Syahdan, nyamuk merupakan serangga kecil, bersayap, dan berbelalai tajam. Belalai yang tak lain sebagai pusaka untuk mengisap darah sekaligus menularkan kuman atau virus penyakit. Kita familiar dengan serangga ini. Ia beserta para kawannya acap kali menjadi musuh tidur kita. Mengusik kenyamanan kita.
Namun, Allah swt malah mengabadikannya sebagai perumpamaan.
Bahkan menandaskan, “Sama sekali Allah tidak terhina untuk membuat
perumpamaan nyamuk atau yang lebih rendah dari itu.” (Al-Baqarah: 26).
Kenapa demikian? Gus Baha mengaitkan fenomena nyamuk itu dengan
konsep mukjizat.
Mukjizat yang sering
diartikan sebagai amrun khariqun li al-‘adah—sesuatu yang menyalahi
tradisi, yang dahsyat dan di luar nalar serta kemampuan manusia—kerap gagal dipahami.
Mukjizat acap hanya dikaitkan dengan keluarbiasaan material inderawi, seperti
tongkat Nabi Musa a.s. yang beralih wujud menjadi ular dan sanggup untuk
membelah Laut Merah. Atau unta Nabi Saleh a.s. yang keluar dari dalam batu
cadas.
Memang akal kita tak sampai, kenapa bisa sedemikian dahsyat
mukjizat tongkat Nabi Musa a.s., dan unta Nabi Saleh a.s. Dan, jelas pula
jawabnya: itu qudrah atau kuasa Tuhan.
Tapi Baginda Nabi Saw. menolak mukjizat semacam itu. Karenanya
jelas, sekira dituruti lama-lama umat Islam tidak bisa melihat kedahsyatan
ciptaan Allah yang tergelar dalam keseharian. Kalau kita mengakui kekuasaan
Tuhan dengan menunggu keluarbiasaan macam tongkat Nabi Musa a.s. yang bisa
dipakai untuk membelah laut, atau menunggu unta keluar dari batu gunung, maka kecelakaan
besar dalam bertauhid. Kecelakaan besar dalam memahami qudratullah.
“Memangnya suatu yang normal atau biasa saja ini dalam
kemampuan manusia? Tidak juga kan?” tanya Gus Baha. “Toh manusia tidak bisa
bikin unta. Tidak bisa bikin laut. Tidak bisa bikin nyamuk. Jadi kalau mukjizat
itu didefinisikan sesuatu yang kita tak mampu, memangnya keseharian alam ini pun
kita mampu?”
Lebih jauh soal nyamuk, yang tak sekadar kecil, Gus Baha
melontarkan tantangan. “Sampean semua, jika saya minta bikin patung. Kira-kira
gampang mana: bikin patung nyamuk atau patung gajah? Gampang mana coba? Nyamuk juga
punya alat kelamin, bagaimana menatah kelaminnya? Itu baru tantangan bikin
patung, belum lagi jika Allah menantang untuk memberi nyawa. Jadi, apakah persoalan
nyamuk ini tidak lebih dahsyat ketimbang tontonan mukjizat yang diperagakan para
nabi sebelum Nabi Muhammad Saw?”
“Bagi orang alim,” ungkap sang gus, putera Kiai Nursalim, “percontohan
nyamuk itu lebih dahsyat ketimbang pertunjukan tongkat Nabi Musa a.s. yang membelah
laut merah. Juga pertunjukan Nabi Saleh a.s. tatkala mengeluarkan unta dari dalam
batu. Sebab baru diminta untuk sekadar bikin patung nyamuk saja kita sudah
kesulitan.”
Sungguh, betapa mencerahkan! Betapa kedahsyatan itu tidak
mesti berupa khariqun li al-‘adah, yang selalu menyalahi kebiasaan. Betapa
yang biasa, yang kita lihat dalam keseharian itu saja nyata-nyata di luar
kemampuan kita. Betapa yang remeh itu pun bukan atas kehendak kita. Betapa kita
tak pernah mengupayakan kehadiran laut, kehadiran nyamuk, dan lain sebagainya.
Benar-benar sebuah kebodohan, sekira kita tak menghayati keseharian sebagai
tanda kekuasaan atau ayat-ayat Tuhan.
Sehigga tak aneh, Allah Ta’ala pun menjelaskan bahwa iman
itu sesungguhnya cukup dengan menyaksikan alam. Menyaksikan segala yang ada di langit
dan di bumi. Bahwa semua yang terhampar ini di luar kemampuan manusia. Bahwa siapa
pun kita, dan apa pun gelar kita, mustahil sanggup bikin seekor nyamuk.
“Itulah kenapa Quran disebut afdal al-mukjizat,
mukjizat paling keren, paling hebat,” terang Gus Baha, “ya, karena al-Quran menjadikan
manusia punya nalar yang lebih objektif.”
Maka, sekali lagi iman pada era Baginda Rasul Saw. itu tidak
butuh sesuatu yang khariqun li al-‘adah. Lagian, mukjizat yang berbasis khariqun
li al-‘adah itu berisiko tidak abadi, akan termuseumkan. Seperti tongkat Nabi
Musa a.s. hanya berlaku untuk masa dan masyarakat tersebut, tidak untuk sesudah
mereka. Itu pun yang kebetulan terlibat. Bisa jadi, ada umat Musa a.s. yang tak
menyaksikkan pertunjukan tongkat beralih jadi ular besar yang menelan ular-ular
kecil dari para tukang sihir Firaun. Sehingga paling banter kita saat ini,
hanya bisa melihat tongkat Musa a.s. itu di museum, itu pun kalau memang ada di
museum.
Kemudian, logika mukjizat yang khariqun li al-‘adah
juga berisiko pada umat yang akan menuntut hal yang aneh-aneh, dan justru melupakan
yang inti. Bayangkan, sekira itu terjadi pada Nabi Saw., dan ulama adalah
pewaris nabi, maka umat akan menuntut para kiai atau para alim supaya sanggup
melakukan hal-hal yang luar biasa pula. Bisa terbang, misalnya, seperti Harry
Potter. Maka, sekiranya itu dituruti, niscaya umat Islam menjadi penyanjung
klenik. Dan, berbahaya bagi kelangsungan kenormalan hidup. Ingat, dulu pernah ada
kasus Dimas Kanjeng yang konon sanggup menggandakan uang.
Singkatnya, Baginda Nabi Muhammad Saw., sebagaimana tuntunan
al-Quran, menuntut umat untuk bisa memaksimalkan kedewasaan berpikir. Sehingga
tidak zamannya lagi, tanda kebenaran Allah harus ditunjukkan oleh sesuatu yang
super, seperti tongkat Musa a.s., atau unta Nabi Saleh a.s. Cara berpikir qurani:
keseharian hidup ini adalah pertunjukan qudrah Allah. Bahwa alam semesta
adalah jalan mengenal dan beriman kepada Allah, yang kesemuanya itu merupakan
kekuasaan Allah semata.
Walhasil umat Baginda Muhammad Saw. tak perlu ditunggui oleh
mukjizat bim salabim, tapi cukup dengan penalaran akal. “Maka, semenjak
kini kita harus kompromi pada nyamuk, jika perlu kita mengelus-elusnya.”seloroh
Gus Baha.
Demikian. []
Ungaran, 20/7/2026

0 Komentar