Al-Baqarah [2]: 34
Dan, ketika Kami perintahkan kepada para malaikat, “Sujudlah kalian di hadapan Adam!”—mereka semua pun bersujud, kecuali iblis yang menolak dan menyombongkan diri: dan karena itulah, dia termasuk di antara mereka yang mengingkari kebenaran.
Kemudian pada ayat 34, “Sujudlah kalian di hadapan Adam!”, untuk menunjukkan bahwa berkat kemampuan berpikir konseptualnya, Adam—melambangkan seluruh umat manusia—lebih unggul dalam hal ini ketimbang para malaikat sekalipun.
Namun, ada yang membangkang—malaikat pembangkang, sang Malaikat yang jatuh, hal ini bisa kita lihat surah Al-A’raf [7]: 11, Sungguh, Kami telah menciptakan kalian, lalu membentuk kalian; lalu Kami berfirman kepada para malaikat, “Bersujudlah di hadapan Adam!”—lalu mereka [semua] bersujud, kecuali iblis: dia tidak termasuk mereka yang bersujud”—fakta “pembangkangan” ini, dan yang ditekankan berulang-ulang dalam Al-Quran, mendorong beberapa mufasir untuk berkesimpulan bahwa iblis bukan tergolong salah satu malaikat, sebab malaikat tidak dapat berbuat dosa: “mereka tidak bersikap sombong …dan melaksanakan apa pun yang diperintahkan kepada mereka”
Karena, di hadapan Allah-lah bersujud segala yang berada di lelangit dan segala yang ada di bumi—setiap binatang yang bergerak, dan para malaikat: [bahkan] mereka tidak bersikap sombong: mereka takut kepada Pemeliharanya yang berada tinggi di atas mereka, dan melaksanakan apa pun yang diperintahkan kepada mereka. (Al-Nahl [16]: 49-50).
Namun, bertentangan dengan penafsiran ini, para mufasir lain menunjuk pada ungkapan Al-Quran mengenai perintah Allah kepada para malaikat dan penolakan iblis untuk menaati, yang menjelaskan bahwa pada saat diperintah itu, iblis memang masih merupakan salah satu penghuni surga. Karena itu, kita harus berasumsi bahwa “pembangkangan” iblis ini memiliki makna simbolis belaka dan, sebenarnya, merupakan akibat dari fungsi tertentu yang ditetapkan Allah kepadanya.
Berfirmanlah Dia, “Inilah, bersama-Ku, jalan yang lurus.” (Al-Hjir [15]: 41) yakni, “Inilah jalan yang telah Aku tetapkan”, bahwa iblis (atau setan) akan menggoda manusia, tetapi dia tidak mempunyai kekuatan untuk membujuk orang-orang yang benar-benar sadar akan Allah.
Dengan demikian, Al-Quran memperlihatkan dengan jelas bahwa meskipun setan tampaknya “memberontak” Penciptanya, dia menjalankan suatu fungsi tertentu dalam rencana Allah: setan adalah penggoda abadi yang memungkinkan manusia menggunakan kebebasan yang diberikan oleh Allah untuk memilih antara kebaikan dan keburukan dan, karena itu, menjadi makhluk yang diberkahi dengan kehendak bebas yang bermoral.
Demikian! []
Baca juga: Kemampuan Unik Manusia

0 Komentar