Yang Berselimut (5)

Baginda Rasulullah Saw. beserta sahabat-sahabat dekat beliau sering bangun pada dua pertiga malam, tengah malam atau sepertiga malam, meninggalkan tidur lalu melakukan salat, berzikir dan membaca Qur’an.

Sekilas kita bayangkan, itu merupakan suatu beban, terutama saat kesehatan mereka sedang terganggu, atau mereka sedang dalam perjalanan atau pun sedang berjuang mati-matian di jalan Allah.

إِنَّ رَبَّكَ يَعۡلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدۡنَىٰ مِن ثُلُثَيِ ٱلَّيۡلِ وَنِصۡفَهُۥ وَثُلُثَهُۥ وَطَآئِفَةٞ مِّنَ ٱلَّذِينَ مَعَكَۚ وَٱللَّهُ يُقَدِّرُ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَۚ عَلِمَ أَن لَّن تُحۡصُوهُ فَتَابَ عَلَيۡكُمۡۖ فَٱقۡرَءُواْ مَا تَيَسَّرَ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِۚ عَلِمَ أَن سَيَكُونُ مِنكُم مَّرۡضَىٰ وَءَاخَرُونَ يَضۡرِبُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ يَبۡتَغُونَ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ وَءَاخَرُونَ يُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ فَٱقۡرَءُواْ مَا تَيَسَّرَ مِنۡهُۚ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَقۡرِضُواْ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنٗاۚ وَمَا تُقَدِّمُواْ لِأَنفُسِكُم مِّنۡ خَيۡرٖ تَجِدُوهُ عِندَ ٱللَّهِ هُوَ خَيۡرٗا وَأَعۡظَمَ أَجۡرٗاۚ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمُۢ

Tuhanmu tahu bahwa engkau berdiri (dalam salat) hampir dua pertiga malam, atau separuhnya atau sepertiganya, dan sebagian dari mereka yang bersama engkau; Allah menentukan malam dan siang. Dia tahu bahwa engkau tak akan dapat menghitungnya.

Ia memberi tobat (pengampunan) kepada kamu: maka bacalah Qur’an mana yang mudah bagi kamu. Dia tahu di antara kamu ada yang sakit, dan yang lain sedang dalam perjalanan mencari karunia Allah, yang lain lagi sedang berjuang di jalan Allah. Maka bacalah Qur’an mana yang mudah bagi kamu; dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat dan pinjamkanlah kepada Allah pinjaman yang baik.

Segala kebaikan yang telah kamu kerjakan untuk dirimu, kamu akan mendapatkannya di sisi Allah, --lebih baik dan lebih besar pahalanya: mohon ampunlah kamu kepada Allah: Allah Maha Pengampun, Maha Pengasih. (al-Muzzammil [73]: 20)

Literal مِّنَ ٱلَّذِينَ مَعَكَۚ, “dari mereka yang bersamamu”, bahwa dengan ayat penutup ini, wacana beralih kembali ke tema yang ada dalam ayat pembuka, yakni, besarnya nilai spiritual yang terdapat dalam doa yang dilakukan pada malam hari.

Dan, عَلِمَ أَن لَّن تُحۡصُوهُ, “Allah mengetahui kamu tak dapat menentukan batas-batas waktu itu”, biasanya ini diartikan bahwa untuk menghitung saat-saat siang dan malam, dalam menentukan tengah malam, sepertiga atau dua pertiga malam yang tepat, buat orang-orang biasa barangkali tidak mungkin.

Bahwa panjang pendeknya malam dan siang setiap hari berubah-ubah menurut takwim matahari, dan waktu tengah malam yang tepat dapat ditentukan hanya dengan jalan pengamatan yang cermat waktu langit cerah atau dengan alat kronometer, yang tak mungkin dilakukan oleh setiap orang.

Tetapi, ayat ini juga bisa dipahami bahwa Allah menetapkan siang dan malam itu dalam ukuran yang sangat cermat, untuk istirahat dan untuk bekerja, dan disesuaikan pula dengan musim yang berbeda-beda. Sehingga, untuk salat dan berzikir tidak diperlukan kecermatan observasi semacam itu.

Bahwa mengabdi kepada Allah dapat dilakukan dalam beberapa cara seperti diuraikan dalam ayat ini dan awal-awal surah ini.

Pendeknya, kita harus menentukan waktu untuk ibadah, yang semudah dan sesuai mungkin buat kita, dalam bermacam-macam keadaan, kesehatan, perjalanan, dan dalam berbagai macam tugas yang kita hadapi.

Kita lihat pula, membaca Qur’an dalam ayat ini hampir sama dengan salat dan ibadah lainnya. Pada ayat lain disebutkan, tujuan Qur’an adalah untuk tidak menggelisahkan pikiran atau membuat beban, sebagaimana dalam Thaha [20]: 2, “Kami tidak menurunkan Qur’an kepadamu supaya kau menderita.”  

Dan ayat ini pula, merupakan ayat Qur’an yang paling awal menyebutkan istilah zakah. Kita tahu bahwa dalam hukum Islam, zakah berarti suatu iuran wajib bagi kaum Muslim yang dimaksudkan untuk menyucikan harta dan pendapatan seseorang dari noda egoism (karena itu dinamai zakah: penyucian).

Hasil pajak ini harus diberikan terutama, tetapi bukan hanya, kepada fakir mskin.

Syahdan, apa pun itu, segala kebaikan yang kita kerjakan sebetulnya akan meningkatkan kadar rohani dan martabat kita sendiri. Kita tak boleh berpikir bahwa bicara tentang ibadah kepada Allah atau berjihad di jalan-Nya, itu demi keuntungan-Nya. Sama sekali tidak demikian. Dalam hal apa pun Dia bebas dari segala kekurangan.

Akhirnya, ayat 20 ini menekankan perlunya kita pada karunia Allah. Kebaikan apa pun yang kita kerjakan, dapat dikatakan jasa kita masih tetap kecil. Karunia Allah-lah yang mengangkat kita dan menghilangkan segala kekurangan kita. Bahkan dalam ketakwaan, jika disertai rasa kebanggaan akan membuat dosa. Sehingga, kita harus selalu mencari rahmat Allah dengan segala sikap tawaduk atau rendah hati.

Demikian! []

Baca juga: Yang Berselimut (4)

Posting Komentar

0 Komentar