“Astaghfirullahal 'adziim, kita sudah terkena sihir bangsa maju,” gerutu Muhammad Zuhri, yang akrab disapa Pak Muh, lewat tokoh Ubaid dalam buku Lantai-Lantai Kota.
Pak Muh
memprihatini wabah barang-barang impor yang membanjiri negeri ini. Seperti
nasib tetangga-tetangganya di desa, yang menjual sebidang tanah peninggalan
leluhur untuk membeli mobil. Mereka mengira mobil itu akan meringankan beban
hidup. Namun, seiring waktu, baik mobil maupun sawah justru hilang tak
berbekas.
Itulah keprihatinannya
bahwa kita telah tersihir oleh hasil produksi bangsa maju. Barang-barang yang
merangsang keinginan. Yang melengahkan kita dari kebutuhan primer. Akhirnya,
semua jadi berantakan, tidak jelas mana keinginan, mana kebutuhan.
Mengutip firman
Tuhan kepada Musa, “Janganlah kamu takut,
kamulah yang akan unggul. Lemparkan apa yang dipegang tangan kananmu, akan
menelan semua yang mereka bikin, perbuatan mereka adalah tipuan sihir.
Bagaimana pun tukang sihir tak akan menang.” (Thaha: 68-69).
Pak Muh mengetengahkan
bahwa seruan Allah Ta’ala kepada Musa a.s. itu juga berlaku buat kita, kewajiban
untuk mendayagunakan apa yang ada di tangan kanan, yakni daya kreatifitas. Sehingga,
pajangan sihir-sihir dari negara maju itu akan tetap tinggal sebagai pajangan, tak
sampai menyentuh hati, apalagi melekat.
Nah kini, di tengah kemelut kemajuan sains dan teknologi, di tengah
semangat digitalisasi, serasa tawaran Pak Muh tentang ajaran tasawuf masih
relevan. Malahan ia bertanya balik, “relevankah sikon globalisasi ini untuk
menempuh jalan sufi?”
Sebab menurutnya, sesuatu yang sudah jelas dan final secara konsep
tidak butuh lagi dipermasalahkan, tinggal suka memakainya sebagai way of life atau tidak. Kesufian adalah
perjalanan individu manusia yang meng-Allah, yang aktualisasinya merupakan tawaran
nilai kreatif kepada seluruh umat manusia. Nilai-nilai yang menuju Allah.
Dalam bukunya
yang lain, Secawan Cinta, Pak Muh
mengungkap, sejarah telah membuktikan bahwa umat manusia tidak membutuhkan sesuatu
dari luar untuk dapat melejit ke langit ketinggian. Justru revolusi spiritual dari
dalam dirilah yang terpenting. Ya, “jihad akbar” istilah dan tawaran Baginda Rasulullah
Saw., yang oleh para sufi dari zaman ke zaman direspon sebagai jalan tasawuf.
Jalan untuk
mendapatkan situasi “bebas dari” kendala asesoris-asesoris duniawi, dan
menggapai “bebas untuk" bermakna di tengah lingkungan. Maka, status hamba
Allah yang dicapai dengan ketaatan kepada Tuhan akan bisa turut mewarnai hidup,
dengan memfungsikan konsep kekhalifahan, wakil Tuhan.
Fungsi
kekhalifahan itulah, ungkap Pak Muh, yang vakum di benak bangsa-bangsa maju,
macam Amerika Serikat, atau dulu bangsa Romawi. Mereka terlalu dini mengklaim
sebagai polisi yang berhak membatasi bangsa lain. Berhak membanjirkan hasil
produksi ke negara berkembang.
Ya, bangsa-bangsa maju, berambisi menjadi pihak penentu dan kebijakan
rendah dalam memperlakukan manusia sebagai benda mati.
Itulah jiwa kapitalisme, yang melatari watak mereka, yang hanya
mengacu kepada pemilikan sarana secara berlimpah. Berorientasi keruangan, yang
kolonialis, imperialis, yang mengeksploitasi bumi hingga keropos. Dan, teknologi canggih senjata andalan mereka. Saking mantap dengan pusaka
andalan yang telah melumpuhkan alam, selanjutnya didayagunakan untuk menguasai
manusia.
Nah, sufi dari pantai utara Jawa itu melihat, orientasi sains dan
teknologi yang demikian pertanda kementahan spiritual. Dan, jelas akan gagal memandu
umat manusia sebagai satu keluarga besar bangsa manusia.
Maka, penting kita bertanya, masihkah kita mau menengok ajaran
tasawuf? Masih inginkah kita berlepas dari jeratan dunia milik? Berjarak dengan
tipuan-tipuan sihir dari negara maju?
Pada saat begini ini, saya sepakat, sangat setuju malahan, untuk
mengkaji-ulang Jalan Sufi yang pernah melahirkan individu-individu besar
berkualitas universal. Sehingga tak berlebihan, Pak Muh mengatakan, merekalah
yang sebenarnya lebih pantas disebut pionir globalisasi ketimbang manusia-manusia
modern dari bangsa maju yang gagal menawarkan hakikat diri.
Sebab para sufi itu lebih tulus dalam menyikapi sesama manusia, tanpa
pamrih selain ridla Allah. Mereka tak kenal putus asa dalam upaya turut mengembangkan
kualitas hidup umat manusia, agar menjadi pribadi penuh arti dengan menemukan
jalan pulang.
Lagian, metode sufi berbeda dengan tawaran Barat (yang “konon”modern dan
berpikir global itu). Dalam meng-Allah tidak seperti mencari informasi
keilmuan, tetapi dengan menyelami diri. Tidak dengan meneropong obyek di luar
diri, tapi penghayatan pantang bosan sang subyek pencari itu sendiri.
Karena secara fitri, kita, dalam kadar
tertentu, sesungguhnya telah terlatih merealisasi fungsi kekhalifahan (jalan
tasawuf) di lingkungan kecil. Misal, sikap perlindungan seorang ayah kepada
anak, sikap ramah dan manis kepada yang lebih muda, sikap hormat yang muda
kepada yang lebih tua, dan sebagainya.
Jadi, sebetulnya yang dibutuhkan adalah bagaimana sifat-sifat luhur yang sejak
dini telah disemaikan Allah itu bisa tumbuh optimal dan menyemesta. Menggarap
diri seakurat mungkin. Sehingga, tak perlulah mengadopsi metode dari mana pun, termasuk
mengimpor sihir-sihir yang justru meluruhkan harga diri.
Tegasnya, tutur sang Guru yang telah menuliskan hikmahnya dalam Lantai-Lantai Kota dan Secawan Cinta, kita tak butuh sarana teknis
lain, teknis dasar lain, dan baiat lain, selain yang diwariskan Baginda Rasulullah
Saw. yaitu Islam.
Dengan demikian, kita akan membuktikan
firman-Nya, “Janganlah kamu takut,
kamulah yang akan unggul. Lemparkan apa yang dipegang tangan kananmu, niscaya
menelan semua yang mereka bikin ….”
Ungaran, 09/07/2026

0 Komentar