فَلَا تُطِعِ ٱلۡمُكَذِّبِينَ --- وَدُّواْ لَوۡ تُدۡهِنُ فَيُدۡهِنُونَ
(8) Maka janganlah kau patuhi para pendusta: (9) mereka
menginginkan engkau bersikap lunak; mereka pun akan bersikap lunak.
Musuh-musuh agama Allah kadang menipu diri sendiri. Padahal, samar-samar kebenaran itu kerap kali menyinari mereka kendati mereka mau menutup mata.
Kemudian mereka mau berkompromi, dan menginginkan para
penganjur kebenaran yang tak mereka senangi itu supaya berkompromi dengan
mereka. Untuk itu mereka mau ada yang saling memuji.
Jalan pintas untuk memuaskan kedua kutub ini sangat
berbahaya, sangat menggoda orang-orang beriman di antara kita, dan kita harus
menjaga diri terhadap yang demikian, jika benar-benar kita ingin menjadi orang
beriman dan bertakwa kepada Allah. Abu Jahl sering menawarkan macam-macam
kompromi yang mustahil kepada Rasulullah.
وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافٖ مَّهِينٍ --- هَمَّازٖ مَّشَّآءِۢ
بِنَمِيمٖ --- مَّنَّاعٖ لِّلۡخَيۡرِ مُعۡتَدٍ أَثِيمٍ --- عُتُلِّۢ بَعۡدَ ذَٰلِكَ
زَنِيمٍ
(10) Janganlah pedulikan orang hina, yang suka bersumpah,
(11) suka menggunjing dan mencela, berkeliling menyebarkan fitnah, (12) yang
merintangi segala yang baik, pelaku dosa yang melampaui batas, (13) yang
kasar (dan kejam), di samping itu, orang hina.
Dan, masing-masing watak keji macam begini ini sudah umum,
tetapi lebih keji dan lebih hina lagi jika semua watak itu tertumpu ke dalam
diri satu orang, seperti halnya dengan Walid bin ‘l-Mughirah yang menjadi biang
keladi segala fitnah terhadap Nabi kita. Maka, perintahn-Nya: وَلَا تُطِع, dan
jangan engkau pedulikan!
Dan tak lama kemudian, setelah perang Badr, Walid mengalami
akibat buruk. Ia mengalami luka-luka.
Berikutnya, حَلَّافٖ مَّهِينٍ bahwa hanya pembohong saja
yang suka bersumpah dalam segala hal, kecil atau besar, sebab kata-katanya
memang sudah tak bisa dipercaya.
Pada ayat 13, عُتُلِّۢ بَعۡدَ ذَٰلِكَ زَنِيمٍ (seorang yang
kasar, kejam dan pemalsu asal keturunan). Bahwa di samping menipu diri sendiri
dan sembrono, ada lagi watak ketiga yang lebih hina. Ia tak pernah berpikir
benar atau jujur.
Dengan setiap orang, ia siap bersumpah sebagai sahabat dan
menyatakan kesetiaannya berjuang. Tetapi pada waktu yang sama ia juga siap
memfitnah, dan membuat kejahatan sekalipun antara orang-orang yang baik tapi
mudah percaya.
Segala yang jahat buat dia baik, dan segala yang baik jahat.
Tidak hanya memburu kejahatan bahkan ia merintangi orang dari berkelakuan baik.
Bila ditegur ia lalu menggunakan kekerasan. Bagaimanapun
juga dengan paksa ia mau mencampuri hal-hal yang bukan haknya, mengaku-ngaku
punya hubungan atau kekuasaan atau perhatian, dalam suatu lingkungan yang
sebenarnya tak akan mengakuinya.
Dia bangga dengan kekayaannya, atau bangga ia mempunyai
pengikut yang banyak yang selalu siap membelanya. Buat dia agama hanyalah
takhayul kuno.
أَن كَانَ ذَا مَالٖ وَبَنِينَ --- إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا
قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ
(14) Sebab ia kaya
dan banyak anak. (15) bila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia
berkata: “Dongeng-dongeng orang dahulu kala,”
Kata أَن كَان (sebab ia) mungkin ada hubungannya dengan jangan
pedulikan dalam ayat 10, atau dengan kasar dan kejam dalam ayat 13.
Pada kasus yang pertama kita jabarkan, “Janganlah perhatikan
orang-orang yang hina yang berwatak seperti disebutkan itu, sebab mereka hanya
kebetulan saja punya kekayaan atau pengaruh, atau banyak didukung oleh tenaga
manusia.”
Dalam kasus kedua ini kita jabarkan, “orang itu kasar dan
kejam, sebab ia bangga dengan harta kekayaannya atau dengan dukungan tenaga
manusianya.”
Dan bagaimanapun juga, dalam pandangan Allah, orang semacam
ini dicap dan digolongkan sebagai orang berdosa.
إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا (bila dibacakan
kepadanya ayat-ayat Kami) bahwa tanda-tanda kebesaran Allah, yang dengan itu
Dia mengingatkan kita, terdapat di mana-mana, dalam alam, dalam hati dan
pikiran kita sendiri.
سَنَسِمُهُۥ عَلَى ٱلۡخُرۡطُومِ, Kami akan menyelarnya
(binatang) di bagian moncongnya. (al-Qalam [68]: 16)
Lantas, Kami akan menyelarnya (binatang) di bagian
moncongnya, secara harfiah, belalai merupakan anggota badan gajah yang
paling peka. Nah, orang yang berdosa menjadikan dirinya seekor binatang yang
hanya dikemudikan oleh moncongnya.
Demikian terjemahan dan tafsirnya oleh Abdullah Yusuf Ali.
[]

0 Komentar