Pena (2)


Pada Pena (2) ini, Qalam [pena] atau Nun ayat 8-16.

فَلَا تُطِعِ ٱلۡمُكَذِّبِينَ --- وَدُّواْ لَوۡ تُدۡهِنُ فَيُدۡهِنُونَ

(8) Maka janganlah kau patuhi para pendusta: (9) mereka menginginkan engkau bersikap lunak; mereka pun akan bersikap lunak.

Musuh-musuh agama Allah kadang menipu diri sendiri. Padahal, samar-samar kebenaran itu kerap kali menyinari mereka kendati mereka mau menutup mata.

Kemudian mereka mau berkompromi, dan menginginkan para penganjur kebenaran yang tak mereka senangi itu supaya berkompromi dengan mereka. Untuk itu mereka mau ada yang saling memuji.

Jalan pintas untuk memuaskan kedua kutub ini sangat berbahaya, sangat menggoda orang-orang beriman di antara kita, dan kita harus menjaga diri terhadap yang demikian, jika benar-benar kita ingin menjadi orang beriman dan bertakwa kepada Allah. Abu Jahl sering menawarkan macam-macam kompromi yang mustahil kepada Rasulullah.

وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافٖ مَّهِينٍ --- هَمَّازٖ مَّشَّآءِۢ بِنَمِيمٖ --- مَّنَّاعٖ لِّلۡخَيۡرِ مُعۡتَدٍ أَثِيمٍ --- عُتُلِّۢ بَعۡدَ ذَٰلِكَ زَنِيمٍ

(10) Janganlah pedulikan orang hina, yang suka bersumpah, (11) suka menggunjing dan mencela, berkeliling menyebarkan fitnah, (12) yang merintangi segala yang baik, pelaku dosa yang melampaui batas, (13) yang kasar (dan kejam), di samping itu, orang hina.

Dan, masing-masing watak keji macam begini ini sudah umum, tetapi lebih keji dan lebih hina lagi jika semua watak itu tertumpu ke dalam diri satu orang, seperti halnya dengan Walid bin ‘l-Mughirah yang menjadi biang keladi segala fitnah terhadap Nabi kita. Maka, perintahn-Nya: وَلَا تُطِع, dan jangan engkau pedulikan!

Dan tak lama kemudian, setelah perang Badr, Walid mengalami akibat buruk. Ia mengalami luka-luka.

Berikutnya, حَلَّافٖ مَّهِينٍ bahwa hanya pembohong saja yang suka bersumpah dalam segala hal, kecil atau besar, sebab kata-katanya memang sudah tak bisa dipercaya.

Pada ayat 13, عُتُلِّۢ بَعۡدَ ذَٰلِكَ زَنِيمٍ (seorang yang kasar, kejam dan pemalsu asal keturunan). Bahwa di samping menipu diri sendiri dan sembrono, ada lagi watak ketiga yang lebih hina. Ia tak pernah berpikir benar atau jujur.

Dengan setiap orang, ia siap bersumpah sebagai sahabat dan menyatakan kesetiaannya berjuang. Tetapi pada waktu yang sama ia juga siap memfitnah, dan membuat kejahatan sekalipun antara orang-orang yang baik tapi mudah percaya.

Segala yang jahat buat dia baik, dan segala yang baik jahat. Tidak hanya memburu kejahatan bahkan ia merintangi orang dari berkelakuan baik.

Bila ditegur ia lalu menggunakan kekerasan. Bagaimanapun juga dengan paksa ia mau mencampuri hal-hal yang bukan haknya, mengaku-ngaku punya hubungan atau kekuasaan atau perhatian, dalam suatu lingkungan yang sebenarnya tak akan mengakuinya.

Dia bangga dengan kekayaannya, atau bangga ia mempunyai pengikut yang banyak yang selalu siap membelanya. Buat dia agama hanyalah takhayul kuno.

أَن كَانَ ذَا مَالٖ وَبَنِينَ --- إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ

 (14) Sebab ia kaya dan banyak anak. (15) bila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Dongeng-dongeng orang dahulu kala,

Kata أَن كَان (sebab ia) mungkin ada hubungannya dengan jangan pedulikan dalam ayat 10, atau dengan kasar dan kejam dalam ayat 13.

Pada kasus yang pertama kita jabarkan, “Janganlah perhatikan orang-orang yang hina yang berwatak seperti disebutkan itu, sebab mereka hanya kebetulan saja punya kekayaan atau pengaruh, atau banyak didukung oleh tenaga manusia.”

Dalam kasus kedua ini kita jabarkan, “orang itu kasar dan kejam, sebab ia bangga dengan harta kekayaannya atau dengan dukungan tenaga manusianya.”

Dan bagaimanapun juga, dalam pandangan Allah, orang semacam ini dicap dan digolongkan sebagai orang berdosa.

إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا (bila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami) bahwa tanda-tanda kebesaran Allah, yang dengan itu Dia mengingatkan kita, terdapat di mana-mana, dalam alam, dalam hati dan pikiran kita sendiri.

سَنَسِمُهُۥ عَلَى ٱلۡخُرۡطُومِ, Kami akan menyelarnya (binatang) di bagian moncongnya. (al-Qalam [68]: 16)

Lantas, Kami akan menyelarnya (binatang) di bagian moncongnya, secara harfiah, belalai merupakan anggota badan gajah yang paling peka. Nah, orang yang berdosa menjadikan dirinya seekor binatang yang hanya dikemudikan oleh moncongnya.

Demikian terjemahan dan tafsirnya oleh Abdullah Yusuf Ali. []

Baca juga: Pena (1)

Posting Komentar

0 Komentar