:: Muhammad Zuhri
Memenuhi undangan
Nabi Ibrahim
Ibadah Haji merupakan sebuah proses pengkondisian diri yang terakhir dari pengetahuan seseorang tentang Ilmu Tuhan, sebelum ia berangkat melaksanakan menejerialnya di muka bumi sebagai insan globalis yang otentik.
Milyaran rupiah dianggarkan setiap tahunnya untuk
mengirimkan para peserta pendadaran Illahi di Baitul Haram. Di sana mereka
dihadapkan pada kenyataan Khalqullah
yang varian dalam ras, etnis dan beragam dalam sifat, karakter, kultur,
tradisi, kecondongan hati dan alamiahnya, yang tak pernah disaksikan
sebelumnya. Seluruh ibadah dan pengabdiannya yang telah lalu, dari syahadat,
shalat, zakat, puasa dan muammalah hingga sikap hidup mereka di dalam merespon
benda-benda, manusia dan peristiwa-peristiwa, baik yang telah dimiliki
persepsinya maupun yang belum, akan dievaluasi dalam situasi mereka jauh dari
famili, komunitas sosial dan stuktur yang melindunginya.
Pada saat itu mereka akan ditelanjangi dari segala
nilai-nilai tempat mereka bersandar, dan dituntut mengungkapkan diri secara
otentik di depan sekian banyak masalah yang timbul dari kerumunan manusia dan
situasi alam yang berbeda.
Mereka dapat melakukan sesuatu atau tidak berbuat apa-apa
buat orang lain, itulah dirinya. Mereka boleh berprasangka baik atau buruk pada
apa dan siapa saja yang tampak di mata, itulah dirinya. Mereka bisa marah,
mengumpat atau sebal menyaksikan kenyataan yang tak diinginkan atau beristghfar
dan berlapang hati, itulah dirinya. Bahkan mereka dapat menatap wajah setan
yang mengadang langkahnya atau bertemu dengan Tuan Rumah yang mengundangnya
seraya memantapkan peran dirinya di muka bumi, itulah dirinya. Tak seorang pun
dari mereka mendapatkan perolehan yang sama dari safari suci Illahi. Mereka
hanya menemukan dirinya masing-masing, baik yang telah dikenal atau yang tak
dikenal, yang terlupakan atau yang mereka sendiri tak sudi mengenalnya.
Mereka semua berusaha napak tilas perjalanan Ibrahim a.s.
saat beliau dikeluarkan dari sandaran hidupnya yang rapuh dan beragam (duniawi)
ke dalam sandaran yang kokoh, tunggal dan abadi. Dua situasi yang jauh berbeda
yang sekaligus dihayati oleh seseorang, mendukung terjadinya momen transendensi
di dalam dirinya. Tentu saja bukan untuk menjadi duplikat Ibrahim a.s.,
melainkan menemukan dirinya sendiri yang beresensi Ibrahim.
Itulah Haji Mabrur yang hatinya lurus menghadap kepada Allah
dan hasil kreatifitasnya menghadap kepada umat manusia.
Yang Tak Punya Lawan
Umat manusia adalah satu-satunya makhluk yang memiliki
kemungkinan untuk dapat merefleksikan kehendak Tuhan di dalam melaksanakan
menejerial-Nya di muka bumi. Karena mereka diberi akal yang mampu melahirkan
gagasan-gagasan yang akurat untuk mengembangkan diri dan lingkungannya,
sekaligus menyelamatkannya dari kehancuran.
Pada hakikatnya apa yang disebut “gagasan” adalah hasil
hubungan dialogis antara akal manusia dengan kehendak Illahi lewat membaca
situasi dan peristiwa-peristiwa yang berlangsung di dalam proses penghayatan.
Tetapi gagasan barulah merupakan seekor kijang atau burung cendrawasih yang
lewat didepan mata seseorang yang sedang mengarungi hutan belantara. Ia belum
merupakan wujud nyata, sehingga tidak mungkin dapat dijual kepada pihak lain,
sebelum seseorang berhasil menangkap dan menguasainya.
Wilayah gagasan adalah kemungkinan-kemungkinan (al-imkan) yang masih berada di tangan
Tuhan. Meskipun demikian ia merupakan satu-satunya semesta manusia, ke arah
mana mereka bergerak mencari terobosan sejarah.
