Al-Baqarah [2]: 31
Dan, Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama segala sesuatu; kemudian, Dia menanyakan pengetahuan para malaikat tentang nama-nama itu dan berkata, “Terangkanlah kepada-Ku nama-nama [segala sesuatu] ini, jika yang kalian katakan itu memqang benar!”
Pada ayat 31 ini, “segala nama”, menurut semua filolog, ism (nama) adalah sebuah ungkapan untuk “menyampaikan pengetahuan [tentang sesuatu] …yang diterapkan untuk menunjukkan suatu substansi (zat), atau aksiden, atau sifat, dalam rangka mengenali/melakukan pembedaan (distingsi)”: dalam terminologi filsafat disebut “konsep”.
Dari sini, dapat disimpulkan secara logis bahwa “pengetahuan tentang segala nama” menunjukkan kemampuan manusia untuk menyusun pemikiran konseptual. Bahwa yang dimaksud dengan “Adam” di sini adalah seluruh umat manusia, ditunjukkan dengan jelas dari ucapan para malaikat pada ayat sebelumnya yang merujuk kepada Adam sebagai “yang akan menyebarkan kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah”.
Sungguh, Kami telah menciptakan kalian, lalu membentuk kalian; lalu Kami berfirman kepada para malaikat, “Bersujudlah di hadapan Adam!”—lalu mereka [semua] bersujud, kecuali iblis: dia tidak termasuk mereka yang bersujud. (Al-A’raf [7]: 11).
Lantas, “Terangkanlah kepada-Ku nama-nama [segala sesuatu] ini, jika yang kalian katakan itu memang benar!”, tantangan Tuhan kepada para malaikat, yakni bahwa merekalah yang, karena kesuciannya, lebih berhak untuk “mewarisi bumi”.
Demikian! []
Baca juga: Khalifah

0 Komentar