Pena (3)

“Mengapa orang yang jahat hidup makmur?” suatu pertanyaan yang selalu timbul sepanjang zaman.

Dan untuk menjawabnya pun tidak mudah. Harus mengacu pada (1) pilihan terserah kepada kehendak manusia, (2) tanggung jawab moralnya, (3) perlunya menyesuaikan kehendaknya dengan kehendak Allah, (4) sifat kesabaran Allah, yang memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya untuk digunakan, (5) karunia-Nya, dan (6) dalam usaha terakhir, sifat hukuman rohani, yang bukan hanya sekadar tindakan tiba-tiba dan sewenang-wenang, tetapi melalui suatu proses yang panjang dan berangsur-angsur, yang dengan itu pada setiap tahap masih ada peluang untuk bertobat.

Nah, Allah melukiskan hal itu dalam al-Qalam [68]: 17-32.

إِنَّا بَلَوۡنَٰهُمۡ كَمَا بَلَوۡنَآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡجَنَّةِ إِذۡ أَقۡسَمُواْ لَيَصۡرِمُنَّهَا مُصۡبِحِينَ --- وَلَا يَسۡتَثۡنُونَ ---  فَطَافَ عَلَيۡهَا طَآئِفٞ مِّن رَّبِّكَ وَهُمۡ نَآئِمُونَ --- فَأَصۡبَحَتۡ كَٱلصَّرِيمِ

(17) Sungguh, Kami telah menguji mereka sebagaimana Kami menguji para pemilik kebun, ketika mereka bertekad hendak memetik hasil (kebun) di pagi hari, (18) tetapi mereka tidak menyisihkan [jika itu menjadi kehendak Allah], (19) maka datanglah [ke kebun] bencana dari Tuhanmu, sementara mereka sedang tidur, (20) maka pagi harinya menjadi seperti daerah tandus yang hitam [yang sudah dipetik buahnya].

Allah melukiskan dalam perumpamaan yang begitu indah dalam sosok para pemilik kebun, yang mencerminkan kerakusan, keserakahan dan ketidakpedulian manusia, begitu kecenderungannya untuk melemparkan kesalahan kepada orang lain karena yang dapat dipikirkan hanya mencari kambing hitam.

Semua kelemahan ini diperlihatkan, tetapi karunia Allah tak terbatas. Bahkan setelah dosa dan hukuman yang terberat sekalipun, mungkin harapan masih ada untuk memperoleh kebun buah-buahan yang lebih baik dari yang sudah hilang. Asal saja ia bertobat dengan bersungguh-sungguh dan benar-benar berserah diri kepada kehendak Allah.

Tetapi, lepas dari semua ini, jika ia tetap membangkang, maka hukuman di akhirat lebih besar, yang tak dapat dibandingkan dengan segala malapetaka kecil dalam perumpamaan itu.

Kemudian, dalam ayat 18 seolah Allah mengingatkan bahwa sedianya semua permohonan kita, kita harus selalu ingat, keberhasilan kita tergantung pada sampai berapa jauh kita menyesuaikan diri dengan kehendak Allah. Betapa takdir Allah berada di atas segalanya.

Sehingga, orang-orang yang bodoh itu membuat rencana rahasia hendak mengecoh orang-orang miskin dari hak-hak mereka yang sah, tetapi mereka berada dalam suatu posisi yang tak memungkinkan berbuat begitu. Dalam usaha hendak menggagalkan orang lain, ternyata mereka sendiri yang gagal.

Bahwa kemudian badai dahsyat datang bertiup dan menghancurkan buah-buahan dan pohon-pohon. Tempat itu seluruhnya berubah hingga tak dapat dikenal lagi.

فَتَنَادَوۡاْ مُصۡبِحِينَ --- أَنِ ٱغۡدُواْ عَلَىٰ حَرۡثِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰرِمِينَ

(21) Pada pagi hari mereka saling memanggil, (22) “Pergilah kamu pagi-pagi ke ladangmu, jika kamu hendak memetik buah.

Bangun tidur mereka tak sadar bahwa kebun itu semalam sudah direnggut oleh angin topan. Mereka masih dalam impian mereka yang rakus; dengan pergi pagi-pagi sekali mereka pikir akan dapat memperdaya orang-orang papa itu atas bagian mereka.

فَٱنطَلَقُواْ وَهُمۡ يَتَخَٰفَتُونَ --- أَن لَّا يَدۡخُلَنَّهَا ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكُم مِّسۡكِينٞ --- وَغَدَوۡاْ عَلَىٰ حَرۡدٖ قَٰدِرِينَ

(23) Maka mereka pun berangkat, sambil berbisik-bisik, (24) supaya “Jangan ada seorang miskin pun yang memasukinya hari ini,” (25) dan pagi-pagi mereka berangkat dengan kemampuan dan itikad [tidak baik].

