Yang Berselubung (7)

Kerap kita kebingungan menangkap ayat-ayat-Nya, karena seolah tampak kontradiksi. Padahal, kalau kita kembalikan dengan merujuk penafsiran yang komprehensif, hal itu akan jelas. Dan, Muhammad Asad, salah sekian dari penafsir yang berhasil mengatasi kebingungan tersebut.

فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ --- كَأَنَّهُمۡ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ --- فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۢ

(49) Lalu, ada apa gerangan dengan mereka sehingga mereka berpaling dari semua peringatan (50) seakan-akan mereka itu keledai-keledai yang ketakutan (51) yang lari dari seekor singa?

Ya, ada apa gerangan, dengan begitu banyaknya orang yang menolak mengikuti kebenaran.

بَلۡ يُرِيدُ كُلُّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفٗا مُّنَشَّرَةٗ, Ya, setiap orang di antara mereka menuntut agar dia [sendirilah] yang seharusnya diberi wahyu-wahyu yang terbentang! (al-Muddatstsir [74]: 52)

“Kitab yang terbentang” yakni, kitab yang terbuka bagi pemahaman setiap orang. Dan mereka menginginkan itu, bahwa kitab suci turun terhadap diri mereka.

وَقَالَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ لَوۡلَا يُكَلِّمُنَا ٱللَّهُ أَوۡ تَأۡتِينَآ ءَايَةٞۗ كَذَٰلِكَ قَالَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِم مِّثۡلَ قَوۡلِهِمۡۘ تَشَٰبَهَتۡ قُلُوبُهُمۡۗ قَدۡ بَيَّنَّا ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يُوقِنُونَ

Dan, [hanya] orang-orang yang tak berpengetahuan[lah yang] berkata, “Mengapa Allah tidak berbicara kepada kami dan tidak pula ada suatu tanda [yang menakjubkan] ditunjukkan kepada kami?”… (al-Baqarah [2]: 118)

Bahwa orang-orang yang tidak mampu memahami kebenaran intrinsik dari pesan-pesan yang disampaikan kepada mereka oleh para nabi, alih-alih menunut  suatu “bukti” mukjizat bahwa pesan-pesan tersebut benar-benar berasal dari Allah.

Kalaupun benar-benar dari Allah, mereka pun masih menunut, “kenapa Dia tidak berbicara langsung kepada kami”—yakni tanpa perantaraan seorang nabi. Sungguh, betapa sombong mereka. Dan ayat 52 surah Muddatstsir ini merupakan ilustrasi paling awal tentang “kesombongan” dan “kebanggaan batil” yang begitu sering disinggung al-Qur’an.

كَلَّاۖ بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ, Tidak, tetapi mereka tidak [beriman kepadanya dan, karena itu, tidak] takut kepada kehidupan akhirat. (al-Muddatstsir [74]: 53)

كَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٞ --- فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ Tidak, sungguh, ini adalah suatu peringatandan siapa pun yang menghendaki dapat mencamkannya dalam hati. (al-Muddatstsir [74]: 54-55)

وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ, Namun, mereka [yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat] tidak akan mencamkannya dalam hati, kecuali jika Allah memang menghendakinya: [sebab] Dia-lah Sumber bagi segala kesadaran akan Tuhan dan Sumber segala ampunan. (al-Muddatstsir [74]: 56)

Ungkapan “kecuali jika Allah memang menghendakinya”, yakni, kecuali Dia memberikan rahmat-Nya kepada mereka dengan membuat hati dan pikiran mereka mau menerima kebenaran. Sehingga, mereka terdorong—dari dalam diri mereka sendiri—untuk membuat pilihan yang benar.

Dalam ayat yang lain, لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ --- وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ, untuk siapa pun di antara kalian yang mau menempuh jalan yang lurus, namun, kalian tidaklah dapat menghendakinya, kecuali jika Allah, Pemelihara seluruh alam, berkehendak [untuk menunjukkan kepada kalian jalan itu]. (al-Takwir [81]: 28-29)

Memang, sekali lagi seolah-olah tampak kontradiksi antara kedua ayat tersebut, tapi sebetulnya tidak jika kita menempatkan formulasi eliptis yang pas. Muhammad Asad mengatasinya dengan terjemahan, “Kami telah menunjukinya jalan: [dan terserah kepadanya untuk membuktikan dirinya sendiri] apakah bersyukur atau tidak bersyukur”. Sehingga, hal ini menyiratkan bahwa pilihan untuk menempuh jalan yang benar terbuka bagi siapa saja yang bersedia menerima petunjuk Allah.

Sungguh, semua ini adalah peringatan: maka, siapa yang menghendaki, niscaya dia menemukan jalan kepada Pemeliharanya. Namun, kalian tidak dapat menghendakinya, kecuali jika Allah berkehendak [untuk menunjukkan kepada kalian jalan itu]; sebab, perhatikanlah, Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. (al-Insan [76]: 29-30).

Demikian! []

Baca juga: Yang Berselubung (6)

Posting Komentar

0 Komentar