Al-Baqarah [2]: 53
وَإِذۡ ءَاتَيۡنَا مُوسَى ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡفُرۡقَانَ لَعَلَّكُمۡ
تَهۡتَدُونَ
Dan, [ingatlah suatu waktu] ketika Kami berikan kepada Musa kitab Ilahi—yang [kemudian] menjadi patokan untuk membedakan yang benar dari yang salah—agar kalian mendapat petunjuk yang benar.
Muhammad ‘Abduh menguatkan penafsiran al-furqan di atas
(yang dipilih oleh Al-Thabari, Al-Zamakhsyari, dan mufasir besar lainnya)
dengan menandaskan bahwa istilah tersebut juga dapat diterapkan pada “akal
manusia, yang memungkinkan kita membedakan yang benar dari yang salah”;
penafsiran yang lebih luas ini tampaknya didasarkan pada surah Al-Anfal [8]:
41, yang menyebut Perang Badar sebagai yaum al-furqan (hari pembedaan
antara yang benar dan yang salah).
[Hal demikian itu harus kalian patuhi] jika kalian
beriman pada Allah dan beriman pada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami
pada hari ketika kebenaran dibedakan dari kesalahan—hari ketika kedua pasukan
bertemu dalam pertempuran.
Meskipun istilah al-furqan sering digunakan dalam
Al-Quran untuk menggambarkan salah satu di antara kitab-kitab suci yang ada,
dan terutama Al-Quran sendiri, tidak diragukan lagi bahwa istilah ini juga
memiliki makna seperti yang ditunjukkan oleh ‘Abduh: misalnya, dalam surah
Al-Anfal [8]: 29, yang di dalamnya istilah itu dengan jelas mengacu pada daya
penilaian moral yang membedakan setiap manusia yang benar-benar sadar akan
Allah (bertakwa).
Wahai, kalian yang telah meraih iman! Jika kalian tetap
sadar akan Allah, Dia akan memberikan patokan untuk membedakan hal yang benar
dari yang salah, dan akan menghapus perbuatan buruk kalian, serta akan
mengampuni dosa-dosa kalian: karena Allah memiliki karunia yang melimpah tak
terhingga. (Al-Anfal [8]: 29)
Oleh karenanya, al-furqan di sini merupakan kemampuan
untuk melakukan penilaian moral akibat selalu sadar akan Allah.
Demikian! []
Baca juga: Syafaat

0 Komentar