Padahal orang-orang miskin itu punya hak memetik, baik sebagai seorang pemungut sisa-sisa, pekerja ahli atau pekerja kasar di desa-desa di Timur.

Para pemilik kebun yang kaya dalam tamsil itu diam-diam ingin mendahului mengambil hak orang lain pagi-pagi sekali dan merampas haknya. Tetapi keserakahan mereka itu menerima hukuman sehingga dengan demikian kerugian mereka lebih besar lagi.

Mereka mau berkhianat tetapi tidak berani menghadapi orang yang akan dikhianati. Dengan memasuki ladang sebelum orang lain bangun, mereka ingin memperlihatkan bahwa mereka tidak menyadari telah menginjak-injak hak orang.

فَلَمَّا رَأَوۡهَا قَالُوٓاْ إِنَّا لَضَآلُّونَ --- بَلۡ نَحۡنُ مَحۡرُومُونَ

(26) Tetapi setelah mereka melihatnya, mereka berkata: “Sungguh kami telah sesat jalan; (27) bahkan kami tak memperoleh apa pun [dari hasil jerih payah kami]!”

Kegemaran mereka bermimpi itu terkikis sudah ketika melihat bahwa kebun itu sudah berubah hingga tak dapat dikenal lagi. Seolah mereka datang ke tempat lain, bukan kebun mereka sendiri yang ceria itu.

Sementara mereka sedang menanti-nantikan hendak memperoleh panen besar, ternyata yang ada hanya tanah gersang yang menganga. Mereka tercenung. Yang pertama mereka pikirkan ialah kerugiannya sendiri, rugi tenaga dan rugi modal. Rencana mereka hendak menjauhkan orang dari buah-buahan itu. Tapi yang terjadi sekarang, mereka sendirilah yang rugi.

قَالَ أَوۡسَطُهُمۡ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ لَوۡلَا تُسَبِّحُونَ, Salah seorang di antara yang paling bijak berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepada kamu, mengapa kamu tidak mengagungkan [Allah]?” (al-Qalam [68]: 28)

Ini tidak berarti harus orang beriman, tetapi kesalahan itu memang bertingkat-tingkat. Dia telah memperingatkan mereka, tetap dia sendiri ikut dalam rencana yang jahat itu.

قَالُواْ سُبۡحَٰنَ رَبِّنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ --- فَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَلَٰوَمُونَ

(29) Mereka berkata: “Mahasuci Tuhan kami! Sungguh kami telah berbuat salah!” (30) lalu mereka berpaling, yang satu kepada yang lain, saling menyalahkan.

Jika keserakahan atau ketidakadilan itu sudah mendapat hukuman, maka orang sudah siap mau menyalahkan orang lain. Dalam hal ini mungkin ada orang tertentu yang melihat perbuatan salah itu dengan melawan kehendak Allah dan hak manusia, tetapi jika dia ikut dalam usaha itu dengan harapan akan mendapat keuntungan, ia pun tak dapat lepas dari tanggung jawab.

 قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا طَٰغِينَ --- عَسَىٰ رَبُّنَآ أَن يُبۡدِلَنَا خَيۡرٗا مِّنۡهَآ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا رَٰغِبُونَ

(31) Mereka berkata: “Celaka kita! Sungguh kita memang orang-orang penindas! (32) mudah-mudahan Tuhan akan mengganti [kebun] yang lebih baik dari ini untuk kami; kami kembali kepada Tuhan [dalam bertobat]!”

Jika tobat itu memang sungguh-sungguh, harapan masih ada, sebab tak jarang suatu dosa oleh Allah dibalik menjadi sesuatu yang baik buat kita. Tetapi kalau tidak sungguh-sungguh, mereka hanya akan menambahkan kemunafikan atas dosa-dosa mereka itu.

Walhasil, sekali lagi tamsil ini mengandaikan bahwa kebun itu menjadi milik orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri, orang-orang yang membusungkan dada karena mendapat nasib baik, sehingga mereka lupa kepada Allah. Ini berarti bahwa mereka juga menjadi tega terhadap sesama.

Dalam kesombongannya itu mereka bersepakat mau bangun pagi-pagi dan merampas hak-hak orang miskin pada waktu panen. Mereka melihat kebun itu sudah lumat diterjang angin topan. Mereka masing-masing saling menyalahkan, tetapi siapa pun yang benar-benar bertobat akan mendapat karunia.

Demikian terjemahan dan tafsir Abdullah Yusuf Ali dalam Qalam [pena] atau Nun ayat 17-32. []

Baca juga: Pena (2) 

Posting Komentar

0 Komentar