Sebelum manusia menemukan dirinya sebagai makhluk sejarah
yang berjalan lurus menembus kemungkinan-kemungkinan, mereka tergolong makhluk
kosmis yang beredar dalam pengulangan pengulangan yang tak terhindarkan, antara
diam dan bergerak, tidur dan jaga, pergi dan pulang, tumbuh dan berkembang biak,
hidup dan mati dan sebagainya. Ibadah haji merupakan sintesis antara wujud
manusia sebagai makhluk sejarah dan wujud manusia sebagai makhluk kosmis, yang
melahirkan wujud dirinya yang baru sebagai Insan Tauhid, Insan Abror atau Insan
Kamil yang tidak memiliki lawan lagi.
Yang Keras dan Yang
Lembut
Di dalam bersejarah umat manusia berjuang menembus
kemungkinan-kemungkinan yang diduga dapat menyampaikannya- pada situasi bebas
dan abadi. Namun tidak demikian kenyatannya. Kemungkinan-kemungkinan yang diambilnya
tidak selalu menyampaikan mereka kepada yang diharapkan, bahkan sering
sebaliknya. Hal itu disebabkan kemungkinan yang diungkapkanya belumlah
merupakan kemungkinan yang terbaik buat dirinya.
Menempuh kemungkinan yang terbaik adalah melaksanakan Amr Allah, yang dijamin oleh Hukum
Kodrat akan kepastian dan effektifitasnya. Oleh karena beresiko tinggi, maka
hanya orang-orang yang berjiwa besar yang berani dan mampu
mengaktualisasikannya.
Kebesaran jiwa seseorang tidak dapat diukur dengan kekuatan
fisik dan intelegensinya, melainkan dengan tanggungjawabnya terhadap nasib umat.
Dan kebesaran tanggungjawabnya terhadap umat tergantung kepada rasa cintanya
terhadap sesama. Sedang rasa cintanya terhadap sesama tidak mungkin bisa tumbuh
tanpa adanya citra ketuhanan di dalam diri. Hal itulah yang membuat Nabi
Ibrahim siap mengorbankan segala-segalanya, sejak dari milik hingga seutuh
waktu hidupnya demi keselamatan umat manusia dari kiblat hidup yang nyasar.
Beliau memiliki sifat kebapakan yang keras, sehingga berani
menentang kekuatan Namrud yang perkasa (Bintang; Masa-Silam; Persepsi),
membuang istrinya Hajar beserta bayinya ke padang pasir Arab (Bulan; Masa-Kini;
Kebutuhan) dan membantai anak kesayangannya Ismail (Matahari; Masa-Depan;
Harapan) untuk mendapatkan Allah sebagai Sahabat (Khalilullah). Tetapi beliau juga memiliki sifat keibuan yang
lembut, sehingga beliau berani mengatakan di depan Allah, "Siapa mengikutiku, sesungguhnya ia termasuk
dalam golonganku. Dan siapa mendurhakaiku sesungguhnya Engkau Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang."(Ibrahim 36).
Semua itu membuktikan bahwa TAUHID bagi Ibrahim a.s. tidak
sekadar gagasan yang hendak diideologisasikan, melainkan benar-benar eksistensi
diri beliau yang otentik (An-Nahl 120).
Demikian. []
Ringkasan
Berhala Masa Silam
Simbol: Bintang
Subyektifikasi: Ideologi Namrud
Wujud Normatif: Persepsi
Wujud Faktual: (1) Yang bersifat Lingkungan, Dinasti, nasab,
ras & etnis, sekte/mazhab, dan golongan/komunal; (2) Yang bersifat Personal
(telah tiada), Orang-orang suci, pahlawan, dan pembesar.
Berhala Masa Kini
Simbol: Bulan (purnama)
Subyektifikasi: Siti Hajar
Wujud Normatif: Kebutuhan
Wujud Faktual: Harta, tahta,wanita,nilai-nilai, prestasi,dan
semua bentuk kultusindividu
Berhala Masa Depan
Simbol: Matahari
Subyektifikasi: Ismail
Wujud Normatif: Harapan
Wujud Faktual: Semua ide selain mencapai Ridha Allah,
misalnya, Materialisme, Sekularisme, dan Hedonisme
Baca juga: Jalan Sufi

0 Komentar