Baginda Rasulullah sudah mengingatkan zamannya, yakni zaman sekarang, memulihkan kembali dari perbuatan dosa, dan menjadi saksi atas orang-orang beriman dan melawan kejahatan, seperti yang dilakukan Nabi Musa pada masanya.
Fir’aun raja duniawi berhadapan dengan Musa Nabiullah. Di
mata duniawi, Musa-lah yang durhaka terhadap Fir’aun. Dalam pengertian rohani,
Fir’aun yang durhaka terhadap Musa.
Fir’aun melambangkan kerajaan lama dan sangat kuat, dan
berkuasa dengan sejarahnya yang panjang. Dan dalam pengetahuan dan ilmu, seni,
organisasi, dan kekuasaan merupakan suatu kebanggaan tersendiri.
Sementara Musa memimpin rakyat yang tertekan,
penebang-penebang kayu, dan penghela air. Tetapi kekuatan Allah ada di belakang
Musa.
Dan mau jadi apa kebijakan Fir’aun, kekuasaan serta bala
tentaranya itu? Sebab, bila tiba saatnya, semua itu akan hancur luluh, dan rasa
takut serta terkejut tentunya akan sama seolah langit terbelah. Rambut
anak-anak pun jadi uban. Itulah gambaran yang dilukis ayat-ayat berikut.
إِنَّآ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡكُمۡ رَسُولٗا شَٰهِدًا عَلَيۡكُمۡ
كَمَآ أَرۡسَلۡنَآ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ رَسُولٗا --- فَعَصَىٰ فِرۡعَوۡنُ ٱلرَّسُولَ
فَأَخَذۡنَٰهُ أَخۡذٗا وَبِيلٗا
(15) Kami telah mengutus kepada kamu (hai manusia),
seorang rasul, yang menjadi saksi atas kamu, sebagaimana Kami mengutus seorang
rasul kepada Fir’aun, (16) tetapi Fir’aun mendurhakai rasul; maka Kami
cekam dia dengan azab yang berat.
Ini rujukan Qur’an yang paling awal terhadap nabi-nabi
terdahulu. Tentang kesinambungan historis pengalaman keagamaan manusia, dan,
secara tersirat, terhadap fakta bahwa al-Qur’an tidak mendirikan sebuah
keyakinan “baru”. Ia hanya merepresentasikan suatu pernyataan final dan paling
komprehensif tentang prinsip keagamaan yang sama tuanya dengan usia umat
manusia itu sendiri.
Bahwa “satu-satunya agama [yang benar] dalam pandangan
Allah adalah penyerahan-diri [manusia] kepada-Nya” (Ali ‘Imran [3]: 19),
dan bahwa “jika seseorang mencari agama selain penyerahan-diri kepada Allah,
(agama) itu tidak akan pernah diterima darinya” (Ali ‘Imran [3]: 85).
فَكَيۡفَ تَتَّقُونَ إِن كَفَرۡتُمۡ يَوۡمٗا يَجۡعَلُ ٱلۡوِلۡدَٰنَ
شِيبًا --- ٱلسَّمَآءُ مُنفَطِرُۢ بِهِۦۚ كَانَ وَعۡدُهُۥ مَفۡعُولًا
(17) Lalu bagaimana kamu, jika ingkar (kepada Allah) akan
menjaga dirimu terhadap Hari yang membuat anak-anak jadi beruban? (18) sementara
langit pun terbelah, [dan] janji-Nya [tentang kebangkitan] pasti terlaksana.
Muhammad Asad menjelaskan bahwa dalam penggunaan bahasa Arab
kuno, suatu hari yang penuh dengan peristiwa-peristiwa mengerikan digambarkan
secara metafora sebagai “hari ketika rambut anak-anak menjadi beruban”.
Karakter metaforis murni dari ungkapan ini sangat jelas
karena, menurut ajaran-ajaran Qur’an, anak-anak dipandang tidak berdosa—yakni,
tidak bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya—dan, karena itu, akan tetap
tidak terjamah oleh siksa dan ancaman Hari Pengadilan.
Nah, kita lihat kemudian, kalau dalam masa percobaan di
dunia ini saja kita sudah begitu ingkar dan durhaka terhadap Allah, bagaimana
pula kita akan tegak sampai hari kiamat? Sampai hari akhir yang sangat
mengerikan?
Sekali lagi, hari itu dilukiskan dalam dua metafora: (1)
Waktu yang akan jadi begitu sehingga anak-anak pun akan seperti orang dewasa
yang sudah beruban. (2) Apa yang kita lihat sebagai langit yang abadi, juga
sama, akan terbelah.
Jika sudah demikian, semuanya akan dikembalikan kepada
nilai-nilai yang sebenarnya. Seolah gambaran bahwa ketika perubahan-perubahan
yang luar biasa akan membuat anak-anak beruban. Bahwa bangsa-bangsa yang
seperti anak-anak itu menjadi bijak, yang sebelumnya mereka durhaka dan
kemudian dihancurkan, sehingga hukum Tuhan pun tegak serta terlaksana bila yang
lain semua sudah tersapu bersih.
إِنَّ هَٰذِهِۦ تَذۡكِرَةٞۖ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ
سَبِيلًا, Sungguh, ini suatu peringatan: barangsiapa mau, biarlah mengambil
jalan (yang lurus) kepada Tuhannya! (al-Muzzammil [73]: 19)
Benar, ini bukan ancaman kosong. Suatu peringatan untuk
kebaikan kita sendiri juga. Kalau kita punya kemauan, kita akan segera
memperoleh karunia dan rahmat Allah, dan dapatkanlah itu, sebab bertobat dan
memperbaiki diri merupakan jalan lurus untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Demikian! []
Baca juga: Yang Berselimut (3)

0 Komentar