“Mengapa orang yang jahat hidup makmur?” suatu pertanyaan yang selalu timbul sepanjang zaman.
Dan untuk menjawabnya pun tidak mudah. Harus mengacu pada (1) pilihan terserah kepada kehendak manusia, (2) tanggung jawab moralnya, (3) perlunya menyesuaikan kehendaknya dengan kehendak Allah, (4) sifat kesabaran Allah, yang memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya untuk digunakan, (5) karunia-Nya, dan (6) dalam usaha terakhir, sifat hukuman rohani, yang bukan hanya sekadar tindakan tiba-tiba dan sewenang-wenang, tetapi melalui suatu proses yang panjang dan berangsur-angsur, yang dengan itu pada setiap tahap masih ada peluang untuk bertobat.
Nah, Allah melukiskan hal itu dalam al-Qalam [68]: 17-32.
إِنَّا بَلَوۡنَٰهُمۡ كَمَا بَلَوۡنَآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡجَنَّةِ إِذۡ
أَقۡسَمُواْ لَيَصۡرِمُنَّهَا مُصۡبِحِينَ --- وَلَا يَسۡتَثۡنُونَ --- فَطَافَ عَلَيۡهَا طَآئِفٞ مِّن رَّبِّكَ وَهُمۡ
نَآئِمُونَ --- فَأَصۡبَحَتۡ كَٱلصَّرِيمِ
(17) Sungguh, Kami telah menguji mereka sebagaimana Kami
menguji para pemilik kebun, ketika mereka bertekad hendak memetik hasil (kebun)
di pagi hari, (18) tetapi mereka tidak menyisihkan [jika itu menjadi
kehendak Allah], (19) maka datanglah [ke kebun] bencana dari Tuhanmu,
sementara mereka sedang tidur, (20) maka pagi harinya menjadi seperti
daerah tandus yang hitam [yang sudah dipetik buahnya].
Allah melukiskan dalam perumpamaan yang begitu indah dalam
sosok para pemilik kebun, yang mencerminkan kerakusan, keserakahan dan
ketidakpedulian manusia, begitu kecenderungannya untuk melemparkan kesalahan
kepada orang lain karena yang dapat dipikirkan hanya mencari kambing hitam.
Semua kelemahan ini diperlihatkan, tetapi karunia Allah tak
terbatas. Bahkan setelah dosa dan hukuman yang terberat sekalipun, mungkin
harapan masih ada untuk memperoleh kebun buah-buahan yang lebih baik dari yang
sudah hilang. Asal saja ia bertobat dengan bersungguh-sungguh dan benar-benar
berserah diri kepada kehendak Allah.
Tetapi, lepas dari semua ini, jika ia tetap membangkang,
maka hukuman di akhirat lebih besar, yang tak dapat dibandingkan dengan segala
malapetaka kecil dalam perumpamaan itu.
Kemudian, dalam ayat 18 seolah Allah mengingatkan bahwa
sedianya semua permohonan kita, kita harus selalu ingat, keberhasilan kita
tergantung pada sampai berapa jauh kita menyesuaikan diri dengan kehendak
Allah. Betapa takdir Allah berada di atas segalanya.
Sehingga, orang-orang yang bodoh itu membuat rencana rahasia
hendak mengecoh orang-orang miskin dari hak-hak mereka yang sah, tetapi mereka
berada dalam suatu posisi yang tak memungkinkan berbuat begitu. Dalam usaha
hendak menggagalkan orang lain, ternyata mereka sendiri yang gagal.
Bahwa kemudian badai dahsyat datang bertiup dan
menghancurkan buah-buahan dan pohon-pohon. Tempat itu seluruhnya berubah hingga
tak dapat dikenal lagi.
فَتَنَادَوۡاْ مُصۡبِحِينَ --- أَنِ ٱغۡدُواْ عَلَىٰ حَرۡثِكُمۡ
إِن كُنتُمۡ صَٰرِمِينَ
(21) Pada pagi hari mereka saling memanggil, (22) “Pergilah
kamu pagi-pagi ke ladangmu, jika kamu hendak memetik buah.”
Bangun tidur mereka tak sadar bahwa kebun itu semalam sudah
direnggut oleh angin topan. Mereka masih dalam impian mereka yang rakus; dengan
pergi pagi-pagi sekali mereka pikir akan dapat memperdaya orang-orang papa itu
atas bagian mereka.
فَٱنطَلَقُواْ وَهُمۡ يَتَخَٰفَتُونَ --- أَن لَّا يَدۡخُلَنَّهَا
ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكُم مِّسۡكِينٞ --- وَغَدَوۡاْ عَلَىٰ حَرۡدٖ قَٰدِرِينَ
(23) Maka mereka pun berangkat, sambil berbisik-bisik,
(24) supaya “Jangan ada seorang miskin pun yang memasukinya hari ini,”
(25) dan pagi-pagi mereka berangkat dengan kemampuan dan itikad [tidak
baik].
