Bagaikan (Orang) Mati

Ya, bagaikan orang mati

وَإِذۡ قُلۡتُمۡ يَٰمُوسَىٰ لَن نُّؤۡمِنَ لَكَ حَتَّىٰ نَرَى ٱللَّهَ جَهۡرَةٗ فَأَخَذَتۡكُمُ ٱلصَّٰعِقَةُ وَأَنتُمۡ تَنظُرُونَ

 Dan, [ingatlah] ketika kalian berkata, “Hai, Musa, sungguh kami tidak akan beriman kepadamu hingga kami melihat Allah secara langsung!”—lalu petir hukuman menyambar kalian, sedangkan kalian menyaksikannya. (Al-Baqarah [2]: 55).

Di sini kita melihat ungkapan cerita turun-temurun agama Yahudi mengenai ingin melihat Tuhan: “Lagi firman-Nya: Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tiada orang yang memandang Aku dapat hidup.” Dan orang yang gigih ingin melihat Tuhan hukumannya ialah mati; tetapi mereka yang tak beriman masih diberi ampun; sungguhpun begitu mereka tidak bersyukur.

Dan, Al-Quran tidak menyebutkan bagaimana bentuk “petir hukuman” (al-sha’iqah) itu. Para ahli leksikografi memberikan pelbagai penafsiran atas kata ini, tetapi semua sepakat dengan unsur kedahsyatan dan sifat tiba-tiba yang terkandung dalam kata ini.

Namun, Kami bangkitkan kalian kembali setelah kalian menjadi bagaikan (orang) mati, supaya kalian bersyukur. (Al-Baqarah [2]: 56).

“Setelah kematian kalian” dalam terjemahan harfiah, ungkapan maut tidak selalu bermakna kematian jasmani. Para filolog Arab—seperti Raghib—menjelaskan bahwa verba mata (dia telah mati), dalam konteks tertentu, berarti “dia kehilangan perasaan, mati rasa”; dan kadang-kadang berarti “kehilangan daya intelektual, mati secara intelektual”; bahkan kadang-kadang berarti “dia tidur”.

Demikian! []

Baca juga: Hinakan Diri

Posting Komentar

0 Komentar