Al-Baqarah [2]: 41
وَءَامِنُواْ بِمَآ أَنزَلۡتُ مُصَدِّقٗا لِّمَا مَعَكُمۡ وَلَا
تَكُونُوٓاْ أَوَّلَ كَافِرِۢ بِهِۦۖ وَلَا تَشۡتَرُواْ بَِٔايَٰتِي ثَمَنٗا قَلِيلٗا
وَإِيَّٰيَ فَٱتَّقُونِ
Dan, berimanlah pada apa yang [kini] Kuturunkan, yang mempertegas kebenaran yang telah kalian miliki, dan janganlah menjadi yang terdepan di antara orang-orang yang mengingkari kebenarannya; dan jangan pertukarkan ayat-ayat-Ku demi suatu keuntungan yang sepele; dan kepada-Ku, kepada-Ku-lah kalian hendaknya sadar!
Ayat tersebut merujuk pada keyakinan kukuh umat Yahudi bahwa
hanya merekalah, di antara seluruh bangsa, yang diberi rahmat mendapatkan wahyu
Ilahi.
Dan memang, mereka sudah menerima beberapa wahyu, tapi Al-Quran
mempertanyakan: sekarang datang wahyu yang memperkuat itu; adakah kalian juga
yang pertama akan menolaknya? Dan untuk apa menolak? Ayat-ayat Allah lebih
berguna daripada semua pertimbangan yang tak berharga itu. Dan ukuran dalam
arti hak dan kewajiban harus diterima dari Allah, bukan dari para pendeta dan
adat-istiadat.
Sehingga, “keuntungan sepele” itu maksudnya adalah keyakinan
mereka bahwa mereka adalah “umat pilihan Tuhan”—suatu klaim yang ditolak tegas
oleh Al-Quran.
وَلَا تَلۡبِسُواْ ٱلۡحَقَّ بِٱلۡبَٰطِلِ وَتَكۡتُمُواْ ٱلۡحَقَّ
وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ -- وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرۡكَعُواْ
مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ
Dan, janganlah membungkus kebenaran dengan kebatilan, dan
janganlah dengan sengaja menyembunyikan kebenaran itu; dan berteguhlah
mendirikan shalat, berikanlah derma, dan tunduk rukuklah dalam shalat, bersama
semua orang yang rukuk. (Al-Baqarah [2]: 42-43).
Yang dimaksud dengan “membungkus (talbisu) kebenaran
dengan kebatilan” adalah menyelewengkan teks Kitab Bibel, sebagaimana sering
dituduhkan Al-Quran kepada kaum Yahudi (dan kemudian dikonfirmasi oleh kritik
tekstual yang objektif).
Sedangkan “menyembunyikan kebenaran” mengacu pada pengabaian
atau penafsiran batil yang disengaja atas kata-kata Musa dalam ayat-ayat Bibel:
“Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti
aku, akan dibangkitkan bagimu oleh Tuhan, Allahmu; dialah yang harus kamu
dengarkan” (Kitab Ulangan 18: 15), dan ungkapan yang dinisbahkan kepada Tuhan
sendiri: “Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara
mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, …”
(Kitab Ulangan 18: 18).
“Saudara” Bani Israil jelas bangsa Arab, terutama kelompok musta’ribah
(yang ter-Arab-kan) di antara mereka, yang silsilahnya sampai kepada Nabi
Isma’il a.s. dan Nabi Ibrahim a.s.: dan, karena suku Nabi Arab ini, Quraisy,
termasuk dalam kelompok ini, ayat-ayat Bibel harus ditafsirkan sebagai telah
menyebutkan kedatangannya.
Kemudian, pembahasan pada ayat 43 masih tetap ditujukan
kepada orang-orang Yahudi, tetapi pelaksanaannya bersifat umum, seperti dalam
semua ajaran Al-Quran. Segi utama peribadatan Yahudi, dahulu dan sekarang,
ialah menundukkan kepala (sujud).
Berikutnya, dalam hukum Islam, zakah berarti suatu
iuran wajib bagi kaum Muslim yang dimaksudkan untuk menyucikan harta dan
pendapatan seseorang dari noda egoism (karena itu dinamai zakah:
penyucian).
Hasil pajak ini harus diberikan terutama, tetapi bukan
hanya, kepada fakir mskin. Oleh karena itu, setiap kali istilah ini mengandung
implikasi hukum, Muhammad Asad menerjemahkannya menjadi “iuran penyucian” (the
purifying dues).
Namun, karena dalam ayat ini istilah tersebut merujuk kepada
Bani Israil dan jelas-jelas hanya menyiratkan tindakan sedekah terhadap fakir
miskin, istilah tersebut lebih tepat diterjemahkan menjadi “sedekah” (almsgiving)
atau “derma” (charity). Dalam semua ayat lainnya, Muhammad Asad juga
menggunakan terjemahan yang disebutkan terakhir ini ketika istilah zakah,
sekalipun berhubungan dengan kaum Muslim, tidak mengacu secara khusus pada
iuran wajib itu sendiri (misalnya, dalam surah Al-Muzzammil [73]: 20, tempat
istilah ini muncul pertama kali menurut kronologi turunnya wahyu).
Perhatikanlah, [wahai Nabi,] Pemeliharamu mengetahui
bahwa engkau tetap bangun [dalam doa] selama hampir dua pertiga malam, atau
setengahnya, atau sepertiganya, bersama-sama dengan sebagian dari mereka yang
mengikutimu. Dan Allah, yang menentukan ukuran malam dan siang, menyadari bahwa
kalian tidak pernah enggan melakukannya: dan, karenanya, Dia berpaling kepada
kalian dalam rahmat-Nya.
Maka, bacalah Al-Quran sebanyak yang dapat kalian lakukan
dengan mudah. Dia mengetahui bahwa pada waktunya akan ada di antara kalian
orang-orang yang sakit, dan orang-orang yang bepergian menjelajahi bumi untuk
mencari karunia Allah, serta orang-orang yang berjuang di jalan Allah. Maka,
bacalah [hanya] sebanyak yang dapat kalian lakukan dengan mudah, dan
berteguhlah mendirikan shalat, berikanlah derma dan [kemudian] berikanlah
pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik: sebab, kebaikan apa pun yang kalian
persembahkan atas nama kalian sendiri, kalian benar-benar akan menemukannya di
sisi Allah—ya, dengan balasan yang lebih baik dan lebih melimpah.
Dan, mohonlah ampunan Allah [selalu]: perhatikanlah,
Allah Maha Pengampun, Sang Pemberi Rahmat.
Demikian! []
Baca juga: Hanya Gentar kepada-Nya

0 Komentar