[xxviii]
MASIH dalam rangka pembebasan yang diusung Baginda Muhammad. Hal menarik lagi yang dikedepankan beliau adalah pembebasan dari lembaga kependetaan.
Dalam berbagai budaya kuno para pendeta membentuk semacam kelas masyarakat eksklusif yang menjadi juru selamat jiwa manusia. Agama diamalkan kelas ini sebagai profesi, dan dianggap sangat suci ketimbang pekerjaan lain. Dalam Nasrani, misalnya, pendeta diorganisasikan dengan hirarkis-gereja di mana paus menduduki posisi puncak tanpa kemungkinan berbuat salah.
Dalam hal ini baik para penguasa maupun rakyat secara keseluruhan tunduk di bawah kekuasaan gereja. Sehingga, hubungan antara pemerintah dengan gereja menimbulkan oposisi yang begitu tajam dan lama. Aliran Protestan bisa kita lihat sebagai gerak protes terhadap Gereja Katolik Roma, bahkan di beberapa negara kemelut tersebut berlanjut dalam berbagai bentuk baru.
Dalam sejarah Eropa, pemberontakan semacam itu telah menyebabkan orang membenci agama. Agama, selama menyatakan dirinya dalam bentuk organisasi atau kelembagaan, akan berubah menjadi reaksioner dan menekan kebebasan esensial manusia.
Baginda Muhammad menyuruh para pengikutnya untuk mendalami Islam sedalam mungkin, tetapi sampai hari ini hal itu tidak lantas berkembang menjadi suatu kelas yang ekslusif seperti yang terjadi pada agama dan budaya-budaya lain di dunia. Kita lihat Hindu, memang tidak melahirkan kegerejaan yang terorganisasi seperti di Barat, tetapi ia mengembangkan satu kasta pendeta secara utuh.
Artinya setiap yang dilahirkan di dalam kasta brahmana secara alami akan merupakan pendeta. Mulai dari kelahiran sampai dengan kematian, semua peristiwa memerlukan anggota kasta ini untuk memimpin upacara-upacara keagamaan. Jadinya, seluruh aspek kehidupan menjadi wewenang pendeta dan sangat bercorak ritualistis. Dan demi kepentingan kelas [pendeta] inilah tercipta berbagai bentuk ritual yang penuh rahasia dan rumit, sehingga hanya orang-orang itu sajalah yang dapat melaksanakannya.
Kita saksikan pula, pada saat kependetaan berkembang, maka ajaran esensial agama pun menghilang. Karena moralitas agama acap akan ditempatkan di bawah formalisme dan di bawah naluri-kuasa kasta yang memiliki hak-hak istimewa ini.
Baginda Saw. menyadari bahaya ini, sebab agama tidak lagi sanggup membebaskan manusia tetapi justru memperbudak jiwa mereka. Dan kenyataan buruk ini tidak dapat disembuhkan jika setiap orang tidak mampu menjadi pendeta bagi dirinya sendiri.
Nah, Islam tidak menganggap perlu mendirikan candi atau tempat-tempat peribadatan khusus sebagai satu-satunya tempat untuk menyembah Allah. Memang kala itu masjid dibangun, yang pertama berwujud gubug beratapkan daun kering dan Nabi sendiri ikut mengerjakannya. Namun sang Nabi menyatakan bahwa “salah satu ciri khas agama saya adalah bahwa setiap tempat di bumi Allah yang luas ini adalah tempat beribadah”.
Artinya demi kepentingan berdoa dan shalat tidak diperlukan bangunan apa pun. Untuk berdoa dan shalat tidak diperlukan hiasan-hiasan yang estetis dan juga tidak diperlukan hal-hal yang misterius. Imam dalam shalat bukan seperti pendeta yang bertugas khusus untuk itu, dia tidak perlu memakai jubah atau pakaian formal dan juga tidak perlu menandai dirinya sebagai orang suci. Setiap muslim, dengan sangat sederhana dipilih jadi imam shalat karena pengetahuan dan budi yang luhur.
Dalam Islam, kelahiran bayi atau upacara pengislaman seperti pembabtisan, atau perkawinan ataupun pada pemakaman jenazah sama sekali tidak diperlukan pendeta. Pada setiap peristiwa penting atau setiap menghadapi situasi kritis setiap muslim hanya dianjurkan untuk meminta pertolongan-Nya, dan dalam berdoa, terlepas dari persyaratan khusyu’ dan tawadhu’ tidak dibutuhkan pemimpin upacara. Ia merupakan hubungan personal antara makhluk dengan sang khalik.
Baginda Nabi juga tak menghendaki Islam sebagai agama yang menjadi sumber nafkah. Pengetahuan tentang agama boleh saja, dan memang harus didalami, tetapi sebagai profesi tidak dibenarkan beliau.
Sungguh, hal ini merupakan langkah besar dalam rangka membebaskan manusia yang diperbudak oleh lembaga kependetaan, dan yang tertindas oleh penguasa-penguasa awam lagi sekuler. Di mana-mana lembaga kependetaan telah menetapkan diri sebagai perantara yang menghubungkan antara dewa atau Tuhan dengan manusia, yang konon manusia tidak berhak berhubungan langsung dengan sang pencipta, apalagi mendekati-Nya. Lantas untuk itu diperlukan magi, ritual tertentu atau jenjang hirarki kependetaan.
Dan Islam membalik fenomena itu. Cara berkomunikasi dengan Tuhan adalah berdasar konsep bahwa Allah lebih dekat dengan manusia daripada dirinya sendiri. Sehingga, seperti persoalan gereja versus lembaga pengetahuan tidak pernah timbul di dunia Islam. Perkembangan kasta yang menjadi semacam pendeta, tak akan pernah dapat dipetik dari semangat ajaran yang dibawa Muhammad Saw.
Islam mengenal perbedaan mazhab dan aliran di samping perbedaan pandangan, tetapi tidak menyangkut yang esensial, dan juga tidak sampai menjadi persoalan genting. Karena yang menyangkut ajaran fundamen, walau pada masa-masa Islam sarat dengan berbagai kemajuan intelektual dan kebebasan berpikir, tak satu pun terjadi pendapat yang saling berlawanan, apalagi berkembang saling mematikan.
Belum pernah muncul gejala perlawanan massal terhadap ajaran Islam dari internal kaum muslim. Kecuali beberapa kasus kekerasan yang ternyata lebih bercorak fanatik golongan, bukan soal ajaran fundamental Islam.
Walhasil, Baginda Muhammad telah membawa konsep ajaran yang begitu sederhana dan rasional, sehingga ajaran-ajaran fundamentalnya tidak dapat diperlawankan begitu saja. Ahli filsafat akan memuji dan menafsirkannya secara intelektual, pun ahli sufi akan menangkap ajaran agama sebagai pengalaman keagamaan yang begitu terasa intim. Dan mereka tidak saling mematikan, atau menganggap tafsir ajarannya yang paling benar, yang lain salah.
Kemudian konsep tauhid, mengesakan Tuhan menjadi landasan kehidupan yang sarat dengan kebaikan. Kebaikan tersebut digambarkan sebagai fitrah esensial jiwa manusia dan sebagai warisan bersama bagi semua jiwa yang luhur.
Dengan kedua konsep tersebut, lembaga kependetaan baik sebagai kasta maupun profesi tak ada tempat di hati kaum muslim. Sungguh, betapa umat manusia berutang budi kepada Muhammad atas pembebasan ini. []

0 Komentar