Inilah al-Masad (tali-temali yang dipilin), surah 111. Lazim kita kenali sebagai al-Lahab atau (bapak) nyala api.
Surah ini berkenaan dengan permusuhan sengit yang selalu ditunjukkan paman Nabi, Abu Lahab, terhadap risalah yang dibawa Baginda Nabi Muhammad Saw.
Suatu permusuhan yang berakar dari wataknya yang sombong,
kebanggaan atas kekayaannya yang berlimpah, serta ketidaksukaannya terhadap
gagasan yang dibawa Nabi Muhammad Saw., yakni bahwa semua manusia mempunyai
kedudukan yang sama di hadapan Tuhan dan akan diadili oleh-Nya semata-mata
karena baik-buruk perilakunya sendiri.
Seperti dikisahkan oleh beberapa ahli yang tak
terbantahkan—di antaranya Al-Bukhari dan Muslim—pada suatu hari, Nabi Muhammad
Saw. mendaki Bukit Al-Shafa di Makkah dan menyeru semua orang dari antara
sukunya, Quraisy, yang bisa mendengarnya.
Ketika mereka telah berkumpul, Nabi menanyai mereka, “Wahai,
Bani ‘Abdul Muthalib! Wahai, Bani Fihri! Seandainya aku beritakan kepada kalian
bahwa ada pasukan musuh yang akan menyerang kalian dari balik bukit itu,
akankah kalian memercayaiku?” Mereka menjawab, “Ya, kami percaya.” Kemudian
beliau berkata, “Kalau begitu, perhatikanlah. Kini aku berada di sini untuk
memperingatkan kalian akan kedatangan Saat Terakhir!” Serta merta Abu Lahab
berseru, “Untuk tujuan inikah engkau memanggil kami? Binasalah engkau!”
Sesaat kemudian, diwahyukanlah surah ini.
تَبَّتۡ يَدَآ أَبِي لَهَبٖ وَتَبَّ, Binasalah kedua
tangan dia, yang wajahnya merah menyala, dan binasalah dia! (al-Masad
[111]: 1)
Nama asli paman Nabi ini adalah ‘Abd Al-‘Uzza. Secara
populer, dia dijuluki dengan nama Abu Lahab (lit., “Bapak Api”) karena
ketampanannya, yang tampak amat menonjol dari raut wajahnya yang merah menyala.
Karena julukan—atau kun-yah—ini tampaknya telah
diberikan kepadanya bahkan sebelum datangnya Islam, tidak ada alasan untuk
menganggap bahwa julukan tersebut memiliki makna peyoratif (merendahkan).
Dan, sesuai dengan penggunaannya dalam bahasa Arab klasik,
ungkapan “tangan” dalam kalimat di atas merupakan metonimia bagi “kekuasaan”,
yang mengacu pada kuatnya pengaruh yang dimiliki Abu Lahab.
مَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُ مَالُهُۥ وَمَا كَسَبَ, Apalah faedah
harta bendanya baginya, dan segala yang telah dia usahakan? (al-Masad
[111]: 2)
سَيَصۡلَىٰ نَارٗا ذَاتَ لَهَبٖ --- وَٱمۡرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ
ٱلۡحَطَبِ --- فِي جِيدِهَا حَبۡلٞ مِّن مَّسَدِۢ
(3) [Di akhirat,] dia akan merasakan api yang
hebat menyala, (4) bersama istrinya, pembawa cerita-cerita jahat,
(5) [yang memakai] di lehernya untaian tali-temali yang dipilin!
Ungkapan نَارٗا ذَاتَ لَهَبٖ, merupakan permainan makna yang
halus dari julukan Abu Lahab.
Kemudian, secara literal حَمَّالَةَ ٱلۡحَطَبِ adalah
“pembawa kayu bakar”—sebuah ungkapan idiomatik yang masyhur yang menunjukkan
orang yang secara sembunyi-sembunyi membawa cerita-cerita jahat dan fitnah dari
satu orang ke orang lainnya “sedemikian rupa sehingga mengobarkan api kebencian
di antara mereka”.
