MBG: Proyek Gagal

Terus terang saya malas mengomongkan MBG. Namun, kalau tidak turut mempercakapkannya, seseg juga rasanya. Salah satu sebab, saya tak habis pikir sekelas Muhammadiyah pun masuk dalam daftar lima yayasan dengan jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terbanyak.

Persyarikatan Muhammadiyah bersanding dengan Yayasan Kemala Bhayangkari milik Polri, Yayasan Manunggal Kartika Jaya milik TNI AD, YSDP, serta Yayasan Adi Upaya milik TNI AU, sebagai penadah Rp 6 juta per hari guna menghidupkan dapur besar mereka.

Saya kecewa, Muhammadiyah sebagai salah satu pilar di negeri ini, tidak menjadi kekuatan penekan pemerintah, tetapi justru sebagai pelaksana proyek Makan Bergizi Gratis, proyek prioritas Prabowo Subianto. Persis sebelumnya, saya dan barangkali publik pada umumnya pun dibikin terhenyak akibat ormas ini mengikuti langkah NU dalam berebut tambang.

Tak pelak, terbaca oleh awam bahwa persyarikatan ini sekarang tidak lagi dihuni kaum menengah ke bawah, tetapi kaum kaya, bahkan kemungkinan ada deretan super kaya. Karena bagaimanapun, sudah rahasia umum bahwa hanya vendor-vendor besar dan yang terafiliasi dengan pengambil kebijakan yang memiliki SPPG ribuan jumlahnya.

Memang, dari sekian pemilik dapur besar yang kemungkinan tepat dalam mengimplementasi program MBG sepertinya hanya Muhammadiyah. Sebab persyarikatan ini dari sononya fokus pada dunia pendidikan, yang otomatis melibatkan orangtua, guru, dan petugas posyandu atau puskesmas dalam pengelolaan MBG.

Sebab, memang tiga unsur masyarakat itulah pihak yang paling memahami kebutuhan gizi dan kondisi anak. Namun, lagi-lagi tebersit perasaan ragu. Di lapangan tersiar kabar, beberapa sekolah Muhammadiyah justru menolak MBG. Artinya, pelibatan persyarikatan sebagai pengelola MBG lebih demi kepentingan ekonomi, juga politik.

Dalam bacaan pragmatis, mengingat demokrasi kita yang masih mentah ini, kita tak bisa tutup mata, Prabowo mencanangkan MBG sebagai prioritas, dengan lumbung Kopdes Merah Putih, berasa aroma kemenangan Pemilu 2029. Sehingga murni proyek berjarak pendek, bukan program demi mutu pendidikan anak bangsa. Dan Muhammadiyah, dalam hal ini sekali lagi tidak memainkan diri sebagai pressure group.

Nah, saya ingin lebih jauh soal MBG. Program yang semula dirancang sebagai solusi intervensi stunting nasional, dalam praktinya lagi-lagi terbaca oleh awam tidak lebih sebagai arena bagi-bagi konsesi ekonomi para elite politik dan aktor keamanan.

Jelas terdapat risiko kebocoran anggaran masif dalam rantai pasok operasional MBG. APBN yang sedianya untuk kelompok rentan seperti ibu hamil, bayi, dan balita di wilayah dengan prevalensi stunting tinggi justru menyusut drastis akibat korupsi di tubuh Badan Gizi Nasional (BGN).

Selain penyelewengan anggaran, tak kalah akut adalah adanya politisasi dan militerisme program. Seakan divisi pertahanan dan keamanan di negeri ini, jadinya semata pertahanan pangan. Pengelolaan dapur umum melalui SPPG serta penentuan vendor tidak berbasis pemberdayaan ekonomi lokal, tetapi dikuasai sepihak oleh jejaring partai politik, kepolisian, dan militer. Betul, fenomenal ordal yang sungguh-sungguh menyebalkan.

Alhasil, demokrasi kita hari-hari ini kian merosot begitu kritik dari masyarakat, mahasiswa, dan komunitas dianggap lebih sebagai lalat pengganggu stabilitas dan layak dikriminalkan. Dan saya tak habis pikir, kerja utama seorang Prabowo dan para menterinya justru sibuk ke sana kemari beretorika menangkis kritik. Saban pagi baca media terpapar pidato yang bak kampanye itu. Akankah terus-terusan begini? Tidak lelahlah mereka?

Padahal, kita sangat mafhum bahwa pemenuhan gizi anak bangsa tidak boleh dikorbankan demi kepentingan elite korup dan militeristik. Dan Kejaksaan Agung pun mesti bertindak tanpa pandang bulu demi menegakkan keadilan sosial dan kedaulatan pangan rakyat.

Tak ayal, sekira krisis ekonomi kita tak berujung gempa politik, supaya kita tidak terbelenggu oleh carut marut yang mengarah anarkis, hentikan MBG! “Lebih baik alihkan anggaran MBG ke sektor pendidikan, kesehatan, dan perlinsos untuk warga miskin,” tegas Annete Mau, aktivis Aliansi Ibu Indonesia.

Dengan kata lain, saya turut dalam barisan yang melantangkan: Hentikan program MBG, serta bubarkan SPPG dan Badan Gizi Nasional (BGN). Alihkan total Anggaran MBG ke sektor Pendidikan, Kesehatan, dan Perlindungan Sosial untuk masyarakat miskin dan rentan.

Oleh karena itu, akhirnya saya benar-benar menanti pidato Prabowo Subianto yang jujur mengatakan program ini gagal. Bahwa ternyata di sana sini terdapat penyimpangan anggaran yang dilakukan melalui penurunan kualitas makanan. Dapur SPPG menjadi privilege jaringan cukong kaya. Serta relawan-relawanlah yang jadi korban.

Demikianh! []

Ungaran, 18/7/2026

Baca juga: Dua Tipe

Posting Komentar

0 Komentar