Masih dari buku karya Muhammad Zuhri, Lantai-Lantai Kota. Diceritakan, si Ubaid teringat ayat suci yang menyatakan, siapa di dunianya buta, kelak di akherat ia akan buta dan lebih sesat lagi jalannya, Al-Isra: 72.
Saya jadi paham bahwa
ayat itu tidak sedang membahas sepasang indra mata yang kita miliki ini, tapi
mata yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanan jauh nanti. Mata yang tidak bakal
buta setelah Hari yang nggegirisi
nanti.
Ya, mata ini dapat
kita gunakan untuk menyaksikan pelayanan Tuhan kepada semua makhluk kapan dan
di mana saja. Mata yang mengetahui hadirnya perintah Allah pada setiap momen
kreatif di dalam proses sejarah. Dan mata yang mampu membedakan pengejawantahan
diri yang ilahi dan yang insani.
Mata ini pula, yang
jika sakit tiada dokter sanggup menyembuhkan. Jika kabur tak ada lensa yang
dapat menjelaskan.
Inilah mata yang
dulu dikaruniakan kepada para rasul, para nabi, para wali dan hamba-hamba-Nya
yang sungguh beriman. Dalam Secawan Cinta, Muhammad Zuhri menuturkan
bahwa kemampuan mata ini bersierat dengan ketepatan membaca, "Bacalah dengan nama Allah yang menjadikan."
(Al-Alaq: 1).
Artinya, saat membaca
setiap obyek, kita tidak memotong sesuatu dari asalnya, sang sebab atau Tuhan
yang menjadikan. Sehingga, kita akan memperoleh pemahaman secara utuh. Kita tidak
jatuh mengkultuskannya sebagai sesembahan, dan tidak merendahkannya sebagai
yang nista.
Dan yang terpenting, kesadaran
bahwa yang kita baca itu ada berkat dukungan berjuta sebab yang menyusun
sejarah jadinya. Ada proses evolusi alam yang menjadikannya tampak
sempurna. Ada berkat pelbagai disiplin ilmu, dan atau keterlibatan para
kreatif. Suatu jasa alam dan budaya, oleh Al-Qur’an, diistilahkan “pena”, "Yang
mengajar manusia dengan pena.” (Al-Alaq: 4).
Sehingga, makna “pena” adalah
rentetan sebab yang mendukung lahirnya sesuatu. Yang menyadarkan adanya jasa
semesta. Yang menuntut untuk utuh dengan semesta dalam arus kreatif yang
tak kunjung henti itu. Serta yang menuntut pertanggungjawaban, sedianya kita mengungkap
kemungkinan baik, sekaligus membendung kemungkinan buruk, amar ma’ruf nahi
mungkar.
Yang demikian membuktikan
daya baca: memahami perintah Allah yang tampil di balik segala yang tampak, "Mengajar
manusia tentang sesuatu yang tak diketahui" (Al-Alaq: 5).
Syahdan, wahyu pertama itu menuntut kesanggupan membaca kenyataan
secara akurat. Bahwa kenyataan merupakan
tempat Yang Mahanyata menyatakan
diri untuk melayani,
mengembangkan, serta melindungi makhluk. Enteng
kata, kenyataan yang berwujud benda,
manusia dan peristiwa itu
hakikatnya berwajah dua: ciptaan dan perintah.
Tatkala menghadapi kenyataan dan yang tampak adalah sisi
“ciptaan”, kita bersemangat mengungkap segala yang tersimpan di dalamnya.
Namun, jika yang tampak sisi “perintah”, kita akan kehilangan
hak menyentuhnya sesuka hati.
"Ketahuilah di bawah kekuasaan Allahlah
segala makhluk dan segala urusan. Mahaberkah Allah Pencipta Alam Semesta." (Al-A’raf: 54.).
Nah, menyaksikan “urusan” yang melatarbelakangi setiap “makhluk” sama artinya menyaksikan
Wajah Allah, yang oleh para Sufi dipandang sebagai kematian agung yang
bernuansa abadi. "Ke mana saja engkau
menghadap, di sanalah Wajah Allah." (Al-Baqarah:115)
Dan Muhammad Zuhri menggambarkan bahwa
menyaksikan Wajah Allah itu persis keadaan orang yang telah meninggal. Tampil tanpa mempertahankan
martabat dan harga diri dan tidak pula bersandar pada apa yang telah dimiliki mulai dari harta,
ilmu-pengetahuan, amal perbuatan dan
prestasi-prestasinya.
Ia tidak lagi terpesona oleh apa pun, tidak pula
meminta sesuatu pun, dan bahkan tidak pernah mengadukan perihal apa pun. Sehingga, ia tak lagi
jinak kepada siapa pun, karena telah mendapatkan Allah yang tak tertandingi.
Jelasnya, betapa mustahil kita akan sanggup membaca Perintah Tuhan atau
menyaksikan Wajah-Nya itu sebelum kita mati. Dan “mati” di sini
adalah telah selesai dengan persoalan
diri sendiri. Kita
merasa telah terpanggil untuk
mengurusi masalah yang lebih besar, masalah umat manusia dan persoalan
lingkungan alam.
“Istirahatkan dirimu dari berupaya (untuk
kepentingan diri). Karena apa yang telah ditegakkan oleh selain dirimu (Allah),
tak perlu engkau bersusah payah menegakkannya untukmu.” Ungkap
Syekh Ibnu Athaillah.
Demikian. []

0 Komentar