:: Muhammad Zuhri
Apa yang di sebut akhlaqul karimah atau budi pekerti luhur bukanlah sopan santun,
unggah ungguh atau basa-basi sebagaimana sering dituntut oleh generasi tua
terhadap generasi muda, di mana setiap etnis telah mewarisi caranya sendiri
dari leluhur mereka.
Hadist Nabi Saw.: "Aku telah diutus untuk menyempurnakan akhlak
yang mulia" dan sabda Tuhan yang ditujukan kepada Muhammad Saw.:
"Sesungguhnya engkau benar-benar
memiliki akhlak yang luhur”, menunjukkan bahwa ajaran Islam telah memiliki
kriteria tersendiri tentang akhlak yang mulia.
Sesuai dengan sifat ajaran Islam yang
universal, maka tawaran tersebut pastilah akan memberikan alternatif terhadap
dualisme moral yang ada (moral barat dan moral timur) yang akan menjadi kendala
bagi terwujudnya umatan wahidatan
(masyarakat global) di kelak kemudian hari.
Menurut pandangan Islam seseorang bisa
di sebut berakhlak luhur manakala dia berada dalam kondisi yang seimbang.
Artinya pribadi tersebut telah sanggup berdiri di antara Allah dan semestanya,
di antara yang idel dan real, atau di antara dimensi keharusan dan dimensi
kenyataan.
Demikianlah telah Kami jadikan
kamu suatu umat yang seimbang, supaya kamu
menjadi saksi atas manusia dan Rosul
(mewakili Allah) menjadi saksi atas
kalian. (Al-Baqarah : 143)
Bila kita renungkan dan berani bersifat
jujur, kita pasti akan sampai pada kesimpulan bahwa kondisi mampu berdiri d
tengah-tengah antara dua hal yang tak dapat dipertemukan merupakan satu-satunya
kondisi yang memiliki kemungkinan. Namun resikonya ia dibebani oleh dua
tanggung jawab sekaligus, yaitu tanggung jawab ke atas dan tanggung jawab ke
bawah.
Ketika pribadi yang demikian menghadap
kepada Allah, ia bertanggung jawab untuk menyampaikan tuntutan dan harapan umat
manusia kepada-Nya. Dan ketika ia berhadapan dengan manusia ia bertanggung
jawab menyampaikan pesan dan perintah Allah kepada mereka. Maka sekaligus ia
akan menjadi wakil Allah di depan manusia dan menjadi wakil umat manusia di
depan Allah.
Itulah kondisi pribadi Rasulullah Saw.
yang telah kita sepakati sebagai Uswatun Hasanah
(figur teladan yang akurat). Maka dapatlah kita bayangkan betapa besar dan
beratnya tanggung jawab umat Muhammad Saw. (umat setelah rasulullah Saw. hadir)
di muka bumi.
Sekarang apakah di dalam berdoa dan
shalat-shalat kita di depan Allah kita telah benar-benar membawa harapan umat,
dan di dalam pergaulan kita dengan sesama manusia telah menyampaikan pesan dan
perintah Allah sebagai mana mestinya, atau belum. Kalau ternyata belum, berarti
kita belum menyandang akhlaqul karimah.
Demikian. []

0 Komentar