Kemudian Baginda Rasul keluar menuju pasukan, dan memotivasi mereka untuk berperang.
Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, tidak ada seorang pun dari kalian yang hari ini memerangi musuh dengan sabar, mengharap ridha Allah, dan maju tanpa mundur ke belakang, kecuali dia pasti Allah masukkan ke dalam surga.
Umair bin Al-Humam, saudara Bani Salimah, sembari memegang beberapa kurma yang hendak ia makan, berseru, “Hebat, hebat! Berarti tidak ada jarak antara aku dan masuk surga kecuali mereka membunuhku.”
Auf bin Harits bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang membuat Tuhan ridha pada hamba-Nya?”
“Tatkala kita lesakkan tangan kepada musuh tanpa mengenakan baju besi,” jawab sang Baginda.
Mendengar jawaban beliau, Auf pun menanggalkan baju besinya. Ia bersemangat maju ke medan perang. Demikian pula Umair, membuang butiran buah kurma dari tangannya kemudian meraih pedangnya dan bertempur penuh gagah berani.
Begitulah, para sahabat Nabi bertempur dengan bara semangat dan berharap surga.
Di tempat lawan, Abu Jahal bin Hisyam berdoa, “Ya Allah, dialah orang yang memutus hubungan silaturahim dengan kami, membawa kepada kami sesuatu yang tidak dikenal, maka hancurkan dia pagi ini.”
Tapi dalam Perang Badar ini, kekalahan pun terjadi di pihak Abu Jahal. Allah membinasakan pemuka-pemuka Quraisy dan menawan tokoh-tokoh mereka.
Baginda Nabi bersabda, “Sungguh aku tahu, banyak orang-orang dari Bani Hasyim dan selain Bani Hasyim yang keluar berperang karena terpaksa. Mereka tidak ada keperluan berperang dengan kita. Oleh karena itu, siapa pun dari kalian yang bertemu dengan seorang dari Bani Hasyim, maka janganlah membunuhnya. Barangsiapa bertemu dengan Abu Al-Bakhtari bin Hisyam, janganlah membunuhnya. Barangsiapa bertemu dengan Abbas bin Abdul Muthalib, janganlah membunuhnya, karena dia dipaksa keluar untuk berperang.”
Abu Hudzaifah berujar, “Apakah kita boleh membunuh ayah-ayah, anak-anak, saudara-saudara, dan keluarga kita, tetapi kita biarkan Abbas begitu saja? Demi Allah, kalau aku bertemu dengannya, aku pasti akan menebasnya dengan pedang.”
Apa yang diucapkan Abu Hudzaifah ini rupanya didengar oleh Rasulullah Saw., maka beliau bersabda kepada Umar bin Khattab, “Wahai Abu Hafsh!”
“Demi Allah,” kata Umar, “itulah untuk pertama kalinya Rasulullah memanggilku dengan sebutan Abu Hafsh.”
Baginda Rasul melanjutkan, “Bolehkah wajah paman Rasulullah ditebas dengan pedang?”
Umar menjawab, “Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk memenggal leher orang itu! Demi Allah, sungguh dia telah munafik.”
Abu Hudzaifah menyesalkan apa yang ia ucapkan. Ia benar-benar takut, dan ia berharap ucapannya itu bisa ditebus dengan gugur sebagai syahid. Dan benar saja, kelak Abu Hudzaifah gugur syahid dalam peperangan Yamamah.
Adapun larangan Baginda Rasul agar tak membunuh Abu Al-Bakhtari, karena dia orang yang paling bisa menahan diri untuk tidak mengganggu beliau saat masih di Makkah. Dia juga tidak pernah menyakiti Rasulullah dan tidak pernah melontarkan ucapan keji yang menyakiti hati beliau. Abu Al-Bakhtari juga termasuk di antara orang-orang yang membatalkan pakta boikot yang diberlakukan orang-orang Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Muthalib.
Tetapi saat itu Abu Al-Bakhtari berdua dengan temannya yang keluar bersamanya dari Makkah, Junadah bin Mulaihah. Junadah adalah salah seorang dari Bani Laits. Abu Al-Bakhtari bertanya kepada Al-Mujadzdzar, “Apakah itu berlaku bagi temanku ini juga?”
“Tidak.” jawab Al-Mujadzdzar, “kami tidak akan membiarkan temanmu, karena Rasulullah hanya melarang pembunuhan terhadap dirimu!”
Abu Al-Bakhtari menolak, “Kalau begitu, aku lebih baik mati bersamanya, agar wanita-wanita Quraisy tidak mengunjingku bahwa aku membiarkan temanku dibunuh hanya agar aku dapat tetap hidup.”
Dan terpaksa Al-Mujadzdzar meluluskannya, Abu Al-Bakhtari turut tewas bersama temannya. Lalu ia menemui Baginda Rasul, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku sudah berusaha menjadikannya sebagai tawanan lalu membawanya kepadamu, tetapi dia hanya menginginkan untuk bertempur melawanku. Aku bertempur dan akhirnya ia terbunuh.”
Demikian. []
Baca juga: Sang Baginda Berdoa

0 Komentar