HAKIM bin Hizam menemui Abu Jahal yang tengah mengeluarkan baju besi dan melumurinya dengan minyak. “Wahai Abul Hakam, sesungguhnya Utbah memerintahkanku untuk menemuimu dengan membawa pesan ini dan ini.”
“Demi Allah,” jawab Abu Jahal, “paru-paru Utbah telah mengembung (maksudnya, dia pengecut), ketika dia melihat Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Tapi tidak, demi Allah kita tidak akan pulang sampai Allah memutuskan masalah kita dengan Muhammad. Utbah bin Rabi’ah tidak tahu apa-apa yang dia katakan. Hanya saja dia telah melihat Muhammad dan sahabat-sahabatnya adalah memakan satu unta yang disembelih, sementara anak kandungnya ada bersamanya. Oleh sebab itu dia takut anaknya termasuk yang akan terbunuh.”
Abu Jahal lalu menemui Amir bin Al-Hadhrami, “Ini dia sekutumu hendak pulang. Berdirilah, lalu perintahkan orang-orang Quraisy untuk memenuhi janji kepadamu dan terbunuhnya saudaramu!”
Amir binm Al-Hadhrami lalu berdiri dan berteriak lantang, “Wahai Amr, wahai Amr, perang telah memanas, orang-orang telah mengganas, mereka sepakat atas kejahatan, lalu semuanya dirusak oleh pendapat Utbah bin Rabi’ah.”
Sementara itu ketika Utbah bin Rabi’ah mendengar perkataan Abu Jahal yang menyebut paru-parunya mengembung, ia membalas, “Orang yang melumuri bokongnya dengan wewangian (maksudnya Abu Jahal) akan tahu siapa yang paru-parunya mengembung, aku atau dia!”
Lalu Utbah mencari topi besi, tetapi dia tak dapat menemukan topi besi yang dapat memuat kepalanya karena kepalanya yang besar. Akhirnya, ia hanya melilitkan kain selimut miliknya di kepalanya.
Pada saat itu Aswad bin Abdul Asad ikut berperang. Dia adalah sosok bengis berperangai buruk. Dia sesumbar akan bisa minum di kolam yang dibangun kaum Muslimin, dan akan bisa menghancurkannya.
Kemudian, ketika Aswad tampil ke depan, Hamzah bin Abdul Muthalib tampil untuk berduel dengannya. Saat keduanya telah saling berhadap-hadapan, Hamzah pun memukul Aswad hingga membuat kakinya putus. Aswad jatuh terjengkang dengan kaki berlumuran darah. Aswad hanya bisa merangkak ke arah kolam demi memenuhi sumpahnya. Tetapi Hamzah mengikutinya dari belakang, lalu memukulnya sekali lagi hingga Aswad tewas di kolam tersebut.
Setelah itu Utbah bin Rabi’ah yang tampil bersama saudaranya, Syaibah bin Rabi’ah dan anaknya, Walid bin Utbah keluar dari barisan kaumnya dan menantang duel.
Demi menjawab tantangan itu, majulah tiga pemuda Anshar, Auf bin Harits, Muawwids bin Harits, dan Abdullah bn Rawahah.
“Siapakah kalian?” tanya salah seorang dari ketiga Quraisy tersebut.
“Kami orang-orang Anshar.”
“Kami tidak ada perlu apa-apa dengan kalian. Wahai Muhammad, keluarkan orang-orang dari kaum kami yang setara dengan kami!”
Baginda Rasul kemudian bersabda, “Majulah engkau wahai Ubaidah bin Harits, Hamzah, dan Ali!”
Ketiga sahabat tersebut bangkit dan mendekati tiga orang Quraisy. Ubaidah berhadapan dengan Utbah, Hamzah bertarung dengan Syaibah, dan Ali dengan Walid.
Dalam duel satu lawan satu, Hamzah tidak membutuhkan waktu lama untuk menghabisi Syaibah, demikian pula Ali yang cepat mengeksekusi Walid. Sedangkan Ubaidah dan Utbah saling memukul satu sama lain sehingga keduanya terluka. Hamzah dan Ali lalu menyerang Utbah hingga tewas. Hamzah dan Ali membawa Ubaidah ke tempat para sahabat.
Setelah itu kedua pasukan pun saling mendekat. Baginda Rasul bersabda, “Jika mereka telah berada dekat kalian, seranglah mereka dengan panah.”
Beliau meluruskan barisan para sahabat dengan anak panah di tangan. Beliau berjalan dan ketika melewati Sawad bin Ghaziyyah yang lebih maju dari barisan, “Luruskan barisanmu Sawad!” Dan tak sengaja panah di tangan beliau itu menggores perut Sawad.
“Wahai Rasulullah,” tukas Sawad, “engkau menyakitiku, padahal Allah mengutusmu dengan kebenaran dan keadilan.”
Demi mendengar itu, Rasulullah bersabda, “Kalau demikian, balaslah aku!”
Baginda Rasulullah menyingkap perut beliau, “Silakan Sawad!”
Tetapi alih-alih membalas, tiba-tiba Sawad memeluk sang Baginda, lalu mencium perut beliau. Otomatis sang Baginda terkejut, “Mengapa engkau melakukan ini, Sawad?”
“Wahai Rasulullah,” sahut Sawad, “telah terjadi apa yang engkau lihat. Karena itu aku ingin menjadikan akhir perjumpaanku denganmu adalah dengan kulitku menyentuh kulitmu.”
Kemudian Rasulullah melanjutkan meluruskan barisan para sahabat, dan setelah itu kembali ke tenda. Saat itu beliau hanya berdua dengan Abu Bakar.
Sang Baginda berdoa, “Ya Allah, apabila kaum muslimin kalah hari ini, maka Engkau tidak akan disembah lagi.”
Selanjutnya beliau tidur sejenak, dan ketika terbangun beliau bersabda, “Bergembiralah wahai Abu Bakar, telah datang pertolongan Allah kepadamu. Ini Jibril datang dengan memegang tali kekang kuda yang dituntunnya, dengan gigi depan yang berdebu.”
Baca juga: Ingin Mundur

0 Komentar