Ada tiga fenomena yang bisa jadi bahan renungan, pertama, kehadiran bulan, sesudah matahari, ialah sinar yang paling menonjol dalam pandangan kita.
Kedua, bila malam mendapat penerangan bulan sedikit
banyak memang jadi terang, tetapi sebenarnya tetap gelap dan harus memberi
tempat kepada—ketiga, fajar bila sudah datang, sebagai tanda matahari
akan terbit.
كَلَّا وَٱلۡقَمَرِ --- وَٱلَّيۡلِ إِذۡ أَدۡبَرَ --- وَٱلصُّبۡحِ
إِذَآ أَسۡفَرَ, Tidak, tetapi perhatikanlah bulan! Perhatikanlah
malam ketika ia pergi berlalu, dan fajar ketika ia menyingsing!
(al-Muddatstsir [74]: 32-34)
Inilah ayat Qur’an paling awal yang menyebutkan partikel
sumpah “wa” yang digunakan dalam pengertian pernyataan sungguh-sungguh,
yang menyerupai sumpah—yakni, seruan untuk bersaksi—yang dimaksudkan untuk
memberi penekanan pada kebenaran atau bukti kebenaran yang akan dinyatakan
selanjutnya.
Karena itu, di sini Muhammad Asad menerjemahkannya menjadi
“perhatikanlah” (dalam terjemahan yang lazim, “demi ….”).
Dan dalam kasus ayat ini, kebenaran yang ditekankan adalah
pernyataan tersirat bahwa persis sebagaimana halnya fase bulan yang
berubah-ubah dan pergantian malam dan siang merupakan akibat dari hukum alam
yang ditetapkan Allah.
Demikian pula, penderitaan yang dirasakan oleh seorang
pendosa di akhirat tidak lain hanyalah merupakan akibat wajar dari kezalimannya
yang dilakukan dengan sengaja di dunia ini. Sebagaimana dalam surah al-Baqarah
berikut:
خَتَمَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ وَعَلَىٰ سَمۡعِهِمۡۖ وَعَلَىٰٓ
أَبۡصَٰرِهِمۡ غِشَٰوَةٞۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ
Allah telah menutup hati dan pendengaran mereka, dan di
mata mereka terdapat suatu tabir, dan derita yang dahsyat menanti mereka. (al-Baqarah
[2]: 7)
Ya, suatu hukum alam yang ditetapkan Allah, yang di dalamnya
seseorang yang terus-menerus mengikuti keyakinan batil dan menolak mendengarkan
kebenaran, lama-kelamaan akan kehilangan kemampuan untuk memahami kebenaran
“sehingga pada akhirnya, demikianlah kira-kira, sebuah tutup dikenakan pada
hatinya”.
Karena Allah-lah yang telah menetapkan segala hukum
alam—yang secara keseluruhan dikenal sebagai sunnatullah (ketetapan
Allah, the way of God)—“tindakan menutup” ini dinisbahkan kepada-Nya:
namun, jelaslah bahwa penutupan itu merupakan akibat dari pilihan bebas manusia
dan bukan karena telah ditetapkan sebelumnya (predestined).
Begitu juga dengan azab (derita, siksa)—yang di akhirat
nanti disediakan bagi mereka yang semasa hidupnya di dunia ini sengaja tetap
tuli dan buta terhadap kebenaran—merupakan konsekuensi logis dari pilihan bebas
mereka, sebagaimana kebahagiaan di akhirat nanti juga merupakan konsekuensi
logis dari perjuangan manusia untuk mencapai kesalehan dan pencerahan batin.
إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ --- نَذِيرٗا لِّلۡبَشَرِ --- لِمَن
شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَتَقَدَّمَ أَوۡ يَتَأَخَّرَ, Sungguh, [api-neraka]
itu benar-benar merupakan salah satu [peringatan] yang amat
besar—peringatan bagi manusia—bagi setiap orang di antara kalian, baik yang
ingin maju ke depan ataupun yang menarik diri! (al-Muddatstsir [74]: 35-37)
لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَتَقَدَّمَ أَوۡ يَتَأَخَّرَ, siapa
saja yang mau di antara kamu, yang hendak tampil, atau tinggal di belakang:
ada kemungkinan, mereka yang tampil barangkali orang-orang beriman, dan yang
tinggal di belakang barangkali orang yang berlambat-lambat, orang-orang tak
beriman, yang menolak kasih Allah.
Atau dapat juga berarti bahwa peringatan itu efektif hanya
bagi mereka yang ingin bergerak maju atau mundur. Mengenai kemajuan moral dan
spiritual, dalam beberapa hal kita maju, tapi dalam beberapa hal lagi kita
mundur.
Namun, terlepas dari itu semua, apakah kita memilih
mengikuti atau mengabaikan seruan Ilahi: hal ini mengisyaratkan betapa
orang-orang beriman sekalipun dapat tersandung melakukan dosa dan, karenanya,
perlu diberi peringatan.
Dan betapa akan hilang harapan, manakala kita tetap keras
kepala, dengan hati yang sudah mati begitu rupa, sehingga kita tak berani maju
mempertahankan kebenaran atau mundur dari kesalahan.
Demikian pemaparan Muhammad Asad mengenai ayat-ayat
tersebut. []

0 Komentar