Makna Kematian

:: Muhammad Zuhri

Kematian sebagai kemungkinan

Sebagai kemungkinan, “kematian” merupakan sesuatu yang unik dan menyimpan misteri bagi kebanyakan manusia. Akal kita hanya dapat melihatnya sebagai satu-satunya kemungkinan yang kehadirannya akan merampas semua kemungkinan yang ada.

Kaum agamawan menanggapinya dengan memanfaatkannya sebagai nasihat yang ampuh untuk memperbaiki kualitas kehidupan penganutnya. Dan menempatkannya sebagai masalah yang paling sentral dalam ajaran. Tak ada agama yang tidak menjanjikan kematian yang sempurna.

Kematian sebagai kenyataan

Secara substansial “kematian” merupakan sisi lain dari kehidupan. Bila sisi yang satu tiada, sisi yang lain pun tak akan muncul. Keberadaannya menjadi tak terpisahkan dari wujud kehidupan. Sehingga, bisa dikatakan bahwa setiap makhluk hidup sejak sediakala telah mendukung kematiannya sendiri. Meskipun demikian “kematian” tetap merupakan sesuatu yang ditakuti orang.

Pertanyaannya kemudian, "Siapakah yang sebenarnya menyimpan misteri, kematian atau manusianya?" 

Menurut ajaran tasawuf, insanlah yang merupakan rahasia Allah (menyimpan misteri), sedang kematian hanya merupakan the milestone of human life yang segera akan disusul oleh perjalanan hidup selanjutnya (sisi rangkapannya, kematian).

Makna kematian yang lebih bermakna

Kaum Sufi memaknai “kematian” sebagai momen penobatan seseorang untuk menjadi raja yang sebenarnya. Dengan demikian “kematian” bermakna sebagai saat di mana seseorang mulai melaksanakan peran ketuhanannya di muka bumi.

Kematian jasmaniah tidak dianggap sebagai kematian, karena tidak menawarkan perubahan yang bermakna bagi kehidupan. Seorang penjahat tidak akan berubah menjadi baik dengan datangnya kematian jasmaniah.

"Dan siapa yang buta di dunia ini, ia akan buta pula di akherat, dan bahkan lebih sesat lagi jalannya." (Al-Isra': 72)

Tawaran makna kematian yang lebih bermakna bagi kehidupan manusia oleh mazhab tasawuf akan menjadi semakin jelas dengan adanya statemen: "Bila kita hidup, Allah akan mati. Sebaliknya bila kita mati, Allah akan hidup."

Menyaksikan Wajah Allah

Bagi  para Sufi,  apa yang disebut “kenyataan” adalah medan tempat Yang Mahanyata menyatakan diri. Ia menyatakan Diri dalam rangka memberikan pelayanan, pengembangan dan perlindungan kepada  makhluk-Nya (Robbul-'alamin).

Kenyataan yang berwujud benda-benda, manusia dan peristiwa-peristiwa memiliki dua wajah yang berupa “ciptaan” dan “amr”. Ketika seseorang menghadapi kenyataan dan yang tampak olehnya sisi “ciptaan”, ia akan bersemangat untuk hidup, dengan berupaya mengungkapkan segala fasilitas yang tersimpan di dalamnya. Apabila yang tampak olehnya sisi “amr” (amrullah), ia akan kehilangan hak untuk menyentuhnya menurut kemauan sendiri.

“Sungguh, milik Allahlah ciptaan dan amr itu. Maha berkah Allah, Pengurus semesta alam" (7:54.).

Menyaksikan “amr” yang melatarbelakangi setiap “ciptaan” itulah yang disebut menyaksikan Wajah Allah, yang oleh para Sufi dipandang sebagai sebuah kematian agung yang bernuansa abadi.

"Kemana saja engkau menghadap, disana terdapat Wajah Allah." (2:115)

Keadaan seseorang yang telah menyaksikan Wajhullah memang persis seperti keadaan orang yang telah meninggal. Ia akan tampil tanpa memertahankan martabat dan harga dirinya dan tidak pula bersandar pada apa yang telah dimilikinya dari harta, ilmu pengetahuan, amal perbuatan dan prestasi-prestasinya. Ia tak lagi dapat terpesona oleh apa pun, tidak pula meminta sesuatu pun, dan bahkan tidak pernah mengadukan perihal apa pun. Akibatnya ia tak lagi jinak kepada apa dan siapa pun, karena ia telah mendapatkan Allah yang tak tertandingi oleh apa dan siapa pun.

Saat itulah seruan Allah ini dapat dipahami. "Hamba-Ku! Taatlah kepada-Ku dalam apa yang Kuperintahkan kepadamu. Jangan mengajari-Ku dengan apa Aku memperbaikimu. (Hadits Qudsi)

Amr Allah

Bagaimana kita bisa membaca Amr (Perintah) Allah yang kontekstual dengan sikon zaman (bukan amr yang telah dapat kita ketahui di dalam Kitab Suci) supaya kita bisa menanggapinya sebagaimana mestinya?

Seseorang tidak akan dapat membaca amr Tuhan atau menyaksikan Wajah-Nya sebelum ia mati. Maksud kata “mati” di sini adalah telah selesai dengan masalah dirinya. Yaitu seseorang yang sudah terpanggil untuk mengurusi masalah yang lebih besar, yaitu masalah umat dan semestanya.

“Istirahatkan dirimu dari berupaya (untuk kepentingan diri). Karena apa yang telah ditegakkan oleh selain dirimu (Allah), tak perlu engkau bersusah payah menegakkannya untukmu.” kata Ahmad bin ‘Athoillah As-Sakandari dalam Hikamnya yang masyhur.

