:: Muhammad Zuhri
Pertama kali menjamah lantai kota, Si 'Ubaid terperangah melihat deretan mobil yang tiada putus-putusnya memenuhi jalan raya, sejak pagi hingga larut malam. Sempat tebersit di hatinya bahwa orang-orang kota itu gemar keluar rumah dan menghabiskan umurnya di tengah jalan. Sulit baginya untuk memahami bagaimana kehidupan yang demikian itu bisa diselenggarakan dalam waktu yang panjang tanpa pernah kecapaian.
Setelah membaur beberapa bulan di tengah masyarakat kota, ia
baru menyadari bahwa sekian juta umat manusia yang simpang-siur di jalan itu
sedang berjuang mati-matian untuk memperkokoh keberadaannya di muka bumi. Tentu
saja di antara mereka terdapat sejumlah orang yang gagal menemukan pijakannya
di lantai kota, tetapi malu berat untuk mengakui kekalahannya dan enggan pulang
ke udik.
Tidak mengherankan sebagai dabbah (makhluk berfisik) yang masih memerlukan makan dan minum,
penutup aurat dan tempat berbaring yang nyaman, dalam posisi terpelanting
seperti itu, mereka bisa nekat melakukan apa saja demi menunjang kelangsungan
hidupnya. Maka lahirlah lahan-lahan baru untuk memeras nafkah di luar program
pembangunan semesta berencana. Lokasi bisnis tubuh, perjudian, jambret,
tipu-menipu, dan peras-memeras darah kawan seiring menjadi alternatif yang
ternganga di lorong-lorong gelap ibu kota.
Menatap wajah kota pada sisi yang monster itu Si 'Ubaid
mengeluh kepada Tuhan, “Ya Allah! Alangkah mahalnya rizki-Mu, sehingga untuk
memperolehnya meski ditebus dengan harga diri makhluk-Mu yang mulia”.
Selintas ia teringat sebuah ayat yang mengkonter keluhannya.
“Sungguh telah kami
jadikan manusia dalam sebaik-baiknya martabat. Kemudian kami mengembalikan ia
kepada serendah-rendah tingkatan. Kecuali mereka yang beriman dan beramal shaleh.
Baginya pahala yang tiada habis-habisnya.” (At-Tin:4-6).
Ketinggian martabat manusia terletak pada kebebasannya
mendayagunakan potensi diri dan fasilitas alam. Namun bila kebebasan itu diacu
oleh hawa nafsu yang tanpa batas, ia akan segera melenyap dari diri kita.
Misalnya, seseorang bebas melakukan bunuh diri atau mencelakakan orang lain,
tetapi setelah itu kebebasannya akan terbang ke balik kuburan atau Lembaga
Pemasyarakatan.
Sesuai dengan ketinggian nilainya, kebebasan itu harus
dijaga dan dipelihara supaya lestari di dalam diri, dan cara yang terbaik untuk
mempertahankannya adalah dengan beriman kepada Allah dan berperilaku baik
terhadap sesamanya.
Si 'Ubaid merasa lega hatinya. Ia tidak akan ikut-ikutan
membarterkan dirinya dengan fasilitas duniawi. Rasanya diri ini terlalu mahal
untuk dipertaruhkan dengan benda-benda. Semua boleh lenyap, selain harga diri.
Ia adalah milik Allah yang paling berharga. Ia adalah kendaraan pribadi-Nya di
alam eksistensial ini. Dengannya, Allah menata semesta. Dengannya, Ia menjaga
makhluk-Nya, dan melestarikannya, karena harga diri manusia adalah “Iman” itu
sendiri.
Subhanallah! []

0 Komentar