Khala’if al-Ardh

Al-Baqarah [2]: 30

DAN, LIHATLAH! Pemelihara kalian berkata kepada para malaikat, “Perhatikanlah, Aku hendak menejadikan seseorang di muka bumi yang akan mewarisinya.

Mereka berkata, “Akankah Engkau menempatkan di bumi itu (manusia) yang menyebarkan kerusakan di atasnya dan menumpahkan darah—padahal kami=lah yang senantiasa bertasbih memuji kemuliaan-Mu yang tiada terhingga, dan memuji Engkau, dan menguduskan nama-Mu?

[Allah] menjawab, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.”  

Kata seru “lihatlah” dalam konteks ini tampaknya menjadi satu-satunya terjemahan yang memadai dari partikel idz, yang biasanya—dan tanpa kecermatan yang memadai terhadap berbagai variasi penggunaannya dalam struktur bahasa Arab—diterjemahkan menjadi “ketika”.

Meskipun terjemahan yang terakhir ini sering bisa dibenarkan, idz juga digunakan untuk menunjukkan “suatu kejadian tiba-tiba atau yang tidak diharapkan” atau suatu peralihan tiba-tiba dalam percakapan.

Alegori selanjutnya, yang berkenaan dengan kemampuan nalar yang ditanamkan pada manusia, dihubungkan secara logis dengan ayat-ayat sebelumnya.    

Selanjutnya, istilah khalifah—yang berasal dari verba khalafa—dalam kalimat “menjadikan di muka bumi seorang pengganti (successor)” atau “wakil (vice-gerent)”, digunakan dalam alegori ini untuk menunjukkan keunggulan absah manusia di muka bumi, yang dengan tepat sekali diterjemahkan dengan ungkapan “dia akan mewarisi bumi” (dalam pengertian diberi kepemilikan atasnya). 

Karena, Dia-lah yang menjadikan kalian mewarisi bumi, meninggikan derajat Sebagian kalian di atas Sebagian yang lain agar Dia dapat menguji kalian melalui apa yang telah Dia berikan kepada kalian. (Al-An’am [6]: 165).

Dia-lah yang telah menjadikan kalian mewarisi bumi. Karena itu, barang siapa yang berkukuh mengingkari kebenaran [mengenai keesaan dan keunikan Allah hendaknya mengetahui bahwa] pemngingkarannya ini akan berbalik menimpa dirinya sendiri: sebab, pengingkaran mereka [yang terus-menerus] terhadap kebenaran ini tidak lain hanyalah akan menambah jijik para pengingkar itu dalam pandangan Pemelihara mereka, dan lalu, pengingkaran mereka terhadap kebenaran ini tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka. (Fathir [35]: 39).

Jelas sudah—dari dua surah tersebut—semua manusia disebut sebagai khala’if al-ardh

Demikian! []

Baca juga: Sistem Kosmik

Posting Komentar

0 Komentar