Rendah Hati Versus Arogansi


Al-Baqarah [2]: 58-59

وَإِذۡ قُلۡنَا ٱدۡخُلُواْ هَٰذِهِ ٱلۡقَرۡيَةَ فَكُلُواْ مِنۡهَا حَيۡثُ شِئۡتُمۡ رَغَدٗا وَٱدۡخُلُواْ ٱلۡبَابَ سُجَّدٗا وَقُولُواْ حِطَّةٞ نَّغۡفِرۡ لَكُمۡ خَطَٰيَٰكُمۡۚ وَسَنَزِيدُ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

Dan, [ingatlah suatu masa] ketika Kami berfirman, “Masuklah ke negeri ini, dan makanlah sebanayak-banyaknya dari hasil buminya sekehendak kalian; tetapi masukilah pintu gerbangnya dengan rendah hati dan ucapkanlah, ‘Bebaskanlah kami dari beban dosa-dosa kami’, [kemudian] Kami akan mengampuni dosa-dosa kalian, dan akan melipatgandakan pahala orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Al-Baqarah [2]: 58)

Kata qaryah pada dasarnya berarti sebuah “desa” atau “kota”, tetapi juga digunakan dalam pengertian “negeri”, maka Muhammad Asad menerjemahkannya jadi “masuklah ke negeri ini”, di mana kata qaryah mengacu pada Palestina.

Kemudian penafsiran atas kata hiththah (“bebaskanlah kami dari beban dosa-dosa kami”) dicatat oleh kebanyakan ahli leksikografi berdasarkan pendapat banyak Sahabat Nabi tentang kata itu (untuk kutipan yang relevan, lihat Ibnu Katsir dalam penafsiran atas ayat ini).

Jadi, Bani Israil diingatkan agar mengambil kekuasaan atas negeri yang dijanjikan itu (“masukilah pintu gerbangnya”) dengan perasaan rendah hati (terjemahan literalnya: “dengan bersujud”; sujjadan, menundukkan diri), dan bukan menganggapnya sebagai sesuatu “yang sudah menjadi hak” bagi mereka.

فَبَدَّلَ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ قَوۡلًا غَيۡرَ ٱلَّذِي قِيلَ لَهُمۡ فَأَنزَلۡنَا عَلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ رِجۡزٗا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ

Namun, orang-orang yang berkukuh berbuat zalim mengganti ucapan yang disampaikan kepada mereka dengan ucapan lain: maka, Kami timpakan atas orang-orang yang berbuat zalim itu wabah dari langit sebagai balasan atas kefasikan mereka. (Al-Baqarag [2]: 59)

Berdasarkan sejumlah hadis (yang dikutip Ibn Katsir secara panjang lebar), mereka mempermainkan, dengan maksud mengejek, kata hiththah dengan cara menggantinya dengan sesuatu yang tidak relevan atau tak bermakna.

Namun, Muhammad ‘Abduh berpendapat bahwa “ucapan” yang disebutkan dalam ayat 58 hanyalah metafora bagi sikap hati yang dituntut dari mereka, dan bahwa “mengganti” di sini menunjukkan sikap arogansi yang disengaja dalam mengejek perintah Allah.

Demikian! []

Baca juga: Bagaikan (Orang) Mati

Posting Komentar

0 Komentar