Hinakanlah Diri

Maka, hinakanlah diri!

وَإِذۡ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوۡمِهِۦ يَٰقَوۡمِ إِنَّكُمۡ ظَلَمۡتُمۡ أَنفُسَكُم بِٱتِّخَاذِكُمُ ٱلۡعِجۡلَ فَتُوبُوٓاْ إِلَىٰ بَارِئِكُمۡ فَٱقۡتُلُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ عِندَ بَارِئِكُمۡ فَتَابَ عَلَيۡكُمۡۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

Dan, ketika Musa berkata kepada kaumnya, Wahai, kaumku! Sungguh,kalian telah menganiaya diri sendiri dengan menyembah  anak sapi; maka, bertobatlah kepada Pencipta kalian dan hinakanlah diri kalian sendiri; ini akan menjadi yang terbaik bagi kalian dalam pandangan Pencipta kalian.

Dan kemudian, Dia menerima tobat kalian: sebab, perhatikanlah, hanya Dia Sang Penerima Tobat, Sang Pemberi Karunia. (Al-Baqarah [2]: 54).

Patung anak sapi yang terbuat dari emas yang pernah disembah Bani Israil jelas-jelas merupakan pengaruh tradisi Mesir yang sudah berabad-abad usianya. Di Memfis, bangsa Mesir menyembah Apis, sapi jantan suci, yang mereka yakini sebagai penjelmaan Dewa Ptah. Apis yang baru diyakini akan selalu lahir ketika yang tua telah mati. Sedangkan nyawa Apis yang telah mati itu diyakini memasuki Osiris dalam Dunia Kematian untuk selanjutnya disembah sebagai Osiris-Apis (yakni “Serapis” pada masa Mesir-Yunani).

“Suara rendah” (khuwar) yang ditimbulkan oleh patung anak sapi yang terbuat dari emas itu mungkin disebabkan efek udara, sebagaimana yang ada pada patung-patung yang terdapat di kuil-kuil suci orang Mesir.

“Bunuhlah diri kalian sendiri” atau, menurut beberapa mufasir, “saling bunuhlah kalian” dalam terjemahan harfiah untuk “faqtulu anfusakum”, tetapi, penafsiran harfiah ini (yang mungkin didasarkan pada cerita Bibel) tidak meyakinkan karena tidak sejalan dengan seruan sebelumnya agar mereka bertobat, dan tidak sejalan dengan pernyataan sesudahnya bahwa tobat ini telah diterima oleh Allah.

Karena itu, Muhammad Asad cenderung pada penafsiran ‘Abd Al-Jabbar (yang dikutip Al-Razi dalam tafsirnya atas ayat ini) yang menyatakan bahwa ungkapan “bunuhlah diri kalian sendiri” di sini digunakan dalam pengertian metaforis (majazan), yakni: “hinakanlah diri kalian sendiri” (mortify yourself).

Atau—dalam penafsiran Abdullah Yusuf Ali—ungkapan versi yang lebih bersifat rohani ialah karena perintah pembunuhan itu dilakukan dalam arti cobaan, tetapi lalu dihapus karena Allah kemudian menerima tobat mereka. Dengan masih lebih memberi makna rohani yang lebih dalam pada penafsiran itu maka “anfusakum” di situ berarti “nafsu”, bukan “pribadi”.

Jadi arti percakapan (diringkaskan) Musa itu akan jadi: “Dengan menyembah anak lembu kamu telah memperkosa nafsu kamu sendiri: bertobatlah; hukumlah (=bunuhlah) nafsumu itu sekarang. Dalam pandangan Allah itu akan lebih baik”.

Kata “Pencipta” (Bari’) tersimpul arti dari akar kata “pembebas”—kata yang tepat dihubungkan pada orang-orang Israil, yang baru saja dibebaskan dari perbudakan di Mesir.

Demikian! []

Baca juga: Al-Furqan

Posting Komentar

0 Komentar