Ramah dan Memaafkan

[xliv]

Dalam sirah-sirah, Baginda Muhammad merupakan tipe pekerja keras dan seorang yang sangat bersemangat. Beliau tidak membiarkan situasi dan kenyataan akan mengendalikan diri dan pengikutnya.

Itulah yang kemudian kita baca dari peristiwa di Hudaibiah. Bahwa dengan kecerdasan dan wawasannya yang luas, beliau mengetahui betul titik kelemahan dan minimnya strategi kaum Quraisy.

Beliau terima kesepakatan seolah-olah begitu saja atau sebagai kekalahan telak di pihaknya. Padahal beliau telah berhitung demi kelangsungan risalah Tuhan di bumi Makkah, tempat Ka’bah berdiri.

Di Hudaibiah, beliau berinisiasi memulai negosiasi dengan para dewan Quraisy. Beliau mengutus Utsman bin Affan, yang dipandang memiliki hubungan kerabat dengan kaum Quraisy, terutama Abu Sufyan.

Sang Baginda paham bahwa kaum Quraisy Makkah memiliki fanatisme yang cenderung kepada Bani Abd Syams. Dan sikap Bani Abd Syams ini sangat keras melawan Bani Hasyim, klan beliau.

Di Makkah, selain bernegosiasi dengan para pemimpin Quraisy, Utsman bin Affan bertemu dengan sejumlah umat Islam yang ditindas pemuka Quraisy. Bahwa singgahnya Nabi di Hudaibiah membangkitkan harapan mereka, “Sampaikanlah salam penghormatan kami kepada Rasulullah, wahai Utsman. Kami menanti kehadiran beliau di Makkah.”

Utsman bin Affan semestinya telah kembali dan menyampaikan hasil investigasinya kepada Nabi. Namun, dari batas waktu yang ditetapkan, ia tidak kunjung tiba di Hudaibiah. Baginda Muhammad kembali mengutus beberapa sahabat.

Namun, mereka pun tetap tak kunjung balik. Hal itu yang kemudian menuntut Baginda Muhammad untuk mempersiapkan diri. Beliau menggelar forum musyawarah di tengah para sahabat senior dan pengikut-pengikutnya.

Sang Baginda Rasul menginstruksikan kepada para sahabat untuk waspada dan berjaga-jaga. Beliau pun menempatkan Aus bin Khauli, Ubbad bin Bisyr, dan Muhammad bin Maslamah, memimpin pasukan tersembunyi. 

Dan tepat, pada suatu malam, Muhammad bin Maslamah berhasil menangkap 50 orang mata-mata yang dikirim kaum Quraisy.

Sementara dalam musyawarahnya, Baginda Muhammad mengajukan dua pilihan kepada pengikutnya: bagi yang ingin berperang boleh berperang dan yang tidak mampu berperang boleh melakukan apa saja yang diinginkan.

Pola musyawarah Nabi, membiarkan pengikut-pengikutnya bebas memilih, merdeka menyatakan pendapat. Dan Baginda Muhammad sungguh-sungguh tak memaksakan kehendak.

Padahal bisa saja, dalam urusan dunia, Nabi berhak menetapkan sesuatu, dan itu legal, karena beliau pemimpin Madinah sekaligus pemimpin spiritual/agama.

Nah, peristiwa baitur ridhwan bukan sekadar kesepakatan umat Nabi Muhammad untuk berperang, melainkan peneguhan prinsip musyawarah itu sebagai kaidah risalah.

Baginda Muhammad duduk di bawah pohon ridhwan, dan para sahabat antusias menerima usulan Nabi untuk bersiap-siap angkat senjata, sekira kaum Quraisy menyerbu Hudaibiah.

Dan ketika sejumlah tokoh Quraisy, seperti Suhail bin Amir dan Huwaithib bin Abdul Uzza, melihat geliat umat Islam di Hudaibiah, secepat mungkin kembali ke Makkah. Mereka gemetaran. Penuh ketakutan. 

Mereka melapor ke pemuka Quraisy perkembangan terkini umat Madinah yang bersiaga penuh untuk menyerang Makkah.

Menanggapi laporan itu, pemuka Quraisy membebaskan Utsman bin Affan dan sejumlah umat Islam yang ditawan. Para pemuka itu berkeyakinan, tidak bakal sanggup melawan umat Islam yang sedang marah dan bersiaga penuh di Hudaibiah.

Para tokoh Quraisy sadar, pengikut-pengikut Muhammad itu tidak bersabar menunggu perintah Nabi untuk menggempur Makkah, jika tak segera membebaskan Utsman dan para tawanan yang lain.

Mendapati Utsman bin Affan dan sahabat-sahabatnya yang lain kembali dengan selamat, Baginda Muhammad pun membebaskan 50 mata-mata Qurasiy yang ditangkap Muhammad bin Maslamah.

Lantas sang Baginda kembali ke tujuan semula, umat Islam sedianya akan tetap menghindarkan Makkah dari peperangan. Dalam hal ini, para tokoh dan pemimpin Quraisy itu sungguh-sungguh bersyukur, Nabi tidak mengizinkan para sahabatnya untuk menyerang Makkah. 

Mereka makin sadar, betapa Muhammad benar-benar sosok ramah dan gampang memaafkan.

Ungaran, 13 Januari 2026

Baca juga: Titik Balik Kemenangan

Posting Komentar

0 Komentar