dan menolak mendengarkan kebenaran, lama-kelamaan akan kehilangan kemampuan untuk memahami kebenaran “sehingga pada akhirnya, demikianlah kira-kira, sebuah tutup dikenakan pada hatinya”.

Karena Allah-lah yang telah menetapkan segala hukum alam—yang secara keseluruhan dikenal sebagai sunnatullah (ketetapan Allah, the way of God)—“tindakan menutup” ini dinisbahkan kepada-Nya: namun, jelaslah bahwa penutupan itu merupakan akibat dari pilihan bebas manusia dan bukan karena telah ditetapkan sebelumnya (predestined). 

Begitu juga dengan azab (derita, siksa)—yang di akhirat nanti disediakan bagi mereka yang semasa hidupnya di dunia ini sengaja tetap tuli dan buta terhadap kebenaran—merupakan konsekuensi logis dari pilihan bebas mereka, sebagaimana kebahagiaan di akhirat nanti juga merupakan konsekuensi logis dari perjuangan manusia untuk mencapai kesalehan dan pencerahan batin.

إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ --- نَذِيرٗا لِّلۡبَشَرِ --- لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَتَقَدَّمَ أَوۡ يَتَأَخَّرَ, Sungguh, [api-neraka] itu benar-benar merupakan salah satu [peringatan] yang amat besar—peringatan bagi manusia—bagi setiap orang di antara kalian, baik yang ingin maju ke depan ataupun yang menarik diri! (al-Muddatstsir [74]: 35-37)

لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَتَقَدَّمَ أَوۡ يَتَأَخَّرَ, siapa saja yang mau di antara kamu, yang hendak tampil, atau tinggal di belakang: ada kemungkinan, mereka yang tampil barangkali orang-orang beriman, dan yang tinggal di belakang barangkali orang yang berlambat-lambat, orang-orang tak beriman, yang menolak kasih Allah.

Atau dapat juga berarti bahwa peringatan itu efektif hanya bagi mereka yang ingin bergerak maju atau mundur. Mengenai kemajuan moral dan spiritual, dalam beberapa hal kita maju, tapi dalam beberapa hal lagi kita mundur.

Namun, terlepas dari itu semua, apakah kita memilih mengikuti atau mengabaikan seruan Ilahi: hal ini mengisyaratkan betapa orang-orang beriman sekalipun dapat tersandung melakukan dosa dan, karenanya, perlu diberi peringatan.

Dan betapa akan hilang harapan, manakala kita tetap keras kepala, dengan hati yang sudah mati begitu rupa, sehingga kita tak berani maju mempertahankan kebenaran atau mundur dari kesalahan.

Demikian pemaparan Muhammad Asad mengenai ayat-ayat tersebut. []

Baca juga: Yang Berselubung (4) 

Posting Komentar

0 Komentar