“Binatang saja cemas meninggalkan anak-anaknya di dalam sangkar yang tak aman. Tetapi manusia yang berakal bisa tenang melihat masyarakatnya nyaris terancam bencana.” ungkap sang misterius kepada Muhammad Zuhri dalam buku Lantai-Lantai Kota.
Guru Sufi itu menggambarkan dirinya,
lewat tokoh Ubaidillah, terperenyak mendengar ungkapan dari sang misterius itu.
Buru-buru ia mengejar hingga ke lorong depan rumahnya, tapi orang aneh itu
telah lenyap di tikungan.
Kepala Ubaid kian pusing. Hingga
kemudian, dari radio yang tergolek di meja tulisnya mengalun qira'atul Qur'an,
mengabarkan keterlibatan seorang mukmin di tengah lingkungan. “Engkaulah
sebaik-baik umat yang dikirim buat manusia, untuk menyuruh melakukan yang benar
dan mencegah yang mungkar, dan kamu tetap beriman kepada Allah.” (Ali
Imran:110).
Sebaik-baiknya umat..., kata-kata itu diulang-ulang Ubaid setiap kali teringat tamu
misteriusnya.
Juga dalam pengajian bulanan di musala,
depan rumahnya, Muhammad Zuhri kerap menyampaikan, puasa adalah sarana teknis
menghayati keadaan Tuhan. Bahwa Tuhan itu tidak makan, tetapi memberi makan.
Puasa adalah sarana menyerap sifat Tuhan. Ibarat besi yang dimasukkan ke dalam
api, akan menyerap sifat api yang sanggup membakar apa saja yang tersentuh.
Berpuasa memungkinkan seorang mukmin
menyandang sifat Tuhan. Sifat baqa (kekal), misalnya, sebagaimana kisah Ki
Ageng Sela yang seumur hidup berpuasa daud. Sehingga, nama Ki Ageg Sela abadi
sebagai orang besar lantaran anak turunnya berhasil menjadi Raja Mataram.
Bahkan Muhammad Zuhri sampai menandaskan,
bangsa-bangsa yang tidak punya tradisi puasa tidak akan mampu bersejarah.
Mereka berhenti di tengah jalan dan hanya meninggalkan kisah pengantar tidur.
Singkat kata, menurutnya bahwa berpuasa juga akan mengabadikan diri. Berpuasa
itu menyatukan dua identitas: makhluk budaya dan makhluk qodrati menjadi
makhluk sejarah.
Telah kita alami, sudah kita rasakan,
puasa mengjungkirbalikkan keadaan supaya kita awet. Onderdil kita tidak cepat
aus. Bahwa kebiasaan makan tiga kali sehari diubah dua kali. Bahwa saat ingin
makan pada siang hari, justru dicegah. Ketika tak bernafsu makan pada dini
menjelang fajar, justru harus makan sahur.
Saat puasa, tubuh yang biasanya disuplai
kalori tiba-tiba dicegah, padahal energi keluar terus, karena kita tetap harus
beraktivitas. Dan sebagai gantinya, sel-sel yang ada dalam daging, yang ada di
tulang, yang ada di otak, terpaksa dibakar untuk tetap menjamin kelangsungan
hidup selama Ramadan. Sel-sel itu pun berguguran dimakan sendiri. Sel-sel di
tangan, kaki, mulut, hingga otak, yang memiliki rekam jejak buruk pun musnah.
Sehingga, selepas Ramadan, kita menjadi manusia baru, manusia normal yang
selaras dengan alam, yang suci. Sel-sel lama berguguran, dan fitrilah kita.
Selanjutnya,
puasa menyadarkan keberadaan kita di tengah semesta alam. Acap kita salah menyikapi
kenyataan. Kita merasa lebih tinggi dari alam, yang dengan sesuka hati kita
perebutkan hinga keropos. Seolah dunia ini boleh saja kiamat setelah kita
selesai mengeksplorasinya. Padahal tidak demikian. Alam harus terus dijaga dari
kepunahan.
Ibadah
puasa melatih ketahanan diri dengan cara memungut fasilitas alam seminimal
mungkin. Karena sesungguhnya fasilitas alam tak selayaknya diperebutkan dengan mengorbankan
pihak lain, atau dihambur-hambur demi memanjakan nafsu. Alam mesti dimanfaatkan
seefisien mungkin demi kelestarian hidup bersama. Kelestarian bumi.
Akhirnya
jelaslah, di tengah gelimang sarana yang mewah dan berlimpah ragam hayati di
negeri ini, selaku muslim justru harus berhenti memunguti sesuka kehendak
sendiri. Artinya, inilah cara kaum beriman berkontribusi terhadap kehidupan,
yakni memberi kesempatan yang lain untuk bertumbuhkembang. Istilah Muhammad
Zuhri: memberi tanpa mengulurkan tangan.
Tersebut
kisah Musa, dalam pengembaraan hingga di bukit Sinai, beliau diperintah Tuhan
untuk menanggalkan kedua terompahnya, supaya dapat berdialog dengan Tuhan.
Dua
terompah “kanan” dan “kiri” adalah simbol dari kedua pijakan manusia: jiwa dan
raga. Allah tidak berkenan berkomunikasi dengan hamba-Nya, selama baju
eksistensialnya (jiwa dan raga) belum dilepaskan. Selagi keinginan jiwa dan
raga masih sedemikian melekat di hati.
Kaum
Muslim pada bulan Ramadan, sebelum berbuka puasa, niscaya permohonan mereka
diterima Tuhan, sebab telah menampik segala damba jiwa dan raga.
Ya,
menanggalkan dua terompah kita, sama artinya memberi kesempatan yang lain untuk
menikmati. Kita tidak lagi ingin berebut. Tidak ingin turut mereguk fasilitas
alam seenak sendiri. Sebab sadar, sumber daya alam ini kian tipis makin langka.
Dan, kita tidak mau kiamat segera datang.
Syahdan,
berpuasa adalah upaya menunda kiamat. Dan upaya meniru sifat Tuhan, saya kutip
dari The Message of the Quran,
Muhammad Asad, “Dia-lah yang memberikan makanan, sedangkan Dia sendiri tidak
membutuhkannya.” (al-An’am: 14).
Demikian
kira-kira, sebaik-baik umat manakala sanggup berpuasa, yakni memberi tanpa
mengulurkan tangan. Terlebih kini, ancaman kiamat begitu nyata di depan mata.
Ungaran,
09/07/2026

0 Komentar