Kita lanjutkan terjemahan dan tafsir Surah 73, Muzzammil, dari Abdullah Yusuf Ali pada ayat 5-10.
إِنَّا سَنُلۡقِي عَلَيۡكَ قَوۡلٗا ثَقِيلًا --- إِنَّ نَاشِئَةَ
ٱلَّيۡلِ هِيَ أَشَدُّ وَطۡٔٗا وَأَقۡوَمُ قِيلًا --- إِنَّ لَكَ فِي ٱلنَّهَارِ سَبۡحٗا طَوِيلٗا
--- وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلۡ إِلَيۡهِ تَبۡتِيلٗا
(5) Segera akan Kami turunkan kepadamu perkataan yang berat.
(6) Sungguh, bangun malam sangat kuat (mengisi jiwa) dan lebih sesuai
mengucapkan kata (salat dan puji-pujian). (7) Sungguh, di siang hari
engkau disibukkan dengan tugas-tugas yang panjang. (8) Dan ingatlah nama
Tuhanmu dan berbaktilah kepada-Nya dengan sepenuh hati.
Betapa kemudian Qur’an disempurnakan bertahap, setelah
mengalami fatrah. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, setelah Surah 96, ‘Alaq
atau Iqra’ yang turun saat 12 tahun sebelum hijrah, terjadi fatrah
atau jeda dalam waktu enam bulan atau bisa juga satu atau dua tahun.
Baru kemudian, pada masa 11 sampai 10 tahun sebelum hijrah
ke Madinah, turun surah ini dan lanjut surah-surah yang lain hingga purna di
ayat 3 surah 5, Ma’idah, ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ “hari ini telah Ku-sempurnakan agamamu
bagimu”, pada tahun ke-10 Hijri, pada musim Haji Perpisahan ketika Rasulullah
ke Makkah.
Kemudian bahwa merenung, salat, dan berzikir atau berdoa,
waktu mana lagi yang lebih cocok dari waktu malam, ketika suasana sedang
diliputi ketenangan dan kesunyian, suara-suara di pasar-pasar sedang diam, dan
bintang-bintang yang membisu menuangkan kefasihannya kepada orang yang arif.
Sedang pada siangnya, Baginda Muhammad, yang seorang nabi,
sebagai manusia, sebagai anggota keluarga dan sebagai warga, tidak sedikit
tugas yang harus ditunaikan; dan pekerjaannya itu mungkin menyulitkan karena
melindungi orang-orang yang mau mendengarkan seruannya, yang selalu diusik dan
dianiaya.
Tetapi, dalam melaksanakan tugas-tugasnya yang biasa, beliau
harus bekerja seperti di hadapan Allah, dan dalam segala hal dan sepanjang
waktu harus memelihara arti kedekatannya kepada Allah. Benar, pekerjaannya ini
di bumi, tetapi hatinya di langit. Itulah yang mesti mendarahdaging dalam diri
kita.
رَّبُّ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَٱتَّخِذۡهُ
وَكِيلٗا --- وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَٱهۡجُرۡهُمۡ هَجۡرٗا جَمِيلٗا
(9) Tuhan Timur dan Barat: tiada tuhan selain Dia, maka
ambillah Dia menjadi Penentu dalam segala urusan. (10) Dan sabarlah
menghadapi segala yang mereka katakan, dan tinggalkanlah mereka dengan cara
yang baik (dan terhormat).
Allah adalah segalanya. Dia bukan di satu tempat, melainkan
di semua tempat, dan Dia Tuhan semua tempat. Dia menguasai dunia. Karenanya Dia
tak akan dapat dirintangi oleh segala tipu muslihat dan permusuhan orang-orang
durjana.
Maka, serahkan semua ini kepada Allah, tawakallah
kepada-Nya; Dia Mahaadil dan berlaku adil.
Tinggalkanlah orang-orang zalim, tapi dengan cara yang baik
dan terhormat, yakni perlihatkan kepada mereka bahwa kita tidak takut
menghadapi mereka. Serahkanlah segala persoalan itu ke tangan Allah.
Kalau kita membagi dunia ke dalam belahan bumi dari utara ke
selatan, maka “Timur dan Barat” akan meliputi semua jurusan.
Demikian! []
Baca juga: Yang Berselimut (1)

0 Komentar