[xliii]
Saya sedikit kembali mengulik peristiwa Hudaibiah. Peristiwa yang di kemudian hari baru disadari sebagai titik balik kemenangan umat Islam Madinah.
Setelah bermusyawarah dengan para sahabat, Baginda Muhammad memutuskan untuk menghindari pasukan patroli yang dikirim pemuka Quraisy. Karena rombongan dari Madinah ini tidak berangkat untuk berperang, tetapi menunaikan umrah, beliau memutuskan berangkat pada malam hari, beristirahat pada siang hari.
Baginda Muhammad sangat memahami jalur Hijaz. “Kita mengambil jalur kanan pada gurun pasir yang bergelombang dan berkelok-kelok. Karena mata-mata Quraisy melewati Zhahran atau Shanjinan.”
Sebelum rombongan sampai di Hudaibiah, sang Baginda Rasul berinisiatif mendapatkan sumber air yang melimpah di sebuah sumur yang kering, dengan sedikit air.
Kemudian, setiba di lokasi yang dikehendaki, di sebuah tempat di Hudaibiah, Baginda Muhammad menyerahkan sebuah anak panah kepada Najih bin A’jam untuk turun mencari jejak air dan menggalinya. Air pun memancar, hingga segenap rombongan tidak kekurangan air dan menjadi segar.
Di tempat itu kemudian, di Hudaibiah, mereka merasakan tidak kekurangan air atau pun makanan. Juga mereka tak merasakan adanya ancaman serangan.
Memang, Baginda Muhammad berangkat bersama para sahabat dalam rangka berumrah, tidak berperang, tanpa membawa senjata. Walau, persenjataan tetap dipersiapkan secara tersembunyi di barisan paling belakang, sekiranya ada serangan mendadak.
Baginda Muhammad di hadapan Budail bin Waraqa, utusan dari Quraisy, memberikan jawaban, “Sesungguhnya kami tidak datang untuk memerangi siapa pun, tetapi untuk mengelilingi rumah suci. Barangsiapa menghalangi, kami akan memerangi.”
Sebuah jawaban yang mengindikasikan betapa sang Baginda Nabi tahu betul kondisi dan psikologi kaum Quraisy. Seolah mereka adalah orang lain yang merasakan keramahan Nabi, tapi mereka berupaya mempertahankan prinsip dan bersikap keras, tapi tidak sampai terjadi perang terbuka.
Baginda Muhammad tahu betul, kaum Quraisy sungguh membencinya, tetapi pada saat itu tidak akan terjadi perang terbuka, karena rombongan Madinah ini jelas-jelas hendak menunaikan umrah.
Ketika Budail tiba di Makkah sembari membawa surat dari Baginda Muhammad, “Saya datang dari hadapan Muhammad. Tidaklah kalian senang jika kuberitahukan kepada kalian?”
“Tidak!” sahut Ikrimah bin Abu Jahal. “Kami tidak membutuhkan informasimu tentang dia. Akan tetapi sampaikan kepadanya, ia tidak boleh kemari tahun ini. Baru boleh umrah tahun depan!”
Pernyataan Ikrimah ini diamini oleh banyak pemuka Quraisy. Kemudian mereka mengutus Urwah bin Mas’ud untuk menghadap Baginda Muhammad.
Ketika Urwah kembali ke dewan Quraisy, ia berbicara dengan tokoh-tokoh layaknya seseorang yang sangat terpesona oleh wibawa Baginda Muhammad. Urwah melihat langsung betapa kecintaan dan ketaatan para sahabat terhadap Baginda Rasulullah sangatlah tinggi.
Urwah melihat, Baginda Muhammad telah menerapkan sebuah sistem yang baik dan karakter yang agung pada komunitas yang dibangunnya. Terdapat kedisiplinan, berlimpah kebaikan, semangat untuk mempersatukan barisan, dan jalinan persaudaraan yang kuat.
Urwah sangat terpesona melihat kenyataan ini. “Wahai pemuka Quraisy, sungguh aku telah menghadap kepada para raja, kaisar, dan sebagainya, tapi aku belum pernah melihat seorang penguasa yang sedemikian ditaati oleh orang-orang yang mengelilinya selain Muhammad.”
“Sungguh,” lanjut Urwah, “tiada satu pun dari mereka yang berani menatap tajam kepadanya dan tidak perlu berteriak melebihi suaranya. Ia cukup memberikan isyarat untuk melakukan sesuatu, maka segera dilaksanakan.
“Demi Allah, aku melihat kaum perempuan bersamanya yang senantiasa menyampaikan salam kepadanya dalam keadaan bagaimanapun. Maka, terimalah agenda yang ia tawarkan kepada kalian, meski aku khawatir kalian tidak mendapat kemenangan darinya. Tapi, ia seorang lelaki yang hendak mengunjungi Ka’bah, menghormatinya dengan membawa binatang kurban.”
Namun, kaum Quraisy tidak mengizinkan umat Islam Madinah memasuki Makkah pada tahun itu. Mereka menawarkan agar umat yang dipimpin Baginda Muhamad baru tahun berikutnya bisa menunaikan umrah.
Semula, para pemuka Quraisy yakin bahwa umat Madinah itu akan menolak tawaran mereka, dan memilih jalan kekerasan untuk masuk Makkah. Dan kaum Quraisy sudah siaga untuk berperang, selagi yang mereka lihat umat Islam tidak membawa senjata perang.
Akan tetapi, Baginda Muhammad ternyata memiliki pandangan yang jauh ke depan—meski para sahabat utama tidak memahaminya—menyatakan bahwa tawaran pemuka Qurasiy bisa diterima karena kesepakatan ini bersierat dengan penghentian perang dan terbukanya jalur antara Makkah dengan Madinah bagi risalah Nabi.
Dengan demikian penduduk Makkah akan menerima Islam, dan mengabaikan permusuhan pemuka Quraisy dengan sang Muhammad, yang akhirnya terbukalah jalan penaklukan Makkah tanpa kekerasan.
Dan sejarah membuktikan, prediksi sang Baginda Muhammad sangatlah akurat. Bahwa akhir dari kesepakatan di Hudaibiah ini, meski sekali lagi belum bsa dipahami para sahabat secara penuh, kecuali di kemudian hari, menjadi titik balik kemenangan.
Beruntunglah pula saat itu, dalam perjalanan ke Hudaibiah, sang Baginda ditemani Ummu Salamah, istri yang cerdas dan penyabar.
Ungaran, 11 Januari 2026
Baca juga: Parit

0 Komentar