Manusia

[Muhammad Asad: Tafsir Juz'amma] surah 114, Al-Nas (Manusia).

Sementara kebanyakan mufasir menganggap surah ini [Al-Nas (manusia)] dan surah Al-Falaq turun pada masa awal periode Makkah, beberapa mufasir (misalnya, Al-Razi dan Ibn Katsir) menganggap keduanya diwahyukan di Madinah.

Sementara itu, yang lainnya (umpamanya, Al-Baghawi, Al-Zamakhsyari, dan Al-Baidhawi) tidak memberikan jawaban.

Namun, berdasarkan sedikit bukti yang ada pada kita, tampaknya mungkin bahwa kedua surah tersebut turun pada periode awal Makkah.

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Sang Pemberi Rahmat

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ, Katakanlah: “Aku berlindung kepada Pemelihara manusia,

مَلِكِ ٱلنَّاسِ, “Penguasanya manusia,

إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ, “Tuhannya manusia,

مِن شَرِّ ٱلۡوَسۡوَاسِ ٱلۡخَنَّاسِ, “dari kejahatan penggoda yang berbisik-bisik dan tersamar,

ٱلَّذِي يُوَسۡوِسُ فِي صُدُورِ ٱلنَّاسِ, “yang berbisik-bisik di dalam kalbu-kalbu manusia

مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ, “dari semua [godaan untuk (melakukan) kejahatan, yang bersumber dari] kekuatan yang tidak terlihat serta [dari] manusia.”

Dalam ayat ٱلَّذِي يُوَسۡوِسُ فِي صُدُورِ ٱلنَّاسِ, yakni, “setan” dalam maknanya yang paling luas. Al-Razi—dalam penjelasan ayat 22 surah Ibrahim—menyebut bahwa setan yang sebenarnya adalah nafsu (al-nafs) yang kompleks [yang dimiliki manusia sendiri]: sebab, setan telah menjelaskan bahwa hanya dengan bisikan negatif (waswasah)-lah dia mampu memengaruhi [jiwa para pendosa]; dan kalau bukan karena watak [jahat] yang telah ada yang disebabkan oleh hasrat, kemarahan, takhayul, atau ide-ide khayal, bisikan negatif [setan] ini tidak akan mempunyai pengaruh apa pun.

Kemudian dalam ayat  مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ, penyebutan istilah dan konsep al-jinnah (sinonim dengan al-jinn) mungkin merupakan yang paling awal dalam Al-Qur’an. Istilah itu mungkin menunjuk pada kekuatan alam yang tidak terlihat dan misterius yang menerpa jiwa manusia, dan yang terkadang membuat kita sulit membedakan mana yang benar dan yang salah.

Namun, berdasarkan ayat terakhir ini, mungkin pula disimpulkan bahwa “kekuatan yang tidak terlihat” itu—yang darinya kita diperintahkan untuk berlindung kepada Allah—merupakan godaan-godaan untuk melakukan kejahatan yang timbul karena kebutaan hati kita sendiri, karena nafsu kita yang tidak terkendali, dan karena  gagasan-gagasan keliru serta nilai-nilai batil yang mungkin telah diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang kita.

Demikian. []

Posting Komentar

0 Komentar