PADA ayat 29, istilah sama’ (angkasa atau langit) digunakan untuk menunjuk pada segala yang membentang bagaikan atap di atas apa pun.
Jadi, langit yang tampak membentang bagaikan kubah di atas bumi dan membentuk tudung—begitulah kira-kira—bagi bumi, disebut sama’: dan inilah makna utama istilah sama’ dalam Al-Quran. Dalam pengertiannya yang lebih luas, ia berkonotasi “sistem kosmik”.
Adapun mengenai “tujuh langit”, harus diingat bahwa dalam bahasa Arab—dan juga dalam bahasa Semit lainnya—angka “tujuh” sering sama artinya dengan “beberapa”, sebagaimana “tujuh puluh” atau “tujuh ratus” sering berarti “banyak” atau “sangat banyak”.
Hal ini, jika dipahami dengan mempertimbangkan definisi linguistik lazimnya—yakni bahwa “setiap sama’ adalah sebuah sama’ dalam kaitannya dengan apa yang ada di bawahnya”—dapat menjelaskan bahwa “tujuh langit” di sini menunjukkan banyaknya sistem kosmik.
Selanjutnya pada ayat 30, “menjadikan di muka bumi seorang pengganti” atau “wakil”, digunakan dalam alegori ini untuk menunjukkan keunggulan absah manusia di muka bumi, yang dengan tepat sekali diterjemahkan dengan ungkapan “dia akan mewarisi bumi” (dalam pengertian diberi kepemilikian atasnya). Lihat juga surah Al-An’am: 165, surah Al-Naml: 62, dan surah Fathir: 39, yang di dalamnya semua manusia disebut sebagai khala’if al-ardh.
Pada ayat 31, “segala nama”, menurut semua filolog, ism (nama) adalah sebuah ungkapan untuk “menyampaikan pengetahuan [tentang sesuatu] …yang diterapkan untuk menunjukkan suatu substansi (zat), atau aksiden, atau sifat, dalam rangka mengenali/melakukan pembedaan (distingsi)”: dalam terminologi filsafat disebut “konsep”.
Dari sini, dapat disimpulkan secara logis bahwa “pengetahuan tentang segala nama” menunjukkan kemampuan manusia untuk menyusun pemikiran konseptual. Bahwa yang dimaksud dengan “Adam” di sini adalah seluruh umat manusia, ditunjukkan dengan jelas dari ucapan para malaikat pada ayat sebelumnya yang merujuk kepada Adam sebagai “yang akan menyebarkan kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah”, hal yang sama juga tampak dari surah Al-A’raf: 11.
“Terangkanlah kepada-Ku nama-nama [segala sesuatu] ini, jika yang kalian katakan itu memang benar!”, tantangan Tuhan kepada para malaikat, yakni bahwa merekalah yang, karena kesuciannya, lebih berhak untuk “mewarisi bumi”.
Kemudian pada ayat 34, “Sujudlah kalian di hadapan Adam!”, untuk menunjukkan bahwa berkat kemampuan berpikir konseptualnya, manusia lebih unggul dalam hal ini ketimbang para malaikat sekalipun.
Namun, ada yang membangkang—malaikat pembangkang, lihat surah Al-A’raf: 11—fakta “pembangkangan” ini, dan yang ditekankan berulang-ulang dalam Al-Quran, mendorong beberapa mufasir untuk berkesimpulan bahwa iblis bukan tergolong salah satu malaikat, sebab malaikat tidak dapat berbuat dosa: “mereka tidak bersikap sombong …dan melaksanakan apa pun yang diperintahkan kepada mereka” (surah Al-Nahl: 49-50).
Namun, bertentangan dengan penafsiran ini, para mufasir lain menunjuk pada ungkapan Al-Quran mengenai perintah Allah kepada para malaikat dan penolakan iblis untuk menaati, yang menjelaskan bahwa pada saat diperintah itu, iblis memang masih merupakan salah satu penghuni surga. Karena itu, kita harus berasumsi bahwa “pembangkangan” iblis ini memiliki makna simbolis belaka dan, sebenarnya, merupakan akibat dari fungsi tertentu yang ditetapkan Allah kepadanya.
Istilah “taman” (al-jannat, the garden) pada ayat 35, ada banyak perbedaan pendapat di kalangan para mufasir tentang apa yang dimaksud dengan istilah itu: apakah taman dalam pengertian duniawi, atau surga dalam kehidupan akhirat yang menanti orang-orang saleh, atau taman khusus di dalam surga.
Menurut beberapa mufasir klasik, yang dimaksud dalam ayat ini adalah tempat tinggal duniawi di bumi, yakni suatu lingkungan yang penuh kenyamanan, kebahagiaan, dan kesucian. Namun, bagaimanapun penafsirannya, cerita tentang Adam ini jelas merupakan salah satu ayat alegoris (mutasyabihat) sebagaimana yang disebutkan dalam surah Ali Imran: 7).
Kemudian, sebagaimana di surah lain dalam Al-Quran (surah Thaha: 120), konsep pohon dalam ayat 35 ini disebut sebagai “pohon kehidupan abadi”, dan dalam Bibel (kitab Kejadian 2: 9) sebagai “pohon kehidupan” dan “pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat”.
Demikian. []
Baca juga: Al-Baqarah 22-27

0 Komentar