"Wahai jiwa yang telah tenang (yang telah istirahat dari memikirkan diri sendiri). Kembalilah kalian kepada-Ku dengan rela dan direlai. Dan masuklah dalam golongan hamba-Ku (yang siap menunaikan urusan Allah di wilayah kemanajerannya) dan masuklah ke dalam surga-Ku" (89:27-28).

Di dalam Al-Qur'an golongan tersebut disebut golongan Mutawakkilin.

"Dan siapa yang berserah diri kepada Allah, maka Allah cukup baginya. Sesungguhnya Allah akan menyampaikan urusan-Nya." (65:3)

Ada pun menunaikan amr Allah berbeda dengan melakukan sesuatu yang bermotif kepentingan diri  atau nilai-nilai pada umumnya. Sifat amrullah itu maf'ula (pasti terlaksana) dan tidak harus lurus dengan logika atau visi moral yang berlaku. Kisah perjalanan hidup Nabi Ibrahim a.s  dan keluarganya, dan kisah  Nabi Musa a.s. dengan Hidlir menggambarkan hal tersebut.

Selain itu, di balik “kenyataan faktual” seorang yang melaksanakan amr Allah kita dapatkan “kenyataan konseptual” yang bermakna bagi kehidupan.  Perilaku Nabi Ibrahim dan isterinya Hajar dalam menghayati perintah Tuhan menjadi sebuah konsep untuk membuka hijab bashiroh kita terhadap amr Allah (ibadah Haji). Pengalaman aneh-aneh selama menunaikan ibadah Haji bukanlah dari gangguan Jin, melainkan ajakan berkenalan dari Tuan Rumah lewat amr-amr-Nya yang harus direspon dengan taubat (merubah cara hidup sebagaimana yang dikehendaki–Nya)

Itulah misteri besar yang tersimpan dalam diri seorang hamba yang telah menemukan kematiannya.

"Hamba-Ku! Taatlah kepada-Ku, sehingga Kujadikan di dalam diri-Mu sifat rabbaniyah. Bila kau katakan pada sesuau 'jadi', maka akan menjadi" (Hadits Qudsi). Dengan idiom Qur’an perintah itu menjadi, "Dan sembahlah Tuhanmu, hingga datang kepadamu keyakinan!" (15:99)

Imanensi Rahimiyah Allah

Ketika seseorang sudah tidak lagi jinak kepada apa dan siapa pun, sifatnya akan berubah menjadi penyantun dan penuh kasih sayang kepada sesamanya. Revolusi dirinya telah selesai, kini saatnya untuk memulai peran rabbaniyahnya di muka bumi.

Saat itu dirinya sudah bukan dirinya lagi, melainkan orang Tuhan (ahlullah) yang dipandu dan dilindungi oleh-Nya di mana dan kapan saja ia berada.

Dalam melaksanakan amr-Nya ia tidak lagi mengharap apa pun, selain  ridla-Nya. Ridla Allah dalam Al-Qur'an disimbolkan dengan surga. Padahal surga tidak akan dapat dimasuki selain oleh “Rahim”, yaitu orang yang bersifat penyantun dan penuh kasih-sayang dalam mengembangkan semesta kehidupan, La yadkhulul jannata illa rahim (Al-Hadits).

Maka, tidak salah bila seorang pelacur bersaksi di depan seekor anjing yang kehausan, seraya menyerahkan air minum yang didapatkannya dengan susah payah di tengah padang pasir. Dan tidak salah pula ketika ia melangkahkan kakinya menuju pintu gerbang surga. Ia hanya bisa menghampiri seekor anjing dengan perolehannya yang paling berarti hari itu. Habis, di depan matanya sudah tak ada lagi kemuliaan yang bisa ditemukan. Dan ia benar. Segala kemuliaan memang sirna, ketika Yang Mahamulya telah datang kepadanya. Sungguh!

Ternyata seorang pelacur pun mampu bersyahadat di depan Rabbul-‘alamin dengan kerahimannya terhadap seekor anjing. Selanjutnya tinggal bagaimana ia memelihara dan mengembangkan sifat mulia yang telah ditawarkan Allah (Sang Pemilik sifat-sifat mulia) kepadanya.

Demikianlah, setiap individu memiliki caranya sendiri dalam bermusyahadah dengan Rabbul-‘alamin, sesuai dengan peran rububiyah yang diamanatkan Allah kepadanya. Ratu Bilkis yang lumpuh di depan kehebatan Sulaiman a.s. mengucapkan “aslamtu ma’a sulaimana lillahi robbil-‘alamin”; para Penyihir Fir’aun yang terpesona dengan mu’jizat Musa a.s. mengucapkan “amanna birabbil ‘alamin”; Fir’aun ketika ditelan laut merah juga bersaksi  “amantu birabbi musa wa harun”; dan Saridin di depan Sunan Kudus dengan menjatuhkan diri dari atas pohon kelapa sehingga membuat beliau marah berat kepadanya.

“Kuminta engkau mengucapkan syahadatain, bukan mendemonstrasikan kesaktian”, kata Sunan.

“Sumpah, saya tidak pernah belajar ilmu kesaktian. Hanya lidahku malu mengucapkan kalimat itu, karena tidak fasih. Biarlah daging, tulang dan kulitku yang bersaksi di depan Kanjeng Sunan. Silakan memeriksanya, adakah luka-luka, balur atau kerusakan di sana?”

Saridin (Sirruddin) pun berhasil menjadi seorang Sufi yang merakyat dengan pengabdiannya yang optimal pada zaman Sultan Agung Mataram. 

Sayang Fir’aun tidak memiliki kesempatan untuk mengabdikan perolehannya, karena maut segera menjemputnya. Maka rebutlah kematian sedini mungkin, sebelum ajal tiba. []

Baca juga: Akhlaqul Karimah

Posting Komentar

0 Komentar