Dan nama perempuan yang suka membawa berita atau cerita jahat
itu adalah Arwa umm Jamil binti Harb ibn Umayyah. Dia adalah saudara perempuan
Abu Sufyan dan, dengan demikian, adalah bibi Mu’awiyyah dari pihak ayah,
pendiri Dinasti Umayyah.
Kebenciannya terhadap Nabi Muhammad Saw. dan
pengikut-pengikutnya sedemikian kuat sehingga dia sering kali, di tengah
gelapnya malam, menaburkan duri di depan rumah Nabi untuk menyakitinya; dan dia
memanfaatkan kepandaiannya dalam berbicara untuk terus-menerus memfitnah Nabi
dan risalahnya.
Lantas, istilah masad berarti apa saja yang terbuat
dari tali yang dipilin, terlepas dari bahan pembuatnya. Dalam pengertian
abstraknya—yang tampaknya dipergunakan di sini—frasa di atas tampaknya memiliki
dua pengertian: pertama, secara tidak langsung mengacu pada sifat
perempuan di atas yang bengkok dan menyimpang serta, kedua, mengacu pada
kebenaran spiritual bahwa “nasib setiap manusia telah Kami ikatkan di lehernya”
yang, bersama dengan ayat 2 (apalah faedah harta bendanya baginya, dan
segala yang telah dia usahakan?), mengungkapkan makna umum dan abadi dari
surah al-Masad ini.
Dalam ayat lain, وَكُلَّ إِنسَٰنٍ أَلۡزَمۡنَٰهُ طَٰٓئِرَهُۥ فِي
عُنُقِهِۦۖ وَنُخۡرِجُ لَهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ كِتَٰبٗا يَلۡقَىٰهُ مَنشُورًا, dan,
nasib setiap manusia telah Kami ikatkan di lehernya; pada Hari Kebangkitan akan
Kami keluarkan baginya sebuah catatan yang dijumpainya terbuka lebar. (al-Isra’
[17]: 13)
Kata طَٰٓئِرَهُ secara harfiah berarti “burung”, atau lebih
tepatnya “makhluk terbang”.
Karena bangsa Arab pra-Islam sering berupaya menentukan
pertanda baik dan pertanda buruk, dan pada umumnya berusaha meramalkan masa
depan dengan melihat cara dan arah terbangnya burung, istilah طَٰٓئِرَهُ
akhirnya secara figuratif digunakan dalam pengertian “peruntungan” (yang baik
maupun yang buruk) atau “nasib”.
Namun, kita mesti ingat bahwa konsep Qur’an tentang “nasib”
tidak banyak sangkut-pautnya dengan keadaan eksternal dan peristiwa-peristiwa
yang terjadi dalam hidup manusia; alih-alih, ia berkaitan dengan arah kehidupan
yang terjadi sebagai akibat dari hasil pilihan moral seseorang.
Dengan kata lain, ia berhubungan dengan takdir spiritual
manusia, dan hal ini pada gilirannya bergantung pada—sebagaimana sering
dijelaskan al-Qur’an—kecenderungan, sikap, dan tindakan sadar seseorang (termasuk
menahan diri dari berbuat jahat ataupun dengan sengaja tidak mau berbuat baik).
Oleh karena itu, takdir spiritual manusia bergantung
pada dirinya sendiri, dan berkaitan erat dengan keseluruhan karakter
pribadinya. Dan, karena Allah-lah yang menjadikan manusia bertanggung jawab
atas tingkah lakunya di dunia. Allah Ta’ala menyebut diri-Nya sendiri sebagai
telah “mengikatkan nasib setiap manusia pada lehernya”.
Demikian pemaparan Muhammad Asad atas surah al-Lahab! []
Baca juga: Yang Berselubung (7)

0 Komentar