Kerap kita kebingungan menangkap ayat-ayat-Nya, karena seolah tampak kontradiksi. Padahal, kalau kita kembalikan dengan merujuk penafsiran yang komprehensif, hal itu akan jelas. Dan, Muhammad Asad, salah sekian dari penafsir yang berhasil mengatasi kebingungan tersebut.
فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ --- كَأَنَّهُمۡ حُمُرٞ
مُّسۡتَنفِرَةٞ --- فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۢ
(49) Lalu, ada apa gerangan dengan mereka sehingga mereka
berpaling dari semua peringatan (50) seakan-akan mereka itu
keledai-keledai yang ketakutan (51) yang lari dari seekor singa?
Ya, ada apa gerangan, dengan begitu banyaknya orang yang
menolak mengikuti kebenaran.
بَلۡ يُرِيدُ كُلُّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفٗا مُّنَشَّرَةٗ,
Ya, setiap orang di antara mereka menuntut agar dia [sendirilah] yang
seharusnya diberi wahyu-wahyu yang terbentang! (al-Muddatstsir [74]: 52)
“Kitab yang terbentang” yakni, kitab yang terbuka
bagi pemahaman setiap orang. Dan mereka menginginkan itu, bahwa kitab suci
turun terhadap diri mereka.
وَقَالَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ لَوۡلَا يُكَلِّمُنَا ٱللَّهُ
أَوۡ تَأۡتِينَآ ءَايَةٞۗ كَذَٰلِكَ قَالَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِم مِّثۡلَ قَوۡلِهِمۡۘ
تَشَٰبَهَتۡ قُلُوبُهُمۡۗ قَدۡ بَيَّنَّا ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يُوقِنُونَ
Dan, [hanya] orang-orang yang tak
berpengetahuan[lah yang] berkata, “Mengapa Allah tidak berbicara
kepada kami dan tidak pula ada suatu tanda [yang menakjubkan]
ditunjukkan kepada kami?”… (al-Baqarah [2]: 118)
Bahwa orang-orang yang tidak mampu memahami kebenaran
intrinsik dari pesan-pesan yang disampaikan kepada mereka oleh para nabi,
alih-alih menunut suatu “bukti” mukjizat
bahwa pesan-pesan tersebut benar-benar berasal dari Allah.
Kalaupun benar-benar dari Allah, mereka pun masih menunut,
“kenapa Dia tidak berbicara langsung kepada kami”—yakni tanpa perantaraan
seorang nabi. Sungguh, betapa sombong mereka. Dan ayat 52 surah Muddatstsir ini
merupakan ilustrasi paling awal tentang “kesombongan” dan “kebanggaan batil”
yang begitu sering disinggung al-Qur’an.
كَلَّاۖ بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ, Tidak, tetapi mereka
tidak [beriman kepadanya dan, karena itu, tidak] takut kepada
kehidupan akhirat. (al-Muddatstsir [74]: 53)
كَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٞ --- فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ Tidak,
sungguh, ini adalah suatu peringatan—dan siapa pun yang menghendaki
dapat mencamkannya dalam hati. (al-Muddatstsir [74]: 54-55)
وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ
وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ, Namun, mereka [yang tidak beriman kepada
kehidupan akhirat] tidak akan mencamkannya dalam hati, kecuali jika Allah
memang menghendakinya: [sebab] Dia-lah Sumber bagi segala
kesadaran akan Tuhan dan Sumber segala ampunan. (al-Muddatstsir [74]: 56)
Ungkapan “kecuali jika Allah memang menghendakinya”, yakni,
kecuali Dia memberikan rahmat-Nya kepada mereka dengan membuat hati dan
pikiran mereka mau menerima kebenaran. Sehingga, mereka terdorong—dari dalam
diri mereka sendiri—untuk membuat pilihan yang benar.
Dalam ayat yang lain, لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ
--- وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ, untuk
siapa pun di antara kalian yang mau menempuh jalan yang lurus, namun, kalian
tidaklah dapat menghendakinya, kecuali jika Allah, Pemelihara seluruh alam,
berkehendak [untuk menunjukkan kepada kalian jalan itu]. (al-Takwir
[81]: 28-29)
Memang, sekali lagi seolah-olah tampak kontradiksi antara
kedua ayat tersebut, tapi sebetulnya tidak jika kita menempatkan formulasi
eliptis yang pas. Muhammad Asad mengatasinya dengan terjemahan, “Kami telah
menunjukinya jalan: [dan terserah kepadanya untuk membuktikan dirinya sendiri]
apakah bersyukur atau tidak bersyukur”. Sehingga, hal ini menyiratkan bahwa
pilihan untuk menempuh jalan yang benar terbuka bagi siapa saja yang bersedia
menerima petunjuk Allah.
Sungguh, semua ini adalah peringatan: maka, siapa yang
menghendaki, niscaya dia menemukan jalan kepada Pemeliharanya. Namun, kalian
tidak dapat menghendakinya, kecuali jika Allah berkehendak [untuk menunjukkan
kepada kalian jalan itu]; sebab, perhatikanlah, Allah Maha Mengetahui, Maha
Bijaksana. (al-Insan [76]: 29-30).
Demikian! []
Baca juga: Yang Berselubung (6)

0 Komentar