Padahal orang-orang miskin itu punya hak memetik, baik
sebagai seorang pemungut sisa-sisa, pekerja ahli atau pekerja kasar di
desa-desa di Timur.
Para pemilik kebun yang kaya dalam tamsil itu diam-diam
ingin mendahului mengambil hak orang lain pagi-pagi sekali dan merampas haknya.
Tetapi keserakahan mereka itu menerima hukuman sehingga dengan demikian
kerugian mereka lebih besar lagi.
Mereka mau berkhianat tetapi tidak berani menghadapi orang
yang akan dikhianati. Dengan memasuki ladang sebelum orang lain bangun, mereka
ingin memperlihatkan bahwa mereka tidak menyadari telah menginjak-injak hak
orang.
فَلَمَّا رَأَوۡهَا قَالُوٓاْ إِنَّا لَضَآلُّونَ --- بَلۡ نَحۡنُ
مَحۡرُومُونَ
(26) Tetapi setelah mereka melihatnya, mereka berkata:
“Sungguh kami telah sesat jalan; (27) bahkan kami tak memperoleh apa pun
[dari hasil jerih payah kami]!”
Kegemaran mereka bermimpi itu terkikis sudah ketika melihat
bahwa kebun itu sudah berubah hingga tak dapat dikenal lagi. Seolah mereka
datang ke tempat lain, bukan kebun mereka sendiri yang ceria itu.
Sementara mereka sedang menanti-nantikan hendak memperoleh
panen besar, ternyata yang ada hanya tanah gersang yang menganga. Mereka
tercenung. Yang pertama mereka pikirkan ialah kerugiannya sendiri, rugi tenaga
dan rugi modal. Rencana mereka hendak menjauhkan orang dari buah-buahan itu.
Tapi yang terjadi sekarang, mereka sendirilah yang rugi.
قَالَ أَوۡسَطُهُمۡ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ لَوۡلَا تُسَبِّحُونَ,
Salah seorang di antara yang paling bijak berkata: “Bukankah sudah kukatakan
kepada kamu, mengapa kamu tidak mengagungkan [Allah]?” (al-Qalam
[68]: 28)
Ini tidak berarti harus orang beriman, tetapi kesalahan itu
memang bertingkat-tingkat. Dia telah memperingatkan mereka, tetap dia sendiri
ikut dalam rencana yang jahat itu.
قَالُواْ سُبۡحَٰنَ رَبِّنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ --- فَأَقۡبَلَ
بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَلَٰوَمُونَ
(29) Mereka berkata: “Mahasuci Tuhan kami! Sungguh kami
telah berbuat salah!” (30) lalu mereka berpaling, yang satu kepada yang
lain, saling menyalahkan.
Jika keserakahan atau ketidakadilan itu sudah mendapat
hukuman, maka orang sudah siap mau menyalahkan orang lain. Dalam hal ini
mungkin ada orang tertentu yang melihat perbuatan salah itu dengan melawan
kehendak Allah dan hak manusia, tetapi jika dia ikut dalam usaha itu dengan
harapan akan mendapat keuntungan, ia pun tak dapat lepas dari tanggung jawab.
قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ
إِنَّا كُنَّا طَٰغِينَ --- عَسَىٰ رَبُّنَآ أَن يُبۡدِلَنَا خَيۡرٗا مِّنۡهَآ إِنَّآ
إِلَىٰ رَبِّنَا رَٰغِبُونَ
(31) Mereka berkata: “Celaka kita! Sungguh kita memang
orang-orang penindas! (32) mudah-mudahan Tuhan akan mengganti [kebun]
yang lebih baik dari ini untuk kami; kami kembali kepada Tuhan [dalam
bertobat]!”
Jika tobat itu memang sungguh-sungguh, harapan masih ada,
sebab tak jarang suatu dosa oleh Allah dibalik menjadi sesuatu yang baik buat
kita. Tetapi kalau tidak sungguh-sungguh, mereka hanya akan menambahkan
kemunafikan atas dosa-dosa mereka itu.
Walhasil, sekali lagi tamsil ini mengandaikan bahwa kebun
itu menjadi milik orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri, orang-orang
yang membusungkan dada karena mendapat nasib baik, sehingga mereka lupa kepada
Allah. Ini berarti bahwa mereka juga menjadi tega terhadap sesama.
Dalam kesombongannya itu mereka bersepakat mau bangun
pagi-pagi dan merampas hak-hak orang miskin pada waktu panen. Mereka melihat
kebun itu sudah lumat diterjang angin topan. Mereka masing-masing saling
menyalahkan, tetapi siapa pun yang benar-benar bertobat akan mendapat karunia.
Demikian terjemahan dan tafsir Abdullah Yusuf Ali dalam Qalam
[pena] atau Nun ayat 17-32. []
Baca juga: Pena (2)

0 Komentar