Berfisik Kuat

BAGINDA Rasul itu berbadan kuat dan sempurna fisiknya, baik pada masa kanak-kanak maupun masa remajanya. Padahal, umumnya nabi-nabi sebelum Muhammad—terkecuali Nuh, Ibrahim, Musa, Sulaiman, dan Daud—lemah fisiknnya.

Bahkan seluruh masa hidup Baginda Muhammad, dari riwayat-riwayat yang tersiar, beliau senantiasa dalam keadaan sehat, kuat, tinggi, kekar, dan tidak pernah sama sekali mengambil langkah menyerah. Beliau menyerahkan urusannya kepada Allah semata. Beliau bangkit membela dakwah dengan segala kekuatan yang Allah anugerahkan kepadanya.

Kita bisa mengetahui secara jelas kekuatan fisik Rasulullah itu ketika Umar masuk Islam. Ya, Umar masuk Islam pada pengujung tahun kelima kenabian. Dan itu menjadi pertanda keluarnya jamaah pengikut Nabi dari Darul Arqam, serta dimulainya dakwah secara terang-terangan. 

Waktu Umar masuk Islam, Rasulullah berusia 45 tahun. Sedang Umar berumur 33 tahun, lebih muda 12 tahun dari beliau. Saat itu Umar dikenal kuat dan keras. Ia merupakan orang yang disegani di tengah-tengah kabilahnya, Bani Adi bin Ka’ab. Ibunya, Hantamah, berasal dari kabilah Makhzum, anak dari paman Abu Jahal. Saking membanggakannya orang-orang, Umar dikatakan sebagai adik kandung Abu Jahal.

Yang terpenting dari masuknya Umar, ketika ia mengetuk pintu rumah adik kandungnya, Fathimah, istri Said bin Zaid, gemetarlah semua orang yang ada di dalam. Mereka takut kepada Umar. Khabbab bin Art yang membacakan ayat Al-Qur’an dalam rumah tersebut terpaksa bersembunyi, saking takutnya. Tidak ada yang berani menghadapinya kecuali adik kandungnya sendiri, yang saat itu terpaksa harus membela suaminya yang dipukul Umar. Umar pun memukul Fathimah hingga bibirnya berdarah. 

Menyadari apa yang dilakukan saudara kandungnya, Fathimah lantang berkata, “Benar, kami telah masuk Islam. Telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Silakan lakukan apa saja yang kamu maui!”

Umar yang pada dasarnya memiliki kelembutan hati di balik kekasarannya, begitu melihat darah menetes dari bibir adik kandungya, luluhlah hatinya. Ia kemudian meminta untuk melihat lembaran yang digenggam adiknya.  

Singkat riwayat, Umar sembari menyandang pedang mendatangi kediaman Al-Arqam hendak menemui Muhammad. Ketika ia mengetuk pintu, sontak kaum Muslim yang ada di dalam rumah ketakutan, kecuali Hamzah dan Muhammad. Usia Hamzah tidak jauh berbeda dengan usia Baginda Muhammad.

Hamzah bersiap-siap dengan pedangnya, tapi sang Baginda meminta Hamzah dan semua yang ada untuk tenang. Beliau berkata kepada salah seorang sahabatnya, “Izinkan ia masuk!”

Begitu sahabat itu mengizinkan Umar, kemudian Rasulullah bangkit dari tempat duduknya, lalu menarik dua ujung sorban  Umar dengan keras, “Apa yang membuatmu datang kemari, hai Ibnul Khattab? Demi Allah, tidak terpikir olehku kamu akan berhenti memusuhi kami hingga datang kepadamu bencana.”

“Wahai Rasulullah, aku datang kepadamu untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan beriman kepada apa yang datang dari Allah (Al-Qur’an).” Kata Umar.

Mendengar ini, Rasulullah memekikkan takbir, dan semua yang ada di dalam rumah itu berbinar gembira, bahwa akhirnya Umar memeluk Islam. 

Sebelumnya Rasulullah tidak mengetahui bahwa Umar datang untuk menyatakan keislaman. Umar menenteng pedangnya, tetapi Rasulullah tidak merasa gentar dan tidak pula menyerahkan urusan kepada Hamzah. Beliau sendirilah yang bangkit mendatanginya dan menarik sorban Umar. 

Nah, tidaklah beliau melakukan itu, kecuali karena percaya pada kekuatan dirinya sendiri bahwa beliau mampu merebut pedang Umar dan memukulkan kepadanya jika ia menyerang. Jika tidak ada kepercayaan pada kemampuan dirinya sendiri, niscaya beliau tidak akan melakukannya. Ini saja sudah cukup untuk menunjukkan bahwa Rasulullah memiliki kekuatan fisik dan keberanian luar biasa.

Ada lagi riwayat, adalah kisah seorang pedagang kecil dari sebuah negeri di Yaman. Ia sering menjual untanya kepada Abu Jahal dan Abu Jahal selalu menipunya dalam hal pembayaran harga unta. 

Kemudian, laki-laki itu menghadap para pembesar Quraisy di samping Ka’bah dan menyatakan keluhannya kepada mereka tentang perlakuan Abu Jahal. Saat itu bersamaan Rasulullah sedang berada di sisi Masjidil Haram. Para pembesar Quraisy ingin mengejek Rasulullah, maka salah seorang mengatakan kepada laki-laki tersebut, “Kamu lihat laki-laki itu—sambil menunjuk Rasulullah—pergilah kepadanya. Ia akan mengantarmu kepada Abu Jahal!” 

Mereka mengatakan demikian karena mengetahui permusuhan yang terjadi antara Abu Jahal dan Muhammad. Mereka memperkirakan bahwa Rasulullah tidak akan mampu menolong laki-laki tersebut. 

Namun, setelah laki-laki itu menceritakannya kepada Rasulullah, beliau segera bangkit dan pergi menuju rumah Abu Jahal bersamanya. Pembesar-pembesar Quraisy merasa takjub terhadap sepontanitas sikap Muhammad yang bersedia menolongnya, tapi mengira bahwa beliau akan memberikan hak laki-laki itu dari hartanya sendiri. 

Dan ternyata, Muhammad bersama laki-laki itu terus berjalan tidak menuju rumahnya, tetapi hingga berhenti di pintu rumah Abu Jahal, lalu mengetuknya. Abu Jahal keluar menemui mereka dengan malas-malasan. 

“Berikan hak laki-laki ini!” kata Rasulullah to the poin.

“Ya, tetaplah di situ, aku akan memberikan hak laki-laki ini.” Kata Abu Jahal. 

Abu Jahal masuk ke dalam, lalu keluar memberikan hak laki-laki tersebut kepada Muhammad, kemudian Muhammad memberikannya kepada laki-laki itu. 

Tidak lama setelahnya, para pembesar Quraisy datang dan bertanya kepadanya, “Ada apa denganmu? Kami tidak pernah melihatmu seperti yang kamu lakukan tadi.”

“Celakalah kalian,” jawab Abu Jahal. “Aku melihat Muhammad marah dan aku sungguh takut kepadanya tadi.”

Nah, bagaimana coba! [] 

Ungaran, 29 November 2025

Posting Komentar

0